Heatwave atau Gelombang panas menyerang Prancis dan Eropa di pertengahan bulan juni dengan suhu maximum 38-420 C. Hal ini berlangsung hampir lebih dari dua minggu. Kota Paris tak luput menjadi korban terjadinya peristiwa ini.
Banyak penduduk memilih berdiam diri di rumah mereka masing-masing, menyebabkan aktifitas di luar menjadi tidak ramai di sepanjang jalan-jalan kota. Beberapa sekolah mempercepat waktu kegiatan aktifitas siswa dan siswi hanya sampai pukul tiga sore.
Beberapa perusahaan berinisiatif kepada karyawan melakukan pekerjaan online di rumah seperti halnya di masa-masa lockdown covid-19 dahulu. Akibat kejadian ini, restoran-restoran atau tempat-tempat nongkrong di sudut-sudut kota menjadi sepi.
Pemerintah kota menyiapkan pancuran-pancuran air serta penyediaan air minum gratis disepanjang sudut-sudut kota maupun di taman-taman menghindari penduduk yang dehidrasi. Toko-toko elektronik pun menjadi sasaran penyerbuan kipas angin elektronik hingga Air Conditioner (AC) untuk kebutuhan mereka hingga sampai barang tersebut menjadi langka.
Malahan peristiwa Heatwave ini berlangsung sebelum peringatan budaya La fete de la musique (pesta musik) di tanggal 21 Juni sebagai tanda permulaan dimulainya musim panas.
Peristiwa Heatwave tahun 2026 ini memberi aku kenangan dalam bekerja. Aku seorang guide indonesia independen yang bekerja di lapangan mengharuskan beraktifitas bersama tamu menemani mereka berkunjung ke daerah-daerah wisata di Paris dalam kondisi yang extreme ini.
Mas Gozali, sang partner pemilik Binali Travel di Indonesia menghubungi aku untuk menemani rombongan berjumlah 12 orang yang akan berkunjung di kota Paris pada Senin, 23 Juni. Beliau langsung terjun menjadi Tour Leader (TL) dalam rombongan tersebut.
Rombongan ini melakukan Tour perjalanan wisata Eropa 5 negara di mulai dari negara Itali, Swiss, Prancis, Belgia dan Belanda selama 8 hari dengan menggunakan transport bus wisata. Perjalanan mereka berlangsung saat suasana peristiwa Heatwave ini. Setelah menjalani perjalanan 2 hari di Eropa (Itali dan Swiss). Rombongan menginap di kota Dijon di malam ketiga.
Esok hari, mereka mengunjungi kota Paris yang sebelumnya menempuh perjalanan selama 3 jam dari kota Dijon. Aku dan rombongan akan bertemu di daerah Avenue de Suffren dekat menara Eiffel atau daerah kisaran hotel Pullman Paris. Mas Gozali meminta saran tempat lunch time yang dekat dengan posisi menara Eiffel, sekalian menjadi titik temu aku bersama mereka.
˝Mas, lunch time di restoran Grand pacific aja ! Restorannya menyediakan service ‘All you can eat it’ !˝, penjelasanku kepada Mas Gozali. Mas Gozali pun mengikuti arahanku hingga aku pun bertemu mereka di sana pukul 1 siang.
Selesei maksi dengan puas versi all you can eat it, aku diperkenalkan dulu sama Mas Gozali kepada tamu. Kemudian, membawa mereka melakukan photo shot di dekat menara Eiffel mulai dari spot viral di ‘Avenue Octave Gréard’.
Di sini, para tamu mulai gerah akibat panas mentari yang menyengat. Aku pun mensiasati melanjutkan explore dengan berjalan menyusuri di bawah pohon-pohon menuju ‘pont d’Iena’ agar mendapat kesejukan.
Sebelumnya di restoran, aku memberitahu mereka tidak lupa menyiapkan botol berisi air minum menghindari dehidrasi cuaca panas siang ini. Sesampainya di spot jembatan ‘pont d’Iena’, para tamu pun melakukan photo selfie dan photo together beberapa menit hingga rombongan berlanjut aku arahkan menuju parkiran Bus yang parkir dekat kisaran hotel Pullman.

Rute berikutnya mengunjungi monumen ‘Arc de Triomphe’. Sepanjang jalan menuju ke sana, aku bercuap-cuap kepada tamu menggunakan mikrophon di dalam bus tentang cerita sejarah Menara Eiffel dan monumen ‘Arc de Triomphe’.
˝Wah, monumen ini ada kembarannya di kota Kediri Om Indra !˝, salah seorang tamu remaja di dalam rombongan grup ini mengatakan saat aku bercerita di dalam bus sambil menuju rute berikutnya.
˝Kalau begitu, dilain waktu cukup mengunjungi kota Kediri saja bila kangen dan rindu liburan ke kota Paris ya bapak-ibu !˝, kataku kepada mereka yang dibalas dengan penuh tawa tamu mendiginkan suasana gelombang panas ini.


Tidak berlangsung lama di daerah Arch de Triomphe, para tamu tetap merasa kepanasan akibat derasnya hawa panas yang menyerang. Beruntung bus wisata kami memiliki Air Conditioner yang menyejukkan badan. Selesei mengambil photo sebagai kenang-kenangan, kami pun berlanjut menuju tujuan berikutnya ke arah tempat wisata museum Louvre.
Meskipun tidak ada program masuk ke dalam, aku tetap menjelaskan cerita sejarah berdirinya gedung ini hingga menjadi sebuah museum. Perjalanan melewati jalan Avenue des Champ-Elyses yang ikonik, menuju Place de la Concorde atau tempat alun-alun kota dilakukannya hukuman mati raja Prancis Louis XVI beserta ratu Prancis Marie Antoinette.
˝We can stop in here!˝, si supir Bus orang Itali ini mengusulkan kepadaku sambil jarinya menunjuk ke arah Place de la Concorde.
˝No, we can’t !˝, balasku sambil menjelaskan kondisi tamu yang berkeringat akibat cuaca yang panas bila turun dari kendaraan. Dan bus pun tetap melaju ke arah Museum melewati gedung Grand Palais dan Petit Palais. Sesampainya di Museum Louvre, para tamu langsung beraksi melakukan photo selfie sebagai kenang-kenangan mereka. Bahkan aku pun membantu beberapa dari mereka mengambil photo dari kamera handphone mereka.
Cuaca panas kembali menyerang mereka hingga waktu dipercepat dan aku langsung mengiringi mereka masuk ke dalam bawah tanah pyramide atau disebut juga Le Carrosel du Louvre untuk melindungi tubuh mereka dari kepanasan sambil bejalan-jalan melalui pusat perbelanjaan dan restoran.
Setelah badan mereka sejuk, aku pun membawa mereka berbelanja ke tempat toko aksesoris oleh-oleh murah meriah sebagai kenang-kenangan mereka di dekat Museum tersebut. Setelah selesei berbelanja, aku mengajak tamu kembali mengademkan suhu badan di pusat gedung perbelanjaan Galery Lafayette Boulevarde Haussmann hingga sampai kunjungan mereka berakhir hingga malam hari.
Akhirnya, aku beserta tamu pun berpisah karena mereka harus istirahat menuju ke hotel. Dan cerita pun berakhir saat aku mengucapkan perpisahan kepada mereka hingga mereka pun berkomentar senang jalan-jalan di Paris ditemani guide seperti aku, meskipun cuaca extreme heatwave melanda Eropa. Tak lupa aku memberi nasehat kepada mereka agar selalu tetap menjaga kesehatan dan tidak lupa selalu menkonsumsi minum air putih sebanyak-banyaknya di suasana saat ini, karena perjalanan mereka berlanjut esok hari mengunjungi Belgia dan Belanda.
Dan aku pun kembali pulang dan pertandingan sepakbola piala dunia 2026 pun berlangsung antara Prancis dan Irak dengan skor 3-0 yang dimenangkan timnas Les Bues Prancis.
Uda Indra,
Ada pengalaman cerita bawa tamu saat kecopetan gak ?
Dulu ada, sudah lama sekali
kalau ada nanti, pasti diceritain, tapi…
kalau bisa, jangan deeeeeh……