Ting! ting! ting!, bunyi pesan berdering terdengar dari hpku yang dikirim dari partner kerja di Belanda.
"Salam sehat komandan, apakah tanggal 20 Agustus available mengguide grup di Paris ?", isi pesan partner Eka Serbalanda di negeri Kincir angin sana.
"Salam sehat juga Jendral. Siap, available tanggal segitu !", balasku di WhatsApp kepadanya. Kami main panggilan Jendral dan komandan biar terlihat seolah-olah di dunia kemeliteran hehehhehehe…..
Saat D-day. Aku bertemu di hotel tempat tamu menginap dengan Mas Diaz Ananda yang merupakan PIC (Person in Charge) berdasarkan kontak yang di share dari partner. Aku pun dikenalkan ke semua tamu lain yang berjumlah 12 orang oleh pak Diaz.
Ternyata mereka merupakan satu keluarga besar terdiri dari Orang tua, 3 orang anak dan 3 menantu beserta cucu-cucunya. Mas Diaz adalah anak laki-laki tertua, sedangkan bapaknya bernama Dendy Muhono. Aku menyebutnya grup keluarga besar bapak Dendy Muhono. Mereka berasal dari Surabaya (Arek-arek Suroboyo guys!).
Menariknya, partnerku memberitahu bahwa dua orang tamu berumur 70 tahunan yang tak lain adalah bapak Dendy dan istrinya. Aku akan menemani mereka sekeluarga explore berkeliling kota Paris memakai transportasi umum ; metro, bus dan tram.
Aku sempat ragu, karena orang tua yang sudah berumur akan mengalami keterbatasan dalam beraktifitas nanti di perjalanan, terutama saat berjalan menuju stasiun kereta atau pun stasiun bus, ditambah lagi perjalanan akan dilalui dengan menuruni hingga menaiki tangga mengingat stasiun-stasiun Metro di Paris tidak banyak memiliki lift dan eskalator.
Dan lagi, pak Dendy mempunyai riwayat penyakit jantung yang sudah melakukan dua kali operasi pemasangan ring, cerita beliau.
Perjalanan pertama menuju tempat ikonik menara Eiffel. Kami naik Metro 6. Awal perjalanan, terlihat semangat. Aku harus mengimbangi perjalanan pak Dendy serta istri yang tidak bisa berjalan cepat dengan anak-anak dan cucu mereka, apalagi naik-turun tangga.
Terkadang aku melihat kebelakang agar mereka tidak ketinggalan. Beruntungnya perjalanan mengguideku ini dilakukan “alon-alon waton kelaton” saja. Di Trocadero, aku bertemu dengan Mukhtar, si penjual souvenir oleh-oleh Paris, pedagang migran lokal yang viral di medsos yang fasih berbahasa Indonesia, pandai mengambil hati tamuku (biasalah, teknik marketingnya), hingga tamu merasa surprise dengan tingkah laku lucunya yang bisa berbahasa Indonesia.
Tak hanya itu, bahkan dia membantu tamuku mengambil photo terbagus dengan bakcground Menara Eiffel di belakang. Untuk kamu yang mau liburan berfoto di Menara Eiffel, gak usah sewa photographer mahal-mahal, cukup belanja souvenir dapat photo keren di Menara Eiffel yang dibantu si Mukhtar. Tamuku pun berbelanja oleh-oleh kepadanya dengan harga “murah-murah”, jargonnya si Mukhtar.

Setelah puas di menara Eiffel, aku mengajak tamu melihat monumen Arc de Triomphe.
“Lah ini khan momunen Simpang Lima Gumul yang ada di kota Kediri ?”, sahut pak Dendy memecah suasana berangin saat itu. “Nah, besok-besok kalau mau ke Paris lagi, jalan-jalan ke kota Kediri aja. Gak jauh toh !”, aku membalas pertanyaan pak Dendy membuat suasana gelak tawa sambil melakukan photo selfie lagi.
Setelah selesei, aku menggiring mereka jalan-jalan ke museum Louvre. Dikarenakan sudah siang, kami pun istirahat sambil makan siang di restoran foodcourt yang berada dekat pintu masuk museum Louvre di bawah. Di sini, pak Dendy dan istri mulai terlihat capek tetapi masih bersemangat.
Selesei makan, eksplore pun kembali berlanjut melihat gedung Museum Louvre dari luar. Aku pun mulai cerita sedikit demi sedikit sejarah tentang Museum ini. Setelah puas berselfie ria, perjalanan berlanjut menuju Sacre Couer di bukit Montmare.
Aktifitas perjalanan pun kembali “alon-alon” dengan naik turun tangga menaiki metro 1 dan metro 2. Sesampainya d Anvers, pak Dendy dan istri suprise karena masih harus berjalan kaki menuju Furniculaire untuk mencapai ke atas. Tak Gentar, beliau dan istri tetap semangat layaknya di hari kemerdekaan 17 Agustus. “lah hari ini masih suasana kemerdekaan toh ?”, aku bergumam dalam hati.
“Luar biasa !”, kataku dalam hati melihat sehatnya pak Dendy beserta istri. Aku terkagum melihat beliau seperti orang-orang tua di Prancis yang masih sehat berjalan kaki di sini. Beruntung Furniculaire membawa kami naik ke atas. Di tangga Sacre Couer baru terlihat pak Dendy dan istri mulai kecapean dan memilih menunggu duduk.
Aku pun menemai anak dan menantu serta cucu beliau melakukan photo selfie lagi sambil memandang pemandangan kota Paris dari atas bukit Montmare ini. Akhirnya, grup memutuskan perjalanan wisata Paris mereka berakhir di tempat ini dan kembali ke hotel untuk beristirahat karena besoknya mereka akan menuju kota Frankfurt di Jerman.
Oh iya, ternyata tujuan mereka tidak hanya jalan-jalan ke Eropa ini, tetapi pak Dendy sekeluarga bertujuan mengunjungi saudaranya yang tinggal dan beristrikan orang Jerman, hidup dan domisili di kota Frankfurt ini. Aku berfikir beliau sekeluarga berwisata sambil bersilahturahmi dengan keluarga.
Sungguh aktifitas mulia yang mempererat kebersamaan dengan bersilahturahmi, terutama keluarga. Akhirnya sampai lah aku mengantar mereka di hotel tempat istirahat mereka di Bercy.

Dari pengalaman mengguide ini, aku belajar hikmah moral dari grup keluarga besar ini tentang kehidupan, terutama kepada pak Dendy. Sebagai orang tua dan kepala keluarga mampu merangkul kebersamaan yang jarang ditemui.
Di tambah lagi, beliau beserta istri di umur yang senja terlihat sehat, semangat dan bergembira melakukan wisata yang juga bertujuan mulia bersilahturahmi dengan saudara beliau di Jerman. Aku meyakini kehadiran beliau ke tempat saudaranya membawa rahmat dan sumber keberkahan. Bersyukurlah bagi kita yang masih memiliki keluarga.
Sesampainya di rumah sambil istirahat, iseng-iseng aku pun menonton film Indonesia yang berjudul “Tunggu aku sukses nanti” dengan thema filmnya tentang keluarga yang disutradarai dan pemainnya motivator aku yaitu si Naya dan Jebraw yang terkenal dengan video mereka “Jalan-jalan Man”, Namun, film ini bukan cerita keluarga pak Dendy. “Loh koh, malah ngomongin masalah film”.
Ok guys, segitu dulu kisah cerita mengguideku tentang keluarga. Semoga pak Dendy Muhono dan istri serta keluarga besarnya tetap diberi kesehatan, rezeki dan kebahagiaan dunia dan akhirat. Amiiin……











