Belajar guide dari Tamu

Ting! ting! ting!, bunyi pesan berdering terdengar dari hpku yang dikirim dari partner kerja di Belanda.
         "Salam sehat komandan, apakah tanggal 20 Agustus available mengguide grup di Paris ?", isi pesan partner Eka Serbalanda di negeri Kincir angin sana.
         "Salam sehat juga Jendral. Siap, available tanggal segitu !", balasku di WhatsApp kepadanya. Kami main panggilan Jendral dan komandan biar terlihat seolah-olah di dunia kemeliteran hehehhehehe…..

Saat D-day. Aku bertemu di hotel tempat tamu menginap dengan Mas Diaz Ananda yang merupakan PIC (Person in Charge) berdasarkan kontak yang di share dari partner. Aku pun dikenalkan ke semua tamu lain yang berjumlah 12 orang oleh pak Diaz.

Ternyata mereka merupakan satu keluarga besar terdiri dari Orang tua, 3 orang anak dan 3 menantu beserta cucu-cucunya. Mas Diaz adalah anak laki-laki tertua, sedangkan bapaknya bernama Dendy Muhono. Aku menyebutnya grup keluarga besar bapak Dendy Muhono. Mereka berasal dari Surabaya (Arek-arek Suroboyo guys!).

Menariknya, partnerku memberitahu bahwa dua orang tamu berumur 70 tahunan yang tak lain adalah bapak Dendy dan istrinya. Aku akan menemani mereka sekeluarga explore berkeliling kota Paris memakai transportasi umum ; metro, bus dan tram.

Aku sempat ragu, karena orang tua yang sudah berumur akan mengalami keterbatasan dalam beraktifitas nanti di perjalanan, terutama saat berjalan menuju stasiun kereta atau pun stasiun bus, ditambah lagi perjalanan akan dilalui dengan menuruni hingga menaiki tangga mengingat stasiun-stasiun Metro di Paris tidak banyak memiliki lift dan eskalator.

Dan lagi, pak Dendy mempunyai riwayat penyakit jantung yang sudah melakukan dua kali operasi pemasangan ring, cerita beliau.

Perjalanan pertama menuju tempat ikonik menara Eiffel. Kami naik Metro 6. Awal perjalanan, terlihat semangat. Aku harus mengimbangi perjalanan pak Dendy serta istri yang tidak bisa berjalan cepat dengan anak-anak dan cucu mereka, apalagi naik-turun tangga.

Terkadang aku melihat kebelakang agar mereka tidak ketinggalan. Beruntungnya perjalanan mengguideku ini dilakukan “alon-alon waton kelaton” saja. Di Trocadero, aku bertemu dengan Mukhtar, si penjual souvenir oleh-oleh Paris, pedagang migran lokal yang viral di medsos yang fasih berbahasa Indonesia, pandai mengambil hati tamuku (biasalah, teknik marketingnya), hingga tamu merasa surprise dengan tingkah laku lucunya yang bisa berbahasa Indonesia.

Tak hanya itu, bahkan dia membantu tamuku mengambil photo terbagus dengan bakcground Menara Eiffel di belakang. Untuk kamu yang mau liburan berfoto di Menara Eiffel, gak usah sewa photographer mahal-mahal, cukup belanja souvenir dapat photo keren di Menara Eiffel yang dibantu si Mukhtar. Tamuku pun berbelanja oleh-oleh kepadanya dengan harga “murah-murah”, jargonnya si Mukhtar.

Tamuku bersama Mukhtar, pedagang migran yang viral di Paris

Setelah puas di menara Eiffel, aku mengajak tamu melihat monumen Arc de Triomphe.

“Lah ini khan momunen Simpang Lima Gumul yang ada di kota Kediri ?”, sahut pak Dendy memecah suasana berangin saat itu. “Nah, besok-besok kalau mau ke Paris lagi, jalan-jalan ke kota Kediri aja. Gak jauh toh !”, aku membalas pertanyaan pak Dendy membuat suasana gelak tawa sambil melakukan photo selfie lagi.

Setelah selesei, aku menggiring mereka jalan-jalan ke museum Louvre. Dikarenakan sudah siang, kami pun istirahat sambil makan siang di restoran foodcourt yang berada dekat pintu masuk museum Louvre di bawah. Di sini, pak Dendy dan istri mulai terlihat capek tetapi masih bersemangat.

Selesei makan, eksplore pun kembali berlanjut melihat gedung Museum Louvre dari luar. Aku pun mulai cerita sedikit demi sedikit sejarah tentang Museum ini. Setelah puas berselfie ria, perjalanan berlanjut menuju Sacre Couer di bukit Montmare.

Aktifitas perjalanan pun kembali “alon-alon” dengan naik turun tangga menaiki metro 1 dan metro 2. Sesampainya d Anvers, pak Dendy dan istri suprise karena masih harus berjalan kaki menuju Furniculaire untuk mencapai ke atas. Tak Gentar, beliau dan istri tetap semangat layaknya di hari kemerdekaan 17 Agustus. “lah hari ini masih suasana kemerdekaan toh ?”, aku bergumam dalam hati.

“Luar biasa !”, kataku dalam hati melihat sehatnya pak Dendy beserta istri. Aku terkagum melihat beliau seperti orang-orang tua di Prancis yang masih sehat berjalan kaki di sini. Beruntung Furniculaire membawa kami naik ke atas. Di tangga Sacre Couer baru terlihat pak Dendy dan istri mulai kecapean dan memilih menunggu duduk.

Aku pun menemai anak dan menantu serta cucu beliau melakukan photo selfie lagi sambil memandang pemandangan kota Paris dari atas bukit Montmare ini. Akhirnya, grup memutuskan perjalanan wisata Paris mereka berakhir di tempat ini dan kembali ke hotel untuk beristirahat karena besoknya mereka akan menuju kota Frankfurt di Jerman.

Oh iya, ternyata tujuan mereka tidak hanya jalan-jalan ke Eropa ini, tetapi pak Dendy sekeluarga bertujuan mengunjungi saudaranya yang tinggal dan beristrikan orang Jerman, hidup dan domisili di kota Frankfurt ini. Aku berfikir beliau sekeluarga berwisata sambil bersilahturahmi dengan keluarga.

Sungguh aktifitas mulia yang mempererat kebersamaan dengan bersilahturahmi, terutama keluarga. Akhirnya sampai lah aku mengantar mereka di hotel tempat istirahat mereka di Bercy.

Aku berbaju dan bertopi merah bersama tamu

Dari pengalaman mengguide ini, aku belajar hikmah moral dari grup keluarga besar ini tentang kehidupan, terutama kepada pak Dendy. Sebagai orang tua dan kepala keluarga mampu merangkul kebersamaan yang jarang ditemui.

Di tambah lagi, beliau beserta istri di umur yang senja terlihat sehat, semangat dan bergembira melakukan wisata yang juga bertujuan mulia bersilahturahmi dengan saudara beliau di Jerman. Aku meyakini kehadiran beliau ke tempat saudaranya membawa rahmat dan sumber keberkahan. Bersyukurlah bagi kita yang masih memiliki keluarga.

Sesampainya di rumah sambil istirahat, iseng-iseng aku pun menonton film Indonesia yang berjudul “Tunggu aku sukses nanti” dengan thema filmnya tentang keluarga yang disutradarai dan pemainnya motivator aku yaitu si Naya dan Jebraw yang terkenal dengan video mereka “Jalan-jalan Man”, Namun, film ini bukan cerita keluarga pak Dendy. “Loh koh, malah ngomongin masalah film”.

Ok guys, segitu dulu kisah cerita mengguideku tentang keluarga. Semoga pak Dendy Muhono dan istri serta keluarga besarnya tetap diberi kesehatan, rezeki dan kebahagiaan dunia dan akhirat. Amiiin……

Tamu kepanasan di Paris Heatwave

Heatwave atau Gelombang panas menyerang Prancis dan Eropa di pertengahan bulan juni dengan suhu maximum 38-420 C. Hal ini berlangsung hampir lebih dari dua minggu. Kota Paris tak luput menjadi korban terjadinya peristiwa ini. 

Banyak penduduk memilih berdiam diri di rumah mereka masing-masing, menyebabkan aktifitas di luar menjadi tidak ramai di sepanjang jalan-jalan kota. Beberapa sekolah mempercepat waktu kegiatan aktifitas siswa dan siswi hanya sampai pukul tiga sore.

Beberapa perusahaan berinisiatif kepada karyawan melakukan pekerjaan online di rumah seperti halnya di masa-masa lockdown covid-19 dahulu. Akibat kejadian ini, restoran-restoran atau tempat-tempat nongkrong di sudut-sudut kota menjadi sepi.

Pemerintah kota menyiapkan pancuran-pancuran air serta penyediaan air minum gratis disepanjang sudut-sudut kota maupun di taman-taman menghindari penduduk yang dehidrasi. Toko-toko elektronik pun menjadi sasaran penyerbuan kipas angin elektronik hingga Air Conditioner (AC) untuk kebutuhan mereka hingga sampai barang tersebut menjadi langka.

Malahan peristiwa Heatwave ini berlangsung sebelum peringatan budaya La fete de la musique (pesta musik) di tanggal 21 Juni sebagai tanda permulaan dimulainya musim panas.

Peristiwa Heatwave tahun 2026 ini memberi aku kenangan dalam bekerja. Aku seorang guide indonesia independen yang bekerja di lapangan mengharuskan beraktifitas bersama tamu menemani mereka berkunjung ke daerah-daerah wisata di Paris dalam kondisi yang extreme ini.

Mas Gozali, sang partner pemilik Binali Travel di Indonesia menghubungi aku untuk menemani rombongan berjumlah 12 orang yang akan berkunjung di kota Paris pada Senin, 23 Juni. Beliau langsung terjun menjadi Tour Leader (TL) dalam rombongan tersebut.

Rombongan ini melakukan Tour perjalanan wisata Eropa 5 negara di mulai dari negara Itali, Swiss, Prancis, Belgia dan Belanda selama 8 hari dengan menggunakan transport bus wisata. Perjalanan mereka berlangsung saat suasana peristiwa Heatwave ini. Setelah menjalani perjalanan 2 hari di Eropa (Itali dan Swiss). Rombongan menginap di kota Dijon di malam ketiga.

Esok hari, mereka mengunjungi kota Paris yang sebelumnya menempuh perjalanan selama 3 jam dari kota Dijon. Aku dan rombongan akan bertemu di daerah Avenue de Suffren dekat menara Eiffel atau daerah kisaran hotel Pullman Paris. Mas Gozali meminta saran tempat lunch time yang dekat dengan posisi menara Eiffel, sekalian menjadi titik temu aku bersama mereka.

˝Mas, lunch time di restoran Grand pacific aja ! Restorannya menyediakan service ‘All you can eat it’ !˝, penjelasanku kepada Mas Gozali. Mas Gozali pun mengikuti arahanku hingga aku pun bertemu mereka di sana pukul 1 siang.

Selesei maksi dengan puas versi all you can eat it, aku diperkenalkan dulu sama Mas Gozali kepada tamu. Kemudian, membawa mereka melakukan photo shot di dekat menara Eiffel mulai dari spot viral di ‘Avenue Octave Gréard’.

Di sini, para tamu mulai gerah akibat panas mentari yang menyengat. Aku pun mensiasati melanjutkan explore dengan berjalan menyusuri di bawah pohon-pohon menuju ‘pont d’Iena’ agar mendapat kesejukan.

Sebelumnya di restoran, aku memberitahu mereka tidak lupa menyiapkan botol berisi air minum menghindari dehidrasi cuaca panas siang ini. Sesampainya di spot jembatan ‘pont d’Iena’, para tamu pun melakukan photo selfie dan photo together beberapa menit hingga rombongan berlanjut aku arahkan menuju parkiran Bus yang parkir dekat kisaran hotel Pullman.

Aku bertopi merah

Rute berikutnya mengunjungi monumen ‘Arc de Triomphe’. Sepanjang jalan menuju ke sana, aku bercuap-cuap kepada tamu menggunakan mikrophon di dalam bus tentang cerita sejarah Menara Eiffel dan monumen ‘Arc de Triomphe’.

˝Wah, monumen ini ada kembarannya di kota Kediri Om Indra !˝, salah seorang tamu remaja di dalam rombongan grup ini mengatakan saat aku bercerita di dalam bus sambil menuju rute berikutnya.

˝Kalau begitu, dilain waktu cukup mengunjungi kota Kediri saja bila kangen dan rindu liburan ke kota Paris ya bapak-ibu !˝, kataku kepada mereka yang dibalas dengan penuh tawa tamu mendiginkan suasana gelombang panas ini.     

Tidak berlangsung lama di daerah Arch de Triomphe, para tamu tetap merasa kepanasan akibat derasnya hawa panas yang menyerang. Beruntung bus wisata kami memiliki Air Conditioner yang menyejukkan badan. Selesei mengambil photo sebagai kenang-kenangan, kami pun berlanjut menuju tujuan berikutnya ke arah tempat wisata museum Louvre.

Meskipun tidak ada program masuk ke dalam, aku tetap menjelaskan cerita sejarah berdirinya gedung ini hingga menjadi sebuah museum. Perjalanan melewati jalan Avenue des Champ-Elyses yang ikonik, menuju Place de la Concorde atau tempat alun-alun kota dilakukannya hukuman mati raja Prancis Louis XVI beserta ratu Prancis Marie Antoinette.           

˝We can stop in here!˝, si supir Bus orang Itali ini mengusulkan kepadaku sambil jarinya menunjuk ke arah Place de la Concorde.

˝No, we can’t !˝, balasku sambil menjelaskan kondisi tamu yang berkeringat akibat cuaca yang panas bila turun dari kendaraan. Dan bus pun tetap melaju ke arah Museum melewati gedung Grand Palais dan Petit Palais. Sesampainya di Museum Louvre, para tamu langsung beraksi melakukan photo selfie sebagai kenang-kenangan mereka. Bahkan aku pun membantu beberapa dari mereka mengambil photo dari kamera handphone mereka.

Cuaca panas kembali menyerang mereka hingga waktu dipercepat dan aku langsung mengiringi mereka masuk ke dalam bawah tanah pyramide atau disebut juga Le Carrosel du Louvre untuk melindungi tubuh mereka dari kepanasan sambil bejalan-jalan melalui pusat perbelanjaan dan restoran.

Setelah badan mereka sejuk, aku pun membawa mereka berbelanja ke tempat toko aksesoris oleh-oleh murah meriah sebagai kenang-kenangan mereka di dekat Museum tersebut. Setelah selesei berbelanja, aku mengajak tamu kembali mengademkan suhu badan di pusat gedung perbelanjaan Galery Lafayette Boulevarde Haussmann hingga sampai kunjungan mereka berakhir hingga malam hari.

Akhirnya, aku beserta tamu pun berpisah karena mereka harus istirahat menuju ke hotel. Dan cerita pun berakhir saat aku mengucapkan perpisahan kepada mereka hingga mereka pun berkomentar senang jalan-jalan di Paris ditemani guide seperti aku, meskipun cuaca extreme heatwave melanda Eropa. Tak lupa aku memberi nasehat kepada mereka agar selalu tetap menjaga kesehatan dan tidak lupa selalu menkonsumsi minum air putih sebanyak-banyaknya di suasana saat ini, karena perjalanan mereka berlanjut esok hari mengunjungi Belgia dan Belanda.

Dan aku pun kembali pulang dan pertandingan sepakbola piala dunia 2026 pun berlangsung antara Prancis dan Irak dengan skor 3-0 yang dimenangkan timnas Les Bues Prancis.

Penjelajahan Le Mont-Saint-Michel

“Bisa temani grup berkunjung ke pulau Le Mont-Saint-Michel ?”, sang partner melempar tawaran kepadaku.
“Siap ! “, jawabku dengan mesra.

Partner pun berkomunikasi dan merancang dengan tamu perihal waktu dan persiapan. Grup ini terdiri dari lima orang pengajar hebat dari salah satu Institusi pendidikan Politeknik di Sumatera Barat.

Mereka berkunjung ke Eropa  menghadiri pertemuan the fourth ASIA-EUROPE Conference on AETECH 2026 di Slovakia, dikomandoi oleh bapak Rahmat Hidayat. Sepak terjang mereka melakukan konferensi sudah melalang buana baru-baru ini.

Bapak-bapak ini sangat solid yang berjiwa petualang. Selesei acara pertemuan di Slovakia sana, mereka menyinggahi beberapa hari kota Paris dan juga berkunjung ke tempat wisata yang bernama Le Mont-Saint-Michel. Saat D-day ke Le Mont-Saint-Michel, penjelajahan dengan para bapak-bapak hebat ini dilaksanakan pada hari kamis, 11 Juni 2026.

Le Mont-Saint-Michel merupakan sebuah pulau berbatu yang berada di wilayah Normandi, Prancis. Tempat ini menjadi ikon wilayah Normandi tersebut, juga ikon wisatanya negara Prancis. Struktur pulau yag berbukit ini sangat unik, bila air pasang laut surut, para pengunjung dapat berjalan di jembatan darat yang sudah di bangun.

Tetapi bila air pasang laut naik, jangan berharap bisa berkunjung dengan angkutan darat atau berjalan kaki menuju pulau tersebut. Pulau ini akan tertutup oleh lautan yang berjarak lebih kurang satu kilometer dari arah bibir pantai pesisir utara Prancis dan akan terlihat menjadi sebuah kastil terapung. Pesona kastil inilah menarik orang-orang datang untuk menjawab rasa penasaran mereka, bahkan menjadi inspirasi kastil di cerita animasi dunia Disney. Sebenarnya diatas kastil itu adalah bangunan pertapaan atau Monastik sebuah gereja. Sebelum ada bangunan itu, pulau ini bernama Mont Tombe.

Legenda menyebutkan malaikat Mikael muncul dalam mimpi Santo Aubert, seorang uskup Avranches yang memintanya membuat tempat suci memakai nama malaikat tersebut. Dan komunitas Benediktin pun membangun gereja pertama di pulau ini dan berubah nama menjadi Le Mont-Saint-Michel.  

“Kastil terapung ?”, bapak-bapak itu tambah penasaran.

Penjelajahan aku bersama grup dimulai berangkat dari kota Paris. Tidak susah mengunjunginya. Menaiki transportasi kereta api dengan durasi tempuh empat jam perjalanan dari stasiun Montparnasse menuju stasiun Pontorson Mont St Michel. Lima belas menit transit, dilanjutkan perjalanan menggunakan bus selama dua puluh tujuh menit menuju langsung ke tempat tujuan pulau tersebut. Perjalanan kami lakukan pukul 7.32 hingga kami sampai pukul 12.07.

“Explore pun di mulai !”.

Saat tiba dan menuruni bus, budaya photo selfie langsung bergerak. Tanpa pikir panjang, mereka bergaya bermacam-macam pose di depan kamera dengan background belakangnya pulau kastil tersebut. Baik photo bersama maupun seorang diri. Maklumlah, tindakan ini merupakan bukti kenang-kenangan tanda sudah menginjak tempat di wilayah ini yang harus di abadikan di dalam handphone maupun jejaring media sosial. “Keren bukan ?”.

Aku berpikir perjalanan di hari kamis minim dari keramaian karena waktu hari bekerja. Realitanya, pengunjung datang sangat ramai di musim semi ini akibat banyaknya rombongan anak-anak sekolah yang kebanyakan dari Prancis, bahkan rombongan anak-anak sekolah yang berasal dari negara tetangga Great Britain, melakukan study tour.

Belajar sejarah sambil jalan-jalan, menjadikan anak-anak sekolah ini menambah wawasan dan belajar menciptakan ide-ide dari sejarah pulau kastil ini. Puas dengan selfie ria di depan pulau, aku membawa mereka masuk jalan-jalan mendaki mengelilingi pulau ini yang seperti benteng pertahanan.

Saat masuk ke atas kastil gereja, terlihat antrian keramaian yang panjang akibat jumlah pengunjung yang besar menyebabkan bapak-bapak ini menghentikan niat mereka masuk menuju ke atas kastil ini. Setelah makan siang di pinggang pulau sambil menikmati pemandangan di bawah.

Perasaan kecewa dengan suasana yang ramai tadi terbalaskan, dengan mengajak mereka kembali turun menuju ujung awal jembatan yang dibawahnya terlihat rumput untuk berphoto selfie ria. Terlihat bahwa grup yang aku temani ini lebih menikmati perjalanan dengan berphoto selfie ria dari pada mendalami cerita sejarah di pulau ini.

Luapan Euforia di depan Kastil

Puas dengan pose-pose photo di bawah jembatan yang bertepatan waktu kembali ke Paris, kami pun kembali menuju pemberhentian Bus untuk menunggu sambil berjalan menyusuri jembatan. Air laut yang siang tadi tidak terlihat disekiling pulau, mulai terlihat pasang naik.

Selfie di bawah bendera yang berkibar

Bus pun membawa kami kembali ke tempat stasiun transit Pontorson Mont-Saint-Michel menuju stasiun kereta tujuan Paris. Saat berada di dalam kereta, selesei shalat jamak ta’khir dzuhur dan ashar dengan posisi duduk di dalam kereta, rombongan bapak-bapak ini pun langsung mengusir lelah setelah menjelajah pulau kastil ini dengan terlelap tidur membawa mereka ke alam mimpi seakan menjadi inspirasi.

Saking lelahnya kepuasan menjelajah ini, terlihat cara tidur mereka dengan suasana wajah dengan mulut menganga. Beruntung di dalam kereta ini tidak ada lalat yang akan hinggap ke mulut terbuka itu. Akhirnya, satu jam sebelum tengah malam, kami pun kembali sampai di kota Paris.       

Selfie ria seperti anak band

Tamu Cruise Ajigijaw

Kisah kali ini adalah catatan perjalanan mengguide tamu yang berwisata menggunakan kapal Cruise atau kapal pesiar, yang berlabuh di pelabuhan kota Le Havre, Prancis.

Aku yang seorang guide dikontak partner untuk menemani mereka berwisata mengunjungi kota yang berdekatan dengan kota Le Havre di wilayah Normandy, Prancis Barat.

         Partner kami ‘Cruise Centre’ yang beralamat di Jakarta. Setelah deal dan negosiasi, kerjasama pun dimulai. D-day atau hari-H pelaksanaan tepat dua hari setelah club sepakbola PSG merayakan victory atau kemenangan kedua piala champion 2026 yang ternodai sedikit rusuh oleh fans fanatik mereka di Paris. Kapal penumpang mewah itu bernama Princes Cruise, yang datang dari kota Edinburgh, Skotlandia.

Adapun program list kapal pesiar ‘12 Night British Isles with France Belfast’ dengan menyinggahi beberapa kota antara lain ; Sothampton, Falmouth, Cork, Dublin, Liverpool, Belfast, Greennock, Invergordon, Edinburgh, dan Le Havre. Para tamu terbagi menjadi dua grup di hari yang sama.

Grup pertama berjumlah dua puluh orang, perjalanan wisata mereka mengunjungi dua kota, yaitunya Deauville dan Honfleur. Sedangkan grup kedua berjumlah tiga belas orang, perjalanan mereka mengunjungi tempat wisata Le mont-Saint-Michele.

Aku memutuskan menemani tamu untuk grup pertama, guide wisata ke kota Deauville dan Honfleur, sedangkan grup kedua ditemani guide team dari kami. Perjalanan wisata menggunakan transportasi bus yang telah disediakan oleh partner sendiri.

         Perjalananku mulai menuju kota Le Havre dari stasiun Paris-Saint-Lazare menggunakan kereta, karena aku berdomisili di kota Paris. Jarak tempuh perjalanan memakan waktu dua jam yang aku manfaatkan membunuh waktu dengan membaca ‘Dompet Ayah, Sepatu Ibu’ tulisan tangan si JS Khairen, sang AJIGIJAW yang saat ini sedang GEMPAR MENGGELEGAR.

Kisah yang menghanyutkan aku tenggelam dalam lautan emosi alam sadarku. Aku berangkat pagi-pagi sekali. Jadwal keberangkatan kereta Paris –Le Havre pukul 06.40 – 08.45 dikarenakan harus menjemput tamu pukul 9 tepat. Sesampainya di stasiun kereta Le Havre, aku meluncur ke terminal pelabuhan kapal pesiar menggunakan taksi kisaran memakan waktu tujuh menit, memang terlihat tidak jauh.

Saat tiba, aku langsung menemui supir bus wisata dan berkenalan, sang supir bernama Sylvain, orang Prancis. Setelah bertemu para tamu dan menuntun mereka menuju bus wisata, serta berkenalan dengan sang Tour Leader grup merangkap Direktur Cruise Centre yang bernama Bapak Johny, kemudian adventure pun dimulai.

         Perjalanan pertama menuju kota Deauville, sebuah kota resort tepi laut dengan ikon pantai pasirnya yang panjang dan luas. Memakan waktu perjalanan empat puluh lima menit dari Le Havre. Selama perjalanan di dalam bus, aku celoteh-celoteh menggunakan mikrophone kepada para tamu agar suasana terlihat akrab dan hangat.

Dalam perjalanan, bus kami melewati jembatan Normandy, menjadi ikon wilayah Normandy. Aku pun bercerita tentang wilayah Normandy ini, berawal bercerita kisah Jean D’arc yang merupakan pahlawan wanita dari Prancis. Lalu, menjelaskan daerah ini menjadi terkenal akibat perang dunia ke-dua saat Prancis dikuasai Jerman-Nazi, menyebabkan banyak film-film perang yang mengambil kisah dan cerita di wilayah sepanjang pantai di Normandy ini.

Aku bercerita tentang film perang ‘Saving Private Ryan’, merupakan ikonic war film, sebuah film perang yang kejadiannya berlangsung di Omaha beach.

Kemudian aku menyebutkan film-film perang lainnya seperti The Longest Day, Dunkerque, D-Day, yang kesemuanya itu bersetting di wilayah Normandy. Celoteh yang lain aku bercerita tentang seorang pendiri produk bermerk terkenal bernama Chanel.

         ‘Bapak-ibuk, apakah tahu parfum merk Chanel yang terkenal ?’, aku mengajukan pertanyaan kepada para tamu di dalam bus untuk mencairkan suasana.

         ‘Tahuuuuu ! Chanel nomor 5 !, jawab mereka.

         Dan aku pun menceritakan tentang story sang pendiri produk Chanel tersebut yang bernama Coco Chanel atau Gabriel Chanel, seorang wanita miskin di masa kecil mempunyai keberanian dan kebebasan yang didukung orang-orang seniman dan berpengaruh hingga sukses mendirikan produk elegan bermerk Chanel, diawali dengan karya topi, pakaian, tas hingga merk parfum terkenal.

Ternyata, di kota Deauville terdapat toko penjualan sang foundator ini yang sekarang menjadi monument sejarah, membuat para tamu penasaran datang mengunjungi untuk melihat dan mendokumentasikannya dalam sebuah photo sebagai kenang-kenangan mereka di kota ini.

Sebelumnya aku mengajak mereka berjalan-jalan melihat suasana pantai kota Deauville nan besar dan luas sambil melihat papan nama-nama artis berjejer yang pernah singgah berlibur di kota ini. Sayangnya, cuaca saat itu berangin dan kurang mendukung karena menghadapi masa pancaroba perubahan musim semi ke musim panas.

Aku bertopi merah sebagai Tour Guide

         Selanjutnya, selesei lunch time, pukul dua siang wisata kami berlanjut menuju kota Honfleur, sebuah kota pelabuhan kecil yang ikonik dengan bangunan kayu yang masih berdiri kokoh hingga saat sekarang ini.

         ‘Kota ini masih memiliki bangunan kuno dari kayu karena tidak banyak terkena bombardir saat dikuasai Nazi di World War II, berbeda dengan kota Le havre yang hangus dan rata dengan tanah akibat dijatuhi bom pasukan sekutu untuk mengusir tentara Jerman-Nazi dari Prancis’, coletah aku kepada tamu.

         ‘Adakah bapak-ibuk di sini yang menyukai seni lukis ?, tanyaku lagi.

         ‘Di sinilah sejarah awal terciptanya sebuah karya baru tentang seni lukis yang beraliran Impresionisme yang dipopulerkan oleh pelukis Prancis bernama Cloude Mone’, aku bersuara di ujung mikrophone.

         Aku pun menjelaskan apa itu tentang aliran seni lukis Impresionisme, hingga mereka menjadi tahu sedikit tentang seni lukis. Memang benar, orang Eropa sangat menghargai akan seni. Sesampainya di kota Honfleur, wisata pun berkeliling menyusuri kota tua nan kecil itu selama dua jam.

Akhirnya, pukul 17,00 wisata pun selesei dan tamu harus kembali menuju terminal pelabuhan menuju kapal pesiar Princes Cruise untuk melanjut perjalanan berlayar mereka ke kota-kota lainnya.

         Akhir catatan, aku kembali pulang menuju kota Paris menggunakan kereta pada pukul 20.09. Dalam perjalanan aku kembali Ajigijaw larut dalam dunia Dompet Ayah, Sepatu Ibu.

Saat kisah Asrul menyatakan suara cinta dalam kaset kepada cinta monyetnya hingga dia dan sang adik Irsal berjuang menunggu sang bapak kandung pemilik tiga istri di terminal padang panjang sambil menahan lapar, maka sampailah keretaku di stasiun Paris Saint-Lazare dan mengakhiri kisah catatan perjalanan mengguideku hari ini.

Sesampai aku di rumah, penatku terobati menerima kiriman pesan dari partner di ponselku yang berisi ucapan terima kasih atas service guide yang aku berikan pada hari ini. ‘Mereka puas !’, pesan yang kuterima via Whatsupp. Sekian kisahku…..