Penjelajahan Le Mont-Saint-Michel

“Bisa temani grup berkunjung ke pulau Le Mont-Saint-Michel ?”, sang partner melempar tawaran kepadaku.
“Siap ! “, jawabku dengan mesra.

Partner pun berkomunikasi dan merancang dengan tamu perihal waktu dan persiapan. Grup ini terdiri dari lima orang pengajar hebat dari salah satu Institusi pendidikan Politeknik di Sumatera Barat.

Mereka berkunjung ke Eropa  menghadiri pertemuan the fourth ASIA-EUROPE Conference on AETECH 2026 di Slovakia, dikomandoi oleh bapak Rahmat Hidayat. Sepak terjang mereka melakukan konferensi sudah melalang buana baru-baru ini.

Bapak-bapak ini sangat solid yang berjiwa petualang. Selesei acara pertemuan di Slovakia sana, mereka menyinggahi beberapa hari kota Paris dan juga berkunjung ke tempat wisata yang bernama Le Mont-Saint-Michel. Saat D-day ke Le Mont-Saint-Michel, penjelajahan dengan para bapak-bapak hebat ini dilaksanakan pada hari kamis, 11 Juni 2026.

Le Mont-Saint-Michel merupakan sebuah pulau berbatu yang berada di wilayah Normandi, Prancis. Tempat ini menjadi ikon wilayah Normandi tersebut, juga ikon wisatanya negara Prancis. Struktur pulau yag berbukit ini sangat unik, bila air pasang laut surut, para pengunjung dapat berjalan di jembatan darat yang sudah di bangun.

Tetapi bila air pasang laut naik, jangan berharap bisa berkunjung dengan angkutan darat atau berjalan kaki menuju pulau tersebut. Pulau ini akan tertutup oleh lautan yang berjarak lebih kurang satu kilometer dari arah bibir pantai pesisir utara Prancis dan akan terlihat menjadi sebuah kastil terapung. Pesona kastil inilah menarik orang-orang datang untuk menjawab rasa penasaran mereka, bahkan menjadi inspirasi kastil di cerita animasi dunia Disney. Sebenarnya diatas kastil itu adalah bangunan pertapaan atau Monastik sebuah gereja. Sebelum ada bangunan itu, pulau ini bernama Mont Tombe.

Legenda menyebutkan malaikat Mikael muncul dalam mimpi Santo Aubert, seorang uskup Avranches yang memintanya membuat tempat suci memakai nama malaikat tersebut. Dan komunitas Benediktin pun membangun gereja pertama di pulau ini dan berubah nama menjadi Le Mont-Saint-Michel.  

“Kastil terapung ?”, bapak-bapak itu tambah penasaran.

Penjelajahan aku bersama grup dimulai berangkat dari kota Paris. Tidak susah mengunjunginya. Menaiki transportasi kereta api dengan durasi tempuh empat jam perjalanan dari stasiun Montparnasse menuju stasiun Pontorson Mont St Michel. Lima belas menit transit, dilanjutkan perjalanan menggunakan bus selama dua puluh tujuh menit menuju langsung ke tempat tujuan pulau tersebut. Perjalanan kami lakukan pukul 7.32 hingga kami sampai pukul 12.07.

“Explore pun di mulai !”.

Saat tiba dan menuruni bus, budaya photo selfie langsung bergerak. Tanpa pikir panjang, mereka bergaya bermacam-macam pose di depan kamera dengan background belakangnya pulau kastil tersebut. Baik photo bersama maupun seorang diri. Maklumlah, tindakan ini merupakan bukti kenang-kenangan tanda sudah menginjak tempat di wilayah ini yang harus di abadikan di dalam handphone maupun jejaring media sosial. “Keren bukan ?”.

Aku berpikir perjalanan di hari kamis minim dari keramaian karena waktu hari bekerja. Realitanya, pengunjung datang sangat ramai di musim semi ini akibat banyaknya rombongan anak-anak sekolah yang kebanyakan dari Prancis, bahkan rombongan anak-anak sekolah yang berasal dari negara tetangga Great Britain, melakukan study tour.

Belajar sejarah sambil jalan-jalan, menjadikan anak-anak sekolah ini menambah wawasan dan belajar menciptakan ide-ide dari sejarah pulau kastil ini. Puas dengan selfie ria di depan pulau, aku membawa mereka masuk jalan-jalan mendaki mengelilingi pulau ini yang seperti benteng pertahanan.

Saat masuk ke atas kastil gereja, terlihat antrian keramaian yang panjang akibat jumlah pengunjung yang besar menyebabkan bapak-bapak ini menghentikan niat mereka masuk menuju ke atas kastil ini. Setelah makan siang di pinggang pulau sambil menikmati pemandangan di bawah.

Perasaan kecewa dengan suasana yang ramai tadi terbalaskan, dengan mengajak mereka kembali turun menuju ujung awal jembatan yang dibawahnya terlihat rumput untuk berphoto selfie ria. Terlihat bahwa grup yang aku temani ini lebih menikmati perjalanan dengan berphoto selfie ria dari pada mendalami cerita sejarah di pulau ini.

Luapan Euforia di depan Kastil

Puas dengan pose-pose photo di bawah jembatan yang bertepatan waktu kembali ke Paris, kami pun kembali menuju pemberhentian Bus untuk menunggu sambil berjalan menyusuri jembatan. Air laut yang siang tadi tidak terlihat disekiling pulau, mulai terlihat pasang naik.

Selfie di bawah bendera yang berkibar

Bus pun membawa kami kembali ke tempat stasiun transit Pontorson Mont-Saint-Michel menuju stasiun kereta tujuan Paris. Saat berada di dalam kereta, selesei shalat jamak ta’khir dzuhur dan ashar dengan posisi duduk di dalam kereta, rombongan bapak-bapak ini pun langsung mengusir lelah setelah menjelajah pulau kastil ini dengan terlelap tidur membawa mereka ke alam mimpi seakan menjadi inspirasi.

Saking lelahnya kepuasan menjelajah ini, terlihat cara tidur mereka dengan suasana wajah dengan mulut menganga. Beruntung di dalam kereta ini tidak ada lalat yang akan hinggap ke mulut terbuka itu. Akhirnya, satu jam sebelum tengah malam, kami pun kembali sampai di kota Paris.       

Selfie ria seperti anak band

Tentang Awak

Bonjour/Hallo,

Bienvenue sur Canal IndraFrancdo / Selamat datang di Blog-Awak

‘Tak kenal, maka tak sayang’, selain dari kata pepatah, kata ini juga merupakan judul lagu countrynya ‘Om Iwan Fals’, coba deh baca blog-awak ini sambil mendengarkan lagunya.

‘Ting! ting! ting!’, (suara notification whatsapp Iphoneku), ada yang nge-japri via pesan. ‘Ndra, pengalaman kamu di negeri Hexagon bisa di bukuin tuh’, ucap salah satu tamu yang aku pandu serta bimbing selama perjalanan mengelilingi kota romantis ‘Paris’.

Kebetulan, dia dan keluarganya sedang menunggu di ruang tunggu untuk melanjutkan perjalanan pulang ke tanah air memakai transportasi burung besi di bandara yang bernama Presiden Prancis (Republik kelima),’Charles de Gaule’/Aéroport CDG-étoile’.

‘Siapa tau, di buku nanti ada cerita aku dan keluargaku ketika kamu menemani kami di kota sejarah ini, setidaknya suatu kebanggaan bagi anak dan keturunan kami di kemudian hari nanti. Sampai jumpai lagi !’, tambahan pesan dari si bapak itu.   

Siapa ‘Awak’ ?, awak bernama INDRA FRANCDO. Panggil aku Indra, sedangkan Francdo nama penaku atau initial agar lebih cepat dikenali. Aku bukan keturunan bule, tetapi generasi turunan Indonesia, Abahku orang Sunda Tasikmalaya dan Mandeku orang Minang Padang. yah blasteran SuMin lah, alias (Sunda Minang), hehehehe…….

‘Paris Lumiere de l’Amour’, tulisan ‘Rosita Sihombing’,memotivasiku untuk datang dengan berani hingga berdomisili di negara ini. Aku bertemu dan berkenalan dengan sang hijab traveler inibersama suami-Prancisnya mualaf ‘bang Patrick’ beserta anaknya si tampan‘Ilhan’, yang pernah menjadi aktor di salah satu film indonesia.

Kemudian, ‘Paris, c’est ma vie’ dan  ‘Voila, La France’ buku karya sang istri mantan diplomat di Paris ‘Lona Hutapea’, menambah pengetahuan aku tentang kehidupan di sini meskipun belum bertemu sang penulis. Ditambah lagi ‘Penumpang gelap’, ‘Paris, je reviendrai’, dan ‘Lurah Paris’ dalam rangkaian hikayat ‘Alijullah Hasan Jusuf’, menyeret aku terus mengenal tentang negara ini dari gaya hidupnya ketika berkenalan langsung dengannya.

Lalu tulisan ‘Ayah’ dari ‘Irfan Hamka’ tentang ayahnya sang sastrawan intelektual organik ‘Buya Hamka’, menjerumuskan aku untuk selanjutnya mengulang-ulang membaca kembali karya-karya bapaknya, ‘Tenggelamnya kapal Van Der Wijck’, ‘Merantau ke Deli’, ‘Terusir’, ‘Di tepi sungai Dajlah’, ’40 hari di Amerika’, dan banyak lagi. Tak hanya itu, aku semakin tergelincir dalam karya si ‘Tere liye’ yang bukan nama asli si penulis. ‘Pulang’, ‘Pergi’, ‘Pulang-Pergi’, ‘Risalah shalat Delisa’, ‘Tentang kamu’, ‘Rembulan tenggelam di wajahmu’, and etc, menemani aku membunuh waktu dalam perjalanan di transportasi kereta TGV, Metro, RER bahkan hanya duduk-duduk di taman-taman kota Paris sambil menikmati sinaran matahari.

Aku pun mencoba bertahan akibat terbawa arus bahkan hilang dalam lautan si ‘JS Khairen’ seperti ‘Rinduku sederas hujan hujan sore itu’, ‘Kami (bukan) sarjana kertas’, ‘Kami (bukan) jongos berdasi’, ‘Melangkah’, ‘Kami (bukan) generasi bacot’, ‘Kami (bukan) fakir asmara’, ‘Kado Terbaik’, ‘Bumkam suara’, ‘Dompet ayah Sepatu Ibu’, yang semua itu belum di tandatangani dia. Aku pun juga berenang dan menyelam dalam karya Andrea Hirata yang pernah sekolah di Paris, seperti ‘Laskar Pelangi’ dan ‘Sang Pemimpi’, dan banyak lagi karya-karya lainnya membuat isi rak-rak buku di rumahku tersusun berantakan.

Ketika salah seorang founder Stand-Up Comedy berkata, ‘kalau bukan karena Mas ‘Hilman Hariwijaya’, saya tidak akan menjadi seorang penulis’. Aku tahu itu, pasti cerita ‘Lupus’ menjadi inspirasi sang founder Stand-up comedy ini. Aku pun jadi teringat, masa remajaku waktu di Zaman Senior High School juga menyukai buku cerita tentang ‘Lupus’, waktu dulu pada jamannya , selera yang sama dengan Mas Radit yang bergelar penulis, komika, sutradara, bahkan podcaster ini.

Halo perempuan bangsawan yang sudah menikah Mas RA ditya, RADITYA, itu orang biasa yang belum menikah’, roastingnya sang kontestan stand up comedy Dodit. ‘Mas Radit, senyum aja gak usah di tahan-tahan’, bulu hidung mu itu loh Mas, bergoyang-goyang’, tambah mas Dodit lagi.  ‘Mas Radit, Salam kenal dari aku’….(berharap sang komika membaca ini, huahahahaha…).

Sebuah kapal pun bersandar milik seorang penulis dan motivator yang kebetulan datang berada di negeri Napoleon. Sosok ‘Benny Arnas’ yang tidak pelit dan sukarela berbagi ilmu mengajak aku berlayar lebih dalam mengenai dunia literasi. Dia pun memberi peluru ‘Bulan madu Matahari’, hingga aku pun mendapat inspirasi dari deskripsi ceritanya tentang perjalaan petualangan menjadi karya ‘Ethile ! Ethile !’.

Bahkan di kota cahaya ini, dia membantu aku membuat kapal mulai dari bahan kayu, design model, hingga mesin-mesin motor nanti di pasang di dalam kapalku untuk aku berlayar di lautan literasi dengan aman.

Di pengajian Paris, aku ingat seorang profesor MIPA dan peneliti yang singgah bersilaturahmi di ‘Paris’ memberi kajian hubungan Al-khaliq dengan struktur dan reaksi kimia.

Hal ini memberi aku kesadaran akan arti hidup. ‘Profesor Witri Wahyu’ yang merupakan fans dari sorang peneliti terkenal di Prancis ‘Marie Currie’ dan menyadari kekurangan dari karya sang peneliti ini bila dihubungkan dalam kehidupan sang peneliti ini.

Aku sendiri menyadari tentang nilai-nilai hidup. Kita tidak hanya hidup untuk bertahan hidup, tetapi berilah nilai dalam arti sebuah hidup. ‘Apa yang engkau bawa mati pada suatu saat nanti ?’, ada tiga perkara, salah satunya ilmu bermanfaat. Nah… tidak ada salahnya berbagi ilmu yang baik dengan meninggalkan aksara di dunia, mudah-mudahan menjadi contoh dalam kebaikan dan maanfaat dalam beribadah.

Manusia diciptakan berbeda-beda, tidak seperti malaikat. Untuk itu, kehidupan manusia berjalan melalui proses. Proses demi proses inilah yang akan menjadi nilai hidup untuk kebaikan dalam beribadah. Mudah-mudahan blog ini menjadi kebaikan dan manfaat bagi kita semua terutama untuk diriku, anak-anakku dan keturunanku…….itulah tujuan blog ini aku tulis, meskipun seorang blogger baru, aku suka belajar dan berbagi.

Saat Eiffel ikut membaca

Mau lebih tahu lagi tentang hidup dan kehidupan di Paris, Prancis dan Eropa….jangan sungkan menghubungi dan mengontak aku bila hendak liburan atau dalam perjalanan mengunjungi kota Romantis ini… Aku siap menjadi guide dan teman dalam menemani bahkan bersedia mendokumetasikannya dalam photo maupun video….ataupun menyusun program perjalanan jalan-jalan di Paris hingga ke Eropa….Tak kenal maka tak sayang !

Ikuti terus membaca blog ini, jangan bosan, silahkan berkomentar dan Aku ucapkan, Selamat membaca !!

SALUT !

Kehidupan Masyarakat Islam Indonesia di Prancis

Hidup di negara minoritas sebagai seorang muslim mengalami banyak tantangan hingga memberi kesan pengalaman tersendiri dalam berinteraksi.

Itulah yang saya alami di negara Prancis dan Eropa, tempat saya berdomisili hingga saat sekarang ini. Semua kesulitan dalam berinteraksi tersebut tidak mempersulit saya dalam menjalankan ibadah di negara yang menganut sistem laïcite mengartikan pemisahan pemerintahan dengan agama atau disebut sekulerisme.

Namun sejatinya bagi Prancis, laïcite itu tidak sama dengan Sekulerisme meskipun sama-sama pemisahan lembaga negara dari lembaga agama. Kenapa laïcite ? Karena negara Prancis dulunya mempunyai sejarah kelam tentang pemisahaan negara dengan gereja. Prancis yang memiliki moto Libérté, égalité, fratérnité ( Kebebasan, keadilan, persaudaraan ), mengartikan negara Prancis menjamin setiap orang memiliki kebebasan termasuk bebas mempunyai hak untuk beragama dengan damai dalam masyarakat yang beragam.

MUSLIM INDONESIA DI PRANCIS

            Melaksanakan shalat jumat di KBRI Paris, saya pun bergabung dan berinteraksi dalam komunitas yang bergerak dalam kegiatan masyarakat bersifat keagamaan bernama Perhimpunan Masyarakat Muslim Indonesia Prancis atau lebih dikenal dengan PERMIIP di bawah naungan KBRI Paris.

PERMIIP yang selalu melakukan acara interaksi mengokohkan muslim Indonesia-Prancis sebagai momen silahturahmi serta memperkuat ukhuwah islami sesama muslim indonesia di negara minoritas ini, baik antar sesama diaspora, pelajar, ataupun orang-orang muslim Prancis yang berhubungan dengan orang-orang indonesia sendiri.

Adapun kegiatan PERMIIP seperti dakwah pengajian setiap bulan dengan Ustad baik dari pelajar yang sekolah di Prancis maupun ustad yang datang dari  Indonesia. Pada tahun 2014 kala itu banyak Ekspatriat Indonesia yang masa kontrak kerja mereka selesei terutama di perusahaan TOTAL Prancis.

Mereka memberikan sumbangan besar berupa dana kepada PERMIIP dalam rangka pengharapan didirikannya mesjid Indonesia di Prancis. Sumbangan yang kala itu diterima oleh ketua PERMIIP bapak Arifi yang merupakan diplomat KBRI masih belum terlaksana hingga saat ini dikarenakan tidak mudahnya perizinan pembangunan mesjid di negara Prancis.

Saya pun ingat orang-orang diplomat KBRI yang telah sukarela dan ikhlas mengkordinir kegiatan-kegitan PERMIIP dari tahun ke tahun diantaranya ; Bpk. Arifi, Novic, Rudjimin, Warsito, Ihsan, Alimi, Aries serta Dimas.

PENGAJIAN AR-RAUDAH PARIS

            Pada tahun 2015, istri DCM KBRI Prancis kala itu bernama Ibu Wati membentuk perkumpulan pengajian Ibu-ibu yang awal anggotanya istri-istri para ekspatriat yang suami-suami mereka bekerja di perusahaan TOTAL Prancis.

Pengajian ini khusus hanya untuk perempuan atau istri-istri yang tinggal di kota Paris, bertujuan mengisi kekosongan waktu kegiatan mereka dengan kegiatan positif.

Berjalannya waktu, AR-Raudah menambah keanggotaan mereka dari perempuan masyarakat umum dan ibu-ibu diaspora lainnya dimana para istri yang suami mereka bekerja di perusahaan TOTAL mengharuskan mereka kembali ke tanah air dikarenakan masa kontrak kerja sudah berakhir. Kemudian, ditambah lagi beranggotakan pelajar-pelajar muslimah di Paris sehingga berjumlah lebih luas.

Aktifitas Ar-raudah tidak hanya berfokus kepada pengajian ibu-ibu setiap bulan, tetapi ikut berpartisipasi bersama PERMIIP, berkolaborasi mengadakan pengajian offline untuk anak-anak Indonesia di Paris maupun keluarga campuran Indonesia-Prancis. Saat ini , Ar-raudah diketuai oleh ibu Yenyen yang secara tulus mengkordinir acara pengajian setiap bulannya baik secara daring maupun offline memberikan semangat antusias perempuan muslimah indonesia di kota Paris dan sekitarnya.

MAJELIS PENGAJIAN AL HIJRAH DI LYON

Prancis sebelah timur terdapat kota Lyon yang merupakan kota besar ketiga setelah kota Paris dan Marseille. Kota ini terkenal dengan kota tuanya yang terdaftar di UNESCO, Vieux Lyon.

Kota ini menarik saya untuk explore berkunjung jalan-jalan sambil bersilaturahmi dengan orang muslim Indonesia di kota ini. Hingga saya menemukan Majelis pengajian Al-Hijrah Lyon. Singkat sejarah, komunitas pengajian ini awalnya didirikan seorang Dr. Arie Fitria yang sebelumnya seorang mahasiswi indonesia di Universitas Lumiére Lyon 2.

Setelah tamat dan harus kembali ke Indonesia mengajar di UNILA Lampung, pengajian ini berlanjut yang di ketuai oleh Mpok Poppy seorang Diaspora Indonesia bersuamikan orang Prancis keturunan Aljazair. Nama Al Hijrah sendiri diberi nama oleh sang ketua karena beliau berhijrah hingga memakai hijab sampai sekarang dari tahun 2015, dan komunitas pengajian ini pun resmi diberi nama Al Hijrah dari tahun 2016.

Komunitas yang sebulan sekali mengadakan silahturami pengajian, saat ini diketuai mbak Eka bersama mpok Poppy sendiri. Bila ada waktu luang dan sesuai jadwal, sesekali saya ikut dalam pengajian mereka sambil jalan-jalan dan explore di kota Lyon atau pun kota-kota terdekat untuk mengikat silahturahmi persaudaraan senasib di daerah perantauan.

MAJELIS PENGAJIAN PRANCIS ( MPP ) DI MONTPELIER

            Prancis bagian selatan terdapat kota Montpellier. Di kota ini, seorang Diaspora Indonesia bernama Dini Kusmana Massabuau mendirikan komunitas Majelis Pengajian Pancis ( MPP ). Teh Dini Sang foundateur situs Suratdunia.com mendirikan komunitas ini bertujuan merangkul para diaspora muslimah yang rindu akan perkumpulan dalam grup pengajian.

Meskipun komunitas ini banyak beraktifitas daring dan sesekali berkumpul secara Offline setahun sekali, terutama di pertemuan berbuka bersama setiap bulan ramadhan.

Adapun aktifitas mereka sejak berdiri Maret 2018, belajar membaca Al quran bersama diiringi pengajian yang banyak diisi oleh Ustadz Aep Saepudin pimpinan pesantren MD Fadhillah. Karena pengajian ini banyak dilakukan secara daring atau online, maka tidak hanya orang-orang Indonesia di kota Montpelier saja yang berpartisipasi, tetapi di seluruh kota di Prancis bahkan ada yang berasal di negara lain di Eropa.

PIMPINAN CABANG ISTIMEWA MUHAMMADIYAH ( PCIM ) PRANCIS

            Komunitas pengajian kader Muhammadiyah pun berdiri di Prancis berkontribusi dalam kajian dakwah dan komunikasi. Komunitas yang sempat vakum dan kembali lahir di tahun 2019 berfokus pada penguatan eksistensi dari organisasi ini.

Komunitas ini juga melakukan pengajian pertemuan sebulan sekali yang sering dilaksanakan di kota Paris, dikarenakan keanggotaan yang banyak berdomisili di kota ini. Pengajian PCIM yang diketuai oleh Diaspora muslim Fakhrudin Arozzi S.H.I, M.S. yang saat ini menempuh kuliah doktoralnya, terlihat beraktifitas dalam kolaborasi terhadap komunitas dan organisasi lain dalam memperluas dakwah yang efektif.  

            PERMIIP yang didukung KBRI bersama pengajian Ar raudah, Al hijrah, MPP dan PCIM serta masyarakat muslim indonesia lainnya baik diaspora dan pelajar Indonesia selalu berkolaborasi dalam mewujudkan kegiatan masyarakat dalam hal keagamaan, kesenian, olahraga dsb.

Masyarakat muslim Indonesia di Prancis yang haus akan dakwah dan ilmu agama sesekali melakukan pengajian mengundang para ustadz yang datang dari Indonesia seperti Ustadz Adi Hidayat pada tahun 2019, Ustadz Firanda Andirja Abidin pada tahun 2018, Ustad Khalid Basalamah pada tahun 2018 dan 2025.

Bahkan PERMIIP setiap bulan ramadhan selalu aktif mengundang para ustadz selama sebulan sebagai bagian perwujudan kerinduan diaspora Indonesia di Prancis terhadap ilmu agama, diantaranya :

  • Ustadz Arrazy Hasyim ( tahun 2016, kolaborasi dompet dhuafa )
  • Ustadz Arrazy Hasyim ( tahun 2017, kolaborasi dompet dhuafa )
  • Ustadz Jauhar Ridloni Marzuq ( tahun 2018, kolaborasi dompet dhuafa )
  • Ustadz Muhamad Zen ( tahun 2019, kolaborasi dompet dhuafa )
  • Ustadz Yendri Junaedi LC ( tahun 2020 versi online karena Covid )
  • Tahun 2021 hingga 2022 masih suasan covid ( banyak beraktifitas daring atau online )
  • Ustadz M. Abdul Kholiq Hasan ( tahun 2023, kolaborasi dompet dhuafa )
  • Ustadz Dr. Akhmad Ikhwani  ( tahun 2024, kolaborasi UIN Lampung )
  • Ustadz Ahmad Zulfikar ( tahun 2025, kolaborasi dompet dhuafa )
  • Ustadz Rizki Hegia Sampurna ( tahun 2026, kolaborasi dompet dhuafa )

Kami (Bukan) Sarjana Kertas

Kami (bukan) Sarjana Kertas di Paris

Kami (Bukan) Sarjana Kertas menceburkanku tenggelam dalam dunia kehidupan Mahasiswa. Awal kenal tentang buku ini, saat iseng-iseng melakukan  skrol-skrol IG dan FB dalam pencaharian buku-buku asyik untuk mengusir waktu percuma dalam perjalanan dan membunuh waktu tak berarti di saat-saat kekosongan hari.

Akhirnya, papan selancar internet berhenti tertuju kepada seorang penulis saat ngonten di IGnya di Terminal Bandara BIM Padang yang baru mendarat nan hendak menghadiri acara diskusi atau apalah bagi orang umum dan bagi Mahasiswa-i Universitas UNP Padang dan Pustakasteva.

Yang bikin tafakur, saat dia berbicara berbahasa daerah…’heee urang Minang abang ko kiro ee, tapi ba a kok Jombang namo abang bang ? itu kamu, hp kamu indak kamu pakai khan ? Campak an, agiah an ka ayam lei’…
‘Karambiah! ongeh gaya abang ko lei !’, dalam hatiku berkata.

Saatku searching lebih dalam di Google tentang si penulis ini, mataku terbelalak-terbelalak membaca biography dan karyanya. Benar-benar ketinggalan aku yang tidak optudet ( Up to date ) saat ini.

Kukirim pesan ke keluargaku di kota Bengkuang, ‘Tolong balian buku karya paja ko di Gramed yo !‘, pintaku mendesaknya untuk dibelikan. Sebulan kemudian, kumpulan hasil tinta ketikan karyanya mendarat di kota PARIaman dan Sekitarnya alias Paris. Pertama,

Aku explore karyanya Kami (Bukan) Sarjana Kertas. Aku penasaran apa maksud paja Jombang ko mendeskripsikan kelompok pelajar yang menjadi Maha ini diceritakan. Kocak, gengsi, egoisme, keseriusan, selow, kecewa, ambisi, motivasi, serta menghasilkan dan tidaknya sebuah kertas berlabel Sarjana.

Detailnya aku tidak berkomentar tentang isi cerita…kalau kamu-kamu mau tau isi ceritanya, ya  beli lah ! sekalian minta tanda tangannya biar bertanda bahwa kamu beli buku yang bukan bajakannya….atau pinjam sono di pustaka-pustaka yang tersedia. Semangat membaca!!…..

Kami (bukan) Sarjana Kertas di Museum Louvre

         Dalam tulisan ini aku flashback dalam memori-memori indah masa-masa perjuangan dan kehidupan dunia kampus yang aku geluti di kota Bengkuang tempatku dulu. Perjuangan untuk meraih kemerdekaan bersama teman-teman seperjuangan dulu maupun yang telah gugur (mudah-mudahan mereka masih ada dan membaca tulisan ini). Merdeka dari apa ? Merdeka mendapatkan sebuah kertas. Kertas apa ? Kertas kebanggaan.

Meskipun jaman sekarang kertas itu tidak lagi di perlukan dalam kehidupan di negeriku, karena akan kalah sama kekuasaan yang berbalut kebohongan bernuansa politik. Kampus biruku terletak di bagian Utara kota Bengkuang.

Kamu tau Bingkuang khan ? trus kamu juga tau kenapa kota ini di sebut kota Bengkuang ? yang kini berubah menjadi kota Kerupuk ? Kamu tanya mbah Google untuk mengetahuinya atau tanya ke si Jombang tentang Bengkuang ini. Kembali ke tulisan, Yah….kampus biruku adalah sebuah kampus swasta di jamannya. Peran tokoh Ogi di dalam novel seperti sedikit refleksi bagiku.

Tokoh yang tak lulus di kampus negeri, berbelok ke kampus swasta keren, beda dengan kampus si Ogi, kampus UDEL, yang existensinya sekarat akibat pemberontakan sang dosen Sugiono (Saya kira si Jombang mungkin terinspirasi seorang tokoh Sugiono dari  sebuah film Jepang).

Awal mula perkuliahan di jamanku, aktifitas kegiatan OSPEK masih terlihat eksis. Terlihat suasana Senioritas dan junioritas, suasana senior yang mencari-cari junior bunga-bunga kampus baru untuk didekati hingga digauli.

Terkadang, dosen-dosen yang baru kami kenal pun memprovokasi agar nilai-nilai Ospek bukan menghasilkan jiwa otoriter sang senior yang memotivasi kami agar melakukan perlawanan.

Hikmah selesei Ospek, selain pengenalan kampus, kami dengan senior menjadi lebih saling mengenal dan bergaul, saling tidak ada batas antara senior dan junior. Hanya di awal-awal kegiatan Ospek strata itu terlaksana. Bahkan, keakraban setelah Ospek melakukan aktifitas KBM (Kemah Bakti Mahasiswa) ke desa-desa terpencil.  

Aku pun juga refleksi dari kisah si Sania, tokoh yang hobi bermain musik dan manggung di kafe-kafe bahkan bercita-cita ingin menjadi pemusik terkenal. Tetapi aku main musik bukan di cafe-cafe, melainkan di acara-acara festival atau acara di gedung melakukan konser hingga aku HAMPIR terkenal bahkan manggung di kota-kota tetangga seperti kota Pekanbaru dan kota Duri.

Beruntungnya, kehidupan menjadi pemain musik tidak menjadi nyata sampai sekarang ini. Ah….Aku ingat sang gitaris teman kampus biruku sesama main musik dan ngeband. Anak asli asal Sawahlunto. Bagiku, mungkin dia Yngwie Malmsten, John Petrucci, Steve Vai, Eddie Van Hallen, Tom morello, Nuno Bettencourt, Paul Gilbert, Wes Borlan, dan banyak lagi.

Bahkan aku dan dia menciptakan beberapa lagu ciptaan sendiri yang kami mainkan di konser Sastrakustik. Meskipun aku membelot darinya beraliran musik lebih keras, dia telah memberi aku kenangan bersama tentang seni dalam melodi melalui petikan jari tangan cepat lewat tali dawai gitar. Bedanya aku dengan Sania, musiknya Rock sedangkan aku lebih keras dari Rock. Kira-kira musik apa tuh ?

Se isap dua isap, kegiatan itu juga nyata dan ada dalam kehidupan di kampus biruku. Apalagi aku punya seorang teman dalam satu kelas bernama Habib ( bukan seorang ulama ) melakukan se isap dua isap, bahkan melakukan transaksi di tempat aku kuliah. Biasa lah ! buka kios kecil-kecilan.

Sampai-sampai dia bilang, BB (barang bukti) di letakkan di bawah batu tersembunyi di dekat kelas belajar. Terkadang dia mengikuti pelajaran di kelas dengan muka bermata merah sambil tersenyum-senyum ramah bercengkerama bersama aku dan teman-teman sekelas mengisi kecerian hari-hari kami.

Kampus biruku berlokasi di daerah yang selalu bernuansa kunjungan angin lautan. Seperti lagunya almarhum Imanez yang populer saat artis ini naik daun. Benar sekali…..Anak Pantai judul lagunya memang gambaran dari identitas kami.

Bila selesei belajar di kelas atau datang lebih awal, kami bisa nongkrong di daerah tersebut sambil merenungi, memandang, menghafal dan mengulang-ulang pelajaran ataupun berinspirasi sambil menatap ombak memecah bebatuan karang saat menghampiri kami. Suasana yang kami hadapi setiap hari memberi semangat dalam beraktifitas bahkan merasa tubuh menjadi malas. Ah….itu suasana yang sangat aku rindukan…..

Tujuh Mahasiswa Kampus Udel di Museum Louvre

Gala, pemuda hobi mendaki gunung untuk meredam kegaulauan dalam kehidupan dengan bapaknya. Karakternya juga tercermin dalam adrenalinku dan juga teman-teman sekelas kampusku, tetapi bukan karakter kegalauannya.

Aku ingat, kuliah di tahun kedua saat teman-teman sekelas sudah mulai dekat dan akrab hingga keakraban kami pun diekspresikan dengan alam menjadi sebuah adventur melakukan pendakian bersama-sama menaklukan sebuah gunung merapi yang saat itu belum memperlihatkan kemarahannya saat sekarang ini.

Marapi, adalah saksi bisu keakraban dan kenangan pertemanan kami yang menyatu dengan alam. Memori inipun menjadi inspirasiku dalam menulis sebuah novel (entah kapan seleseinya…..masih dalam pengerjaan penulisan).

Deskripsi dosen Lira dalam Kami (bukan) Sarjana Kertas diawal cerita membagikan Pizza kepada mahasiswa-i kampus UDEL merupakan suasana kehidupan aku dan teman-teman sperjuangan dalam hidup di dunia kampus biruku. Enak, lezat, praktis, meningkatkan sistem kekebalan tubuh, meskipun tergolong sebagai makanan tidak sehat bila dikonsumsi dalam jumlah banyak.

Enak karena menyukai kegiatan kehidupan kampus yang bebas sesuai keinginan hati, Lezat karena suasana aktifitas belajar yang berdikari sesuai kemauan sendiri, meningkatkan sistem kekebalan tubuh karena bertahan sesuai dengan diri sendiri, namun bila terbuai suasana kebebasan yang tidak di kontrol diri sendiri bisa berakibat kejatuhan di dalam jurang kehidupan yang tersesat. Dosen lira pun juga memberi pesan dalam pelepasan tikus-tikus di dalam koper yang dibuka setelah menikmati makanan pizza yang lezat.

Ah….aku rindu kampus biruku. Kawasan dunia pendidikan teletak di utara kota Bengkuang, banyak dikelilingi rumah-rumah kos-kos an, menjorok ke arah tepi lautan. Kampus I bernamakan seorang tokoh proklamator kemerdekaan yang pernah bersekolahkan di negeri seberang. Saat ini sudah pindah ke kawasan kampus II Aiapacah. Kampus yang lahir dari sebuah Yayasan Pendidikan Wawasan Nusantara. Teruntuk sebuah kenangan…….Universitas Bung Hatta ulak karang !!!!.  

Judul Buku : Kami ( Bukan ) Sarjana Kertas

Penulis : J.S. Khairen

Penerbit : PT. Gramedia Widiasarana

No. ISBN : 978-602-05-3070-3

Tamu Cruise Ajigijaw

Kisah kali ini adalah catatan perjalanan mengguide tamu yang berwisata menggunakan kapal Cruise atau kapal pesiar, yang berlabuh di pelabuhan kota Le Havre, Prancis.

Aku yang seorang guide dikontak partner untuk menemani mereka berwisata mengunjungi kota yang berdekatan dengan kota Le Havre di wilayah Normandy, Prancis Barat.

         Partner kami ‘Cruise Centre’ yang beralamat di Jakarta. Setelah deal dan negosiasi, kerjasama pun dimulai. D-day atau hari-H pelaksanaan tepat dua hari setelah club sepakbola PSG merayakan victory atau kemenangan kedua piala champion 2026 yang ternodai sedikit rusuh oleh fans fanatik mereka di Paris. Kapal penumpang mewah itu bernama Princes Cruise, yang datang dari kota Edinburgh, Skotlandia.

Adapun program list kapal pesiar ‘12 Night British Isles with France Belfast’ dengan menyinggahi beberapa kota antara lain ; Sothampton, Falmouth, Cork, Dublin, Liverpool, Belfast, Greennock, Invergordon, Edinburgh, dan Le Havre. Para tamu terbagi menjadi dua grup di hari yang sama.

Grup pertama berjumlah dua puluh orang, perjalanan wisata mereka mengunjungi dua kota, yaitunya Deauville dan Honfleur. Sedangkan grup kedua berjumlah tiga belas orang, perjalanan mereka mengunjungi tempat wisata Le mont-Saint-Michele.

Aku memutuskan menemani tamu untuk grup pertama, guide wisata ke kota Deauville dan Honfleur, sedangkan grup kedua ditemani guide team dari kami. Perjalanan wisata menggunakan transportasi bus yang telah disediakan oleh partner sendiri.

         Perjalananku mulai menuju kota Le Havre dari stasiun Paris-Saint-Lazare menggunakan kereta, karena aku berdomisili di kota Paris. Jarak tempuh perjalanan memakan waktu dua jam yang aku manfaatkan membunuh waktu dengan membaca ‘Dompet Ayah, Sepatu Ibu’ tulisan tangan si JS Khairen, sang AJIGIJAW yang saat ini sedang GEMPAR MENGGELEGAR.

Kisah yang menghanyutkan aku tenggelam dalam lautan emosi alam sadarku. Aku berangkat pagi-pagi sekali. Jadwal keberangkatan kereta Paris –Le Havre pukul 06.40 – 08.45 dikarenakan harus menjemput tamu pukul 9 tepat. Sesampainya di stasiun kereta Le Havre, aku meluncur ke terminal pelabuhan kapal pesiar menggunakan taksi kisaran memakan waktu tujuh menit, memang terlihat tidak jauh.

Saat tiba, aku langsung menemui supir bus wisata dan berkenalan, sang supir bernama Sylvain, orang Prancis. Setelah bertemu para tamu dan menuntun mereka menuju bus wisata, serta berkenalan dengan sang Tour Leader grup merangkap Direktur Cruise Centre yang bernama Bapak Johny, kemudian adventure pun dimulai.

         Perjalanan pertama menuju kota Deauville, sebuah kota resort tepi laut dengan ikon pantai pasirnya yang panjang dan luas. Memakan waktu perjalanan empat puluh lima menit dari Le Havre. Selama perjalanan di dalam bus, aku celoteh-celoteh menggunakan mikrophone kepada para tamu agar suasana terlihat akrab dan hangat.

Dalam perjalanan, bus kami melewati jembatan Normandy, menjadi ikon wilayah Normandy. Aku pun bercerita tentang wilayah Normandy ini, berawal bercerita kisah Jean D’arc yang merupakan pahlawan wanita dari Prancis. Lalu, menjelaskan daerah ini menjadi terkenal akibat perang dunia ke-dua saat Prancis dikuasai Jerman-Nazi, menyebabkan banyak film-film perang yang mengambil kisah dan cerita di wilayah sepanjang pantai di Normandy ini.

Aku bercerita tentang film perang ‘Saving Private Ryan’, merupakan ikonic war film, sebuah film perang yang kejadiannya berlangsung di Omaha beach.

Kemudian aku menyebutkan film-film perang lainnya seperti The Longest Day, Dunkerque, D-Day, yang kesemuanya itu bersetting di wilayah Normandy. Celoteh yang lain aku bercerita tentang seorang pendiri produk bermerk terkenal bernama Chanel.

         ‘Bapak-ibuk, apakah tahu parfum merk Chanel yang terkenal ?’, aku mengajukan pertanyaan kepada para tamu di dalam bus untuk mencairkan suasana.

         ‘Tahuuuuu ! Chanel nomor 5 !, jawab mereka.

         Dan aku pun menceritakan tentang story sang pendiri produk Chanel tersebut yang bernama Coco Chanel atau Gabriel Chanel, seorang wanita miskin di masa kecil mempunyai keberanian dan kebebasan yang didukung orang-orang seniman dan berpengaruh hingga sukses mendirikan produk elegan bermerk Chanel, diawali dengan karya topi, pakaian, tas hingga merk parfum terkenal.

Ternyata, di kota Deauville terdapat toko penjualan sang foundator ini yang sekarang menjadi monument sejarah, membuat para tamu penasaran datang mengunjungi untuk melihat dan mendokumentasikannya dalam sebuah photo sebagai kenang-kenangan mereka di kota ini.

Sebelumnya aku mengajak mereka berjalan-jalan melihat suasana pantai kota Deauville nan besar dan luas sambil melihat papan nama-nama artis berjejer yang pernah singgah berlibur di kota ini. Sayangnya, cuaca saat itu berangin dan kurang mendukung karena menghadapi masa pancaroba perubahan musim semi ke musim panas.

Aku bertopi merah sebagai Tour Guide

         Selanjutnya, selesei lunch time, pukul dua siang wisata kami berlanjut menuju kota Honfleur, sebuah kota pelabuhan kecil yang ikonik dengan bangunan kayu yang masih berdiri kokoh hingga saat sekarang ini.

         ‘Kota ini masih memiliki bangunan kuno dari kayu karena tidak banyak terkena bombardir saat dikuasai Nazi di World War II, berbeda dengan kota Le havre yang hangus dan rata dengan tanah akibat dijatuhi bom pasukan sekutu untuk mengusir tentara Jerman-Nazi dari Prancis’, coletah aku kepada tamu.

         ‘Adakah bapak-ibuk di sini yang menyukai seni lukis ?, tanyaku lagi.

         ‘Di sinilah sejarah awal terciptanya sebuah karya baru tentang seni lukis yang beraliran Impresionisme yang dipopulerkan oleh pelukis Prancis bernama Cloude Mone’, aku bersuara di ujung mikrophone.

         Aku pun menjelaskan apa itu tentang aliran seni lukis Impresionisme, hingga mereka menjadi tahu sedikit tentang seni lukis. Memang benar, orang Eropa sangat menghargai akan seni. Sesampainya di kota Honfleur, wisata pun berkeliling menyusuri kota tua nan kecil itu selama dua jam.

Akhirnya, pukul 17,00 wisata pun selesei dan tamu harus kembali menuju terminal pelabuhan menuju kapal pesiar Princes Cruise untuk melanjut perjalanan berlayar mereka ke kota-kota lainnya.

         Akhir catatan, aku kembali pulang menuju kota Paris menggunakan kereta pada pukul 20.09. Dalam perjalanan aku kembali Ajigijaw larut dalam dunia Dompet Ayah, Sepatu Ibu.

Saat kisah Asrul menyatakan suara cinta dalam kaset kepada cinta monyetnya hingga dia dan sang adik Irsal berjuang menunggu sang bapak kandung pemilik tiga istri di terminal padang panjang sambil menahan lapar, maka sampailah keretaku di stasiun Paris Saint-Lazare dan mengakhiri kisah catatan perjalanan mengguideku hari ini.

Sesampai aku di rumah, penatku terobati menerima kiriman pesan dari partner di ponselku yang berisi ucapan terima kasih atas service guide yang aku berikan pada hari ini. ‘Mereka puas !’, pesan yang kuterima via Whatsupp. Sekian kisahku…..     

Tour (Indra) Guide Indonesia di Paris, Prancis & Eropa

Bonjour/Hallo,

         Paris merupakan pusat kota wisata Eropa & dunia yang banyak dikunjungi oleh wisatawan-wisatawan yang datang dari belahan dunia, termasuk wisatawan dari Indonesia. Jalan-jalan atau liburan tidak hanya berkunjung dan menikmati tempat-tempat objek wisata.

Namun, menyelami, eksplorasi serta mengetahui tentang budayanya mengibaratkan kita tidak hanya menjadi tourist, tetapi langsung merasakan bagaimana menjadi bagian penduduk yang mempunyai perbedaan budaya dengan negara kita.

Bersama Indra Syafri

         Saya berpengalaman, bagaimana menjadi guide ketika menemani satu grup / rombongan yang berjumlah banyak 30-40 orang. Saya mennyimpulkan bahwasannya terpakunya kebebasan, kurangnya fleksibilitas, kurangnya eksplorasi mendalam dari invidu dengan program terstruktur dan aturan perjalanan yang di buat oleh agen perjalanan seperti waktu yang terbatas, kurang komunikasi ataupun menginginkan privasi sehingga terjadi sedikit gesekan dengan jadwal yang sudah ditetapkan para penyedia jasa tersebut, hingga perjalanan kurang ternikmati.

Wajar ! hal itu disebabkan salah satunya dengan budget dan anggaran terbatas.

         Oleh karenanya, saya menawarkan menjadi guide dan menemani secara privat ataupun rombongan dalam perjalanan wisata anda selama di kota Romantis ini ataupun negara-negara eropa lainnya. Tidak hanya mengguide, bersama kru assisten saya juga membuat planner work ataupun konsultasi perjalanan special wisata di Paris, Prancis & Eropa.

Bahkan bila diinginkan, langsung terjun menjadi photograper untuk mengabadikan kunjungan atau pun jalan-jalan wisata anda hingga membentuk sebuah kenang-kenangan indah tak terlupakan dalam hidup anda di tempat-tempat spot objek wisata terkenal.

         Terima kasih kepada client atau pun tamu-tamu saya sebelumnya yang menyarankan dan mendorong saya untuk membuat blog website ini sebagai komunikasi yang bisa di tawarkan kepada teman-teman / saudara-i mereka yang mempunyai rencana nantinya berwisata di Paris, Prancis & Eropa. ‘Tak kenal maka tak sayang’, nama saya Indra Francdo.

Biasa di panggil Indra, sedangkan Francdo merupakan initial atau nickname supaya mudah dikenali. Saya bukan keturunan blasteran bule ataupun dari keluarga bule, tetapi Abah abdi berasal dari sunda Tasikmalaya dan Mande awak  berasal dari Minang Padang, jadinya saya blasteran SuMin alias Sunda-Minang……hehehehe.

Saya hidup dan berdomisili di kota Paris, Prancis sebagai tour guide Independen sejak tahun 2017. Saya menyukai petualang, suka menulis dan membaca baik tentang sejarah maupun cerita-cerita novel ( mudah-mudahan menciptakan novel sendiri ).

Segitu dulu presentasi singkat saya, bila ingin lebih kepo tentang saya….yuk saya temani dengan mampir ke kota cahaya romantis ini ataupun negara lainnya di Eropa. Mau lanjut ? Silahkan hubungi saya di kolom kontak.

â très bientôt et sampai ketemu !!!……