Atraksi Gerhana Matahari di Prancis 2026

Rabu, 12 Agustus 2026 merupakan momen atraktif bagi orang-orang Prancis untuk datang menyaksikan Gerhana Matahari, begitu pula aku. Peristiwa yang aku alami pertama kali dalam hidup dengan melihat langsung dengan mata dengan perlindungan kacamata khusus bernama kacamata gerhana, dan itu terjadi di luar negeri.

Meski pada tahun 2016 sang Gerhana pernah terjadi di Indonesia, namun aku melewatinya karena posisi yang sudah berada di Prancis. Dulu tahun 1999 sang Gerhana juga terjadi di sini. Nah tahun ini, sang Gerhana kembali mampir di Prancis dan umumnya terjadi di Eropa.

Aku yang antusias tidak mau ketinggalan menghadirinya. Aku ingat memori kelam saat terjadi gerhana di jaman Presiden Soeharto menganggap momen itu merupakan hal yang menakutkan. Ada isu yang mengatakan, bila dilihat langsung akan mengalami gangguan mata hingga mengalami kebutaan, bahkan dikeluarkan surat edaran bagi masyarakat, dihimbau untuk tidak keluar dari rumah dan hanya bisa menyaksikan di layar televisi saja.

Ternyata aksi pembodohan….

Berkembangnya waktu, peristiwa itu menjadi momen perayaan wisata saat ini. Masyarakat disini berbondong-bondong menyaksikannya dengan memakai kacamata khusus Gerhana.

Yang menarik adalah, momen perburuan kacamata gerhana ini begitu langka akibat banyaknya permintaan, menandakan orang-orang di sini begitu menggebu-gebu penasaran melihat bagaimana peristiwa ini terjadi, dan lagi saat ini dalam keadaan masih liburan sekolah atau libur musim panas. Akhirnya satu hari sebelum hari H, perburuanku tidak sia-sia menemukan kacamata spesial tersebut.

Aku mendapati kacamata tersebut dengan menempuh antrian begitu panjang di salah satu Pharmacie daerah Montparnasse. Puas dengan perburuan tersebut, sore menjelang malam pencarian posisi untuk melihat Gerhana pun tak kalah seru.

Aku memilih titik di Parc Andre Citroen. Saat berangkat kesana menggunakan bus, lautan manusia keluar dengan menuju ke arah yang sama menyebabkan transportasi bus menjadi padat dan ramai.

Tak lupa aku membawa kain alas untuk duduk di rumput seakan-akan hendak piknik. Sesampainya di taman Andre Citroen tersebut dengan suhu udara diatas 30 derajat, perjuangan mencari tempat duduk pun dapat dengan padat merapat saking padatnya.

Akhirnya, aku bisa mendapat tempat pas banget bertepatan waktu mulainya sang gerhana dari pukul 19.22 hingga pukul 20.48. Di momen ini, aku langsung menyadari bahwa Matahari dan bulan merupakan dua tanda kebesaran yang agung di antara tanda-tanda kekuasaan Allah swt, menjadikan aku beristighfar serta brzikir selama proses gerhana Matahari berlangsung.

Bagaimana nantinya terjadi kiamat ? apakah momen itu manusia akan berbondong-bondong menyaksikannya ? Entahlah, setidaknya peristiwa ini menjadikan diri bahwa tak lain yang mengatur semua kehidupan ini adalah kehendakNya. Wallahuallam…

Kehidupan Masyarakat Islam Indonesia di Prancis

Hidup di negara minoritas sebagai seorang muslim mengalami banyak tantangan hingga memberi kesan pengalaman tersendiri dalam berinteraksi.

Itulah yang saya alami di negara Prancis dan Eropa, tempat saya berdomisili hingga saat sekarang ini. Semua kesulitan dalam berinteraksi tersebut tidak mempersulit saya dalam menjalankan ibadah di negara yang menganut sistem laïcite mengartikan pemisahan pemerintahan dengan agama atau disebut sekulerisme.

Namun sejatinya bagi Prancis, laïcite itu tidak sama dengan Sekulerisme meskipun sama-sama pemisahan lembaga negara dari lembaga agama. Kenapa laïcite ? Karena negara Prancis dulunya mempunyai sejarah kelam tentang pemisahaan negara dengan gereja. Prancis yang memiliki moto Libérté, égalité, fratérnité ( Kebebasan, keadilan, persaudaraan ), mengartikan negara Prancis menjamin setiap orang memiliki kebebasan termasuk bebas mempunyai hak untuk beragama dengan damai dalam masyarakat yang beragam.

MUSLIM INDONESIA DI PRANCIS

            Melaksanakan shalat jumat di KBRI Paris, saya pun bergabung dan berinteraksi dalam komunitas yang bergerak dalam kegiatan masyarakat bersifat keagamaan bernama Perhimpunan Masyarakat Muslim Indonesia Prancis atau lebih dikenal dengan PERMIIP di bawah naungan KBRI Paris.

PERMIIP yang selalu melakukan acara interaksi mengokohkan muslim Indonesia-Prancis sebagai momen silahturahmi serta memperkuat ukhuwah islami sesama muslim indonesia di negara minoritas ini, baik antar sesama diaspora, pelajar, ataupun orang-orang muslim Prancis yang berhubungan dengan orang-orang indonesia sendiri.

Adapun kegiatan PERMIIP seperti dakwah pengajian setiap bulan dengan Ustad baik dari pelajar yang sekolah di Prancis maupun ustad yang datang dari  Indonesia. Pada tahun 2014 kala itu banyak Ekspatriat Indonesia yang masa kontrak kerja mereka selesei terutama di perusahaan TOTAL Prancis.

Mereka memberikan sumbangan besar berupa dana kepada PERMIIP dalam rangka pengharapan didirikannya mesjid Indonesia di Prancis. Sumbangan yang kala itu diterima oleh ketua PERMIIP bapak Arifi yang merupakan diplomat KBRI masih belum terlaksana hingga saat ini dikarenakan tidak mudahnya perizinan pembangunan mesjid di negara Prancis.

Saya pun ingat orang-orang diplomat KBRI yang telah sukarela dan ikhlas mengkordinir kegiatan-kegitan PERMIIP dari tahun ke tahun diantaranya ; Bpk. Arifi, Novic, Rudjimin, Warsito, Ihsan, Alimi, Aries serta Dimas.

PENGAJIAN AR-RAUDAH PARIS

            Pada tahun 2015, istri DCM KBRI Prancis kala itu bernama Ibu Wati membentuk perkumpulan pengajian Ibu-ibu yang awal anggotanya istri-istri para ekspatriat yang suami-suami mereka bekerja di perusahaan TOTAL Prancis.

Pengajian ini khusus hanya untuk perempuan atau istri-istri yang tinggal di kota Paris, bertujuan mengisi kekosongan waktu kegiatan mereka dengan kegiatan positif.

Berjalannya waktu, AR-Raudah menambah keanggotaan mereka dari perempuan masyarakat umum dan ibu-ibu diaspora lainnya dimana para istri yang suami mereka bekerja di perusahaan TOTAL mengharuskan mereka kembali ke tanah air dikarenakan masa kontrak kerja sudah berakhir. Kemudian, ditambah lagi beranggotakan pelajar-pelajar muslimah di Paris sehingga berjumlah lebih luas.

Aktifitas Ar-raudah tidak hanya berfokus kepada pengajian ibu-ibu setiap bulan, tetapi ikut berpartisipasi bersama PERMIIP, berkolaborasi mengadakan pengajian offline untuk anak-anak Indonesia di Paris maupun keluarga campuran Indonesia-Prancis. Saat ini , Ar-raudah diketuai oleh ibu Yenyen yang secara tulus mengkordinir acara pengajian setiap bulannya baik secara daring maupun offline memberikan semangat antusias perempuan muslimah indonesia di kota Paris dan sekitarnya.

MAJELIS PENGAJIAN AL HIJRAH DI LYON

Prancis sebelah timur terdapat kota Lyon yang merupakan kota besar ketiga setelah kota Paris dan Marseille. Kota ini terkenal dengan kota tuanya yang terdaftar di UNESCO, Vieux Lyon.

Kota ini menarik saya untuk explore berkunjung jalan-jalan sambil bersilaturahmi dengan orang muslim Indonesia di kota ini. Hingga saya menemukan Majelis pengajian Al-Hijrah Lyon. Singkat sejarah, komunitas pengajian ini awalnya didirikan seorang Dr. Arie Fitria yang sebelumnya seorang mahasiswi indonesia di Universitas Lumiére Lyon 2.

Setelah tamat dan harus kembali ke Indonesia mengajar di UNILA Lampung, pengajian ini berlanjut yang di ketuai oleh Mpok Poppy seorang Diaspora Indonesia bersuamikan orang Prancis keturunan Aljazair. Nama Al Hijrah sendiri diberi nama oleh sang ketua karena beliau berhijrah hingga memakai hijab sampai sekarang dari tahun 2015, dan komunitas pengajian ini pun resmi diberi nama Al Hijrah dari tahun 2016.

Komunitas yang sebulan sekali mengadakan silahturami pengajian, saat ini diketuai mbak Eka bersama mpok Poppy sendiri. Bila ada waktu luang dan sesuai jadwal, sesekali saya ikut dalam pengajian mereka sambil jalan-jalan dan explore di kota Lyon atau pun kota-kota terdekat untuk mengikat silahturahmi persaudaraan senasib di daerah perantauan.

MAJELIS PENGAJIAN PRANCIS ( MPP ) DI MONTPELIER

            Prancis bagian selatan terdapat kota Montpellier. Di kota ini, seorang Diaspora Indonesia bernama Dini Kusmana Massabuau mendirikan komunitas Majelis Pengajian Pancis ( MPP ). Teh Dini Sang foundateur situs Suratdunia.com mendirikan komunitas ini bertujuan merangkul para diaspora muslimah yang rindu akan perkumpulan dalam grup pengajian.

Meskipun komunitas ini banyak beraktifitas daring dan sesekali berkumpul secara Offline setahun sekali, terutama di pertemuan berbuka bersama setiap bulan ramadhan.

Adapun aktifitas mereka sejak berdiri Maret 2018, belajar membaca Al quran bersama diiringi pengajian yang banyak diisi oleh Ustadz Aep Saepudin pimpinan pesantren MD Fadhillah. Karena pengajian ini banyak dilakukan secara daring atau online, maka tidak hanya orang-orang Indonesia di kota Montpelier saja yang berpartisipasi, tetapi di seluruh kota di Prancis bahkan ada yang berasal di negara lain di Eropa.

PIMPINAN CABANG ISTIMEWA MUHAMMADIYAH ( PCIM ) PRANCIS

            Komunitas pengajian kader Muhammadiyah pun berdiri di Prancis berkontribusi dalam kajian dakwah dan komunikasi. Komunitas yang sempat vakum dan kembali lahir di tahun 2019 berfokus pada penguatan eksistensi dari organisasi ini.

Komunitas ini juga melakukan pengajian pertemuan sebulan sekali yang sering dilaksanakan di kota Paris, dikarenakan keanggotaan yang banyak berdomisili di kota ini. Pengajian PCIM yang diketuai oleh Diaspora muslim Fakhrudin Arozzi S.H.I, M.S. yang saat ini menempuh kuliah doktoralnya, terlihat beraktifitas dalam kolaborasi terhadap komunitas dan organisasi lain dalam memperluas dakwah yang efektif.  

            PERMIIP yang didukung KBRI bersama pengajian Ar raudah, Al hijrah, MPP dan PCIM serta masyarakat muslim indonesia lainnya baik diaspora dan pelajar Indonesia selalu berkolaborasi dalam mewujudkan kegiatan masyarakat dalam hal keagamaan, kesenian, olahraga dsb.

Masyarakat muslim Indonesia di Prancis yang haus akan dakwah dan ilmu agama sesekali melakukan pengajian mengundang para ustadz yang datang dari Indonesia seperti Ustadz Adi Hidayat pada tahun 2019, Ustadz Firanda Andirja Abidin pada tahun 2018, Ustad Khalid Basalamah pada tahun 2018 dan 2025.

Bahkan PERMIIP setiap bulan ramadhan selalu aktif mengundang para ustadz selama sebulan sebagai bagian perwujudan kerinduan diaspora Indonesia di Prancis terhadap ilmu agama, diantaranya :

  • Ustadz Arrazy Hasyim ( tahun 2016, kolaborasi dompet dhuafa )
  • Ustadz Arrazy Hasyim ( tahun 2017, kolaborasi dompet dhuafa )
  • Ustadz Jauhar Ridloni Marzuq ( tahun 2018, kolaborasi dompet dhuafa )
  • Ustadz Muhamad Zen ( tahun 2019, kolaborasi dompet dhuafa )
  • Ustadz Yendri Junaedi LC ( tahun 2020 versi online karena Covid )
  • Tahun 2021 hingga 2022 masih suasan covid ( banyak beraktifitas daring atau online )
  • Ustadz M. Abdul Kholiq Hasan ( tahun 2023, kolaborasi dompet dhuafa )
  • Ustadz Dr. Akhmad Ikhwani  ( tahun 2024, kolaborasi UIN Lampung )
  • Ustadz Ahmad Zulfikar ( tahun 2025, kolaborasi dompet dhuafa )
  • Ustadz Rizki Hegia Sampurna ( tahun 2026, kolaborasi dompet dhuafa )