“Bisa temani grup berkunjung ke pulau Le Mont-Saint-Michel ?”, sang partner melempar tawaran kepadaku.
“Siap ! “, jawabku dengan mesra.
Partner pun berkomunikasi dan merancang dengan tamu perihal waktu dan persiapan. Grup ini terdiri dari lima orang pengajar hebat dari salah satu Institusi pendidikan Politeknik di Sumatera Barat.
Mereka berkunjung ke Eropa menghadiri pertemuan the fourth ASIA-EUROPE Conference on AETECH 2026 di Slovakia, dikomandoi oleh bapak Rahmat Hidayat. Sepak terjang mereka melakukan konferensi sudah melalang buana baru-baru ini.
Bapak-bapak ini sangat solid yang berjiwa petualang. Selesei acara pertemuan di Slovakia sana, mereka menyinggahi beberapa hari kota Paris dan juga berkunjung ke tempat wisata yang bernama Le Mont-Saint-Michel. Saat D-day ke Le Mont-Saint-Michel, penjelajahan dengan para bapak-bapak hebat ini dilaksanakan pada hari kamis, 11 Juni 2026.
Le Mont-Saint-Michel merupakan sebuah pulau berbatu yang berada di wilayah Normandi, Prancis. Tempat ini menjadi ikon wilayah Normandi tersebut, juga ikon wisatanya negara Prancis. Struktur pulau yag berbukit ini sangat unik, bila air pasang laut surut, para pengunjung dapat berjalan di jembatan darat yang sudah di bangun.
Tetapi bila air pasang laut naik, jangan berharap bisa berkunjung dengan angkutan darat atau berjalan kaki menuju pulau tersebut. Pulau ini akan tertutup oleh lautan yang berjarak lebih kurang satu kilometer dari arah bibir pantai pesisir utara Prancis dan akan terlihat menjadi sebuah kastil terapung. Pesona kastil inilah menarik orang-orang datang untuk menjawab rasa penasaran mereka, bahkan menjadi inspirasi kastil di cerita animasi dunia Disney. Sebenarnya diatas kastil itu adalah bangunan pertapaan atau Monastik sebuah gereja. Sebelum ada bangunan itu, pulau ini bernama Mont Tombe.
Legenda menyebutkan malaikat Mikael muncul dalam mimpi Santo Aubert, seorang uskup Avranches yang memintanya membuat tempat suci memakai nama malaikat tersebut. Dan komunitas Benediktin pun membangun gereja pertama di pulau ini dan berubah nama menjadi Le Mont-Saint-Michel.
“Kastil terapung ?”, bapak-bapak itu tambah penasaran.
Penjelajahan aku bersama grup dimulai berangkat dari kota Paris. Tidak susah mengunjunginya. Menaiki transportasi kereta api dengan durasi tempuh empat jam perjalanan dari stasiun Montparnasse menuju stasiun Pontorson Mont St Michel. Lima belas menit transit, dilanjutkan perjalanan menggunakan bus selama dua puluh tujuh menit menuju langsung ke tempat tujuan pulau tersebut. Perjalanan kami lakukan pukul 7.32 hingga kami sampai pukul 12.07.
“Explore pun di mulai !”.

Saat tiba dan menuruni bus, budaya photo selfie langsung bergerak. Tanpa pikir panjang, mereka bergaya bermacam-macam pose di depan kamera dengan background belakangnya pulau kastil tersebut. Baik photo bersama maupun seorang diri. Maklumlah, tindakan ini merupakan bukti kenang-kenangan tanda sudah menginjak tempat di wilayah ini yang harus di abadikan di dalam handphone maupun jejaring media sosial. “Keren bukan ?”.
Aku berpikir perjalanan di hari kamis minim dari keramaian karena waktu hari bekerja. Realitanya, pengunjung datang sangat ramai di musim semi ini akibat banyaknya rombongan anak-anak sekolah yang kebanyakan dari Prancis, bahkan rombongan anak-anak sekolah yang berasal dari negara tetangga Great Britain, melakukan study tour.
Belajar sejarah sambil jalan-jalan, menjadikan anak-anak sekolah ini menambah wawasan dan belajar menciptakan ide-ide dari sejarah pulau kastil ini. Puas dengan selfie ria di depan pulau, aku membawa mereka masuk jalan-jalan mendaki mengelilingi pulau ini yang seperti benteng pertahanan.
Saat masuk ke atas kastil gereja, terlihat antrian keramaian yang panjang akibat jumlah pengunjung yang besar menyebabkan bapak-bapak ini menghentikan niat mereka masuk menuju ke atas kastil ini. Setelah makan siang di pinggang pulau sambil menikmati pemandangan di bawah.
Perasaan kecewa dengan suasana yang ramai tadi terbalaskan, dengan mengajak mereka kembali turun menuju ujung awal jembatan yang dibawahnya terlihat rumput untuk berphoto selfie ria. Terlihat bahwa grup yang aku temani ini lebih menikmati perjalanan dengan berphoto selfie ria dari pada mendalami cerita sejarah di pulau ini.

Puas dengan pose-pose photo di bawah jembatan yang bertepatan waktu kembali ke Paris, kami pun kembali menuju pemberhentian Bus untuk menunggu sambil berjalan menyusuri jembatan. Air laut yang siang tadi tidak terlihat disekiling pulau, mulai terlihat pasang naik.

Bus pun membawa kami kembali ke tempat stasiun transit Pontorson Mont-Saint-Michel menuju stasiun kereta tujuan Paris. Saat berada di dalam kereta, selesei shalat jamak ta’khir dzuhur dan ashar dengan posisi duduk di dalam kereta, rombongan bapak-bapak ini pun langsung mengusir lelah setelah menjelajah pulau kastil ini dengan terlelap tidur membawa mereka ke alam mimpi seakan menjadi inspirasi.
Saking lelahnya kepuasan menjelajah ini, terlihat cara tidur mereka dengan suasana wajah dengan mulut menganga. Beruntung di dalam kereta ini tidak ada lalat yang akan hinggap ke mulut terbuka itu. Akhirnya, satu jam sebelum tengah malam, kami pun kembali sampai di kota Paris.
