Tenggelam dalam catatan perjalanan ‘Merobek Sumatra’ di Prancis

Catatan perjalanan ‘Merobek Sumatra’ telah menghayutkan diriku ke alam dimensi lain tentang kehidupan salah satu pulau terbesar dari 5 pulau di Indonesia. Seorang lelaki dari bayang, mencurahkan kehidupan eksplorasinya ke dalam aksara sastra tentang misteri dan sejarah akan tempat tersebut.

Fatris MF membawa petualangannya akan Sumatra yang penuh misteri dan tidak semua orang tahu, bahkan aku yang pernah hidup lama di sana, tidak mengetahui ketidakpahaman pulau besar tersebut.

Petualangan pertama menceritakan anak bernama ‘Lepon Salakkirat’ dari suku Mentawai, dengan tidak memilih menjadi Sikerei (dukun) sebagai bagian mempertahankan tradisi dalam kehidupan masyarakat di sana, memilih untuk menjadi guru.

Bahkan, tidak menato tubuhnya sebagai identitas diri bagi orang Mentawai tersebut. Penyebabnya arus modernitas dan perkembangan zaman, meskipun pemerintah masih ingin berusaha mempertahankan kehidupan tradisi sebagai eksploitasi pariwisata agar menarik para wisatawan datang, selain menikmati pemandangan dan pantai tempat berselancar dengan ombak besarnya.

Namun, hasil bumi hutan pulau Siberut dikeruk habis dengan membabat hutan demi kepentingan kebutuhan kertas dan triplek, padahal kehidupan masyarakat tradisi Mentawai adalah hutan yang tidak boleh musnah sebagai Tuhan mereka. Kehidupan ‘Uma’ (rumah adat traditional) telah tergeser akibat arus globalisasi. Lepon Salakkirat ibaratnya pulau Siberut, di wilayah kepulauan Mentawai. Bagaimana nasib si Lepon akan datang ? itulah teka-teki yang disebutkan Fatris MS sang penulis.

‘Lepon Salakkirat’ di depan Menara Eiffel

Perjalanan berikutnya berlokasi di kepulauan Riau. Di balik gemerlap kerlap-kerlip lampu kehidupan di pulau Batam dan Singapura, ada sebuah pulau mengisahkan gelapnya lampu kehidupan di pulau Galang yang bersebelahan dengan pulau-pulau tersebut.

Nguyen yang berasal dari negara Vietnam, menjalani hidup di pulau Galang dalam barak pengungsian yang sekarang menjadi tempat untuk dikunjungi yang bukan eksotis pemandangan alam, melainkan realitas humanis yang menjadi kesan dan melahirkan pesan, agar selalu diingat dan menjadi pembelajaran.

Kisah pahit Nguyen adalah subjek di pulau Galang sebagai pelarian dengan menggunakan perahu lapuk terpampang di depan barak tersebut dari negara asalnya yang berkecamuk perang, berharap mendapat perlindungan hidup dan keselamatan yang lebih layak dari negerinya sendiri. Perjuangan hidup Nguyen di pulau Galang adalah perwakilan dari kehidupan pengungsi-pengungsi lain.

Bagaimana rasanya bila aku adalah Nguyen atau si pengungsi-pengungsi dari Vietnam ini ? itulah ilustrasi catatan perjalanan di pulau Galang yang menjadi destinasi wisata yang di ungkapkan Fatris MS. Berwisata tidak hanya menikmati pemandangan alam, tetapi melahirkan rasa empati dan kepedulian sebagai humanis. Itulah pokok pikiran yang diungkapkan Fatis dalam catatan di pulau Galang ini.

Merobek Sumatra dibaca di perpustakaan Bulac Paris

Sambil minum kopi, menjelajah ke tanah Gayo Nanggroe Aceh Darussalam dengan Arabikanya yang terkenal di dunia. Wilayah dataran tinggi yang dingin dan subur menjadikannya terkenal akan kopi yang kaya raya, dan melahirkan kekayaan budaya dan sosial. Sayangnya, kekayaan tradisi tersebut tidak menarik pelancong bertandang sejak akibat terjadinya peristiwa operasi keamanan di negeri tersebut.

Dituliskan Fatris, kemeriahan festival danau Lut Tawar telah sobek oleh angin, merefleksikan turunnya pariwisata di wilayah Gayo mengakibatkan masyarakat di sana selama delapan bulan seperti kuda di bawah rumpun bambu : duduk, makan, tertawa dan minum kopi, itupun bukan minum kopi Arabika, melainkan minum kopi Robusta.

Padahal, dulunya turis-turis berbondong mengunjungi karena penasaran akan kopi di tanah Gayo ini, meskipun aturan syariah tidak begitu ketat diterapkan di negeri ini. Wilayah Gayo yang kaya akan kopi, saat ini telah ditempatkan pada posisi yang tidak lagi begitu penting.

https://www.tiktok.com/@indr4francdo/photo/7670483944520846624?is_from_webapp=1&sender_device=pc&web_id=7677160954568902166

Catatan berikutnya wilayah danau Maninjau. Sebuah tempat lahir dan tumbuh sang penulis legendaris ‘Buya Hamka’. Tetapi penulis tidak mengisahkan hidup sang legenda ini, melainkan cerita pesta kemenangan pertempuran melawan hawa nafsu di waktu penyambutan sebelum memasuki hari satu syawal pada esok harinya, tepatnya di malam takbiran.

Kisah legenda danau Maninjau tentang cinta gadis Sani dengan lelaki Giran yang tak berkesampaian, disebabkan sifat dengki saudara-saudara Sani, sembilan lelaki di gunung Tinjau. Tetapi bukan legenda ini inti ceritanya. Pelaksanaan perang meriam bambu dan petasan  di pinggiran danau Maninjau di sponsori oleh para pemuda rantau yang datang menyambut satu syawal di kampung mereka.

Di samping itu, di tengah danau dilakukan pelayaran dua rakik ; pertama, rakik adat dengan simbol rakik rumah adat yang mempesona dengan lampu-lampu terang. Berikutnya rakik agama dengan simbol dekorasi mesjid yang indah juga bersinarkan cahaya lampu terang benderang.

Kedua rakik tersebut simbol mengingat kembali peristiwa luka lama di masa lalu mengenai perang dua paham di suku Minangkabau dengan perangnya yang terkenal bernama perang Padri. Dua paham bersiteru tersebut antara kaum adat dan kaum agama. Perang besar itu adalah hawa nafsu di dalam islam yang pada akhirnya perang Padri berakhir saat pemimpin Tuanku Imam Bonjol meredam hawa nafsunya dengan berhenti perang dengan sesama saudara dengan  menyerahkan kepemimpinan suku kembali kepada adat.

Pertemuan dua rakik tersebut cerminan perseteruan dua kaum di suku Minangkabau. Mungkin Buya Hamka di waktu kecil pernah mengikuti pesta bunyi meriam atau petasan hingga menyaksikan pelayaran dua rakik tersebut ? sebuah fantasi dari sang penulis. Adat Minangkabau dengan syariat islam, apakah saling bergantungan dan terealisasikan ? bisa iya, bisa tidak, bahkan diragukan, meski tidak ada lagi perang Padri, Fatris menuliskan.

Merobek Sumatra ketika di Museum Louvre Paris

Catatan berikut menuju daerah Jambi. Wilayah ini terdapat komplek candi-candi Muarojambi yang di bangun oleh sang penguasa bernama ‘Putri Pinang Masak’. Sang pemegang kekuasaan ini beralih keyakinan memeluk islam dikarenakan menikah dengan sang pedagang bernama Ahmad Salim yang berasal dari Turki ( sebagian mengatakan berasal dari Persia ), yang menganut agama islam dan tak sengaja terdampar di negeri Jambi ini.

Perlahan-lahan ajaran Budha meredup di Jambi meninggalkan kenangan komplek candi-candi dan menjadi saksi yang hampir terlupakan akibat tidak adanya catatan resmi hingga hampir tertimbun tanah.

Masih di Jambi, di daerah pedalaman yang hidup sekelompok masyarakat suku anak dalam dengan cara berpindah-pindah atau disebut nomaden di dalam hutan. Hutan ini perlahan-lahan tergusur akibat diganti menjadi perkebunan Sawit. Suku ‘Kubu’ atau anak dalam ini merasa kehidupan tradisi mereka resah dan kekhawatiran musnahnya  rimba tempat tinggal mereka.

Namun, mereka tetap bertahan. Perjalanan sang Penulis tentang cerita kehidupan rimba suku anak dalam dengan ditemani oleh Jana Harustakova dari benua Eropa yang penasaran tentang Indonesia, terutama di Pulau Sumatera ini.

Merobek Sumatra sewaktu perjalanan di kereta TGV

Perjalanan sang maestro Fatris MF terhempas ke gunung Padang. Sebuah Muara yang membatasi gunung tersebut yang sebenarnya bukanlah tinggi, tetapi lebih menyerupai bukit. Entah kenapa orang-orang di sana menyebutnya gunung yang menjadikannya nama gunung Padang, begitu kata Fatris. Untuk sampai ke Gunung padang ini mestilah menyeberang sampan (perahu kecil, kano) di Muara tempat berlabuhnya kapal-kapal ikan dari lautan, hingga berdirinya sebuah pelabuhan Muara.

Bahkan pelabuhan Muara ini menjadi tempat berlabuhnya transportasi kapal laut menuju kepulauan Mentawai. Bila ingin menyeberang lewat darat bisa dilakukan melewati jembatan bernama Siti Nurbaya. ‘Siti Nurbaya ?’, benar sekali, tokoh utama dalam novel karya Marah Rusli. Kisah bertemakan tentang kasih tak sampai, pengorbanan, dan penolakan kawin paksa hingga menjadikan era emansipasi perempuan di jaman itu.

Berlanjut perjalanan menuju sebuah pantai di balik gunung padang. Pantai Air manis yang sebenarnya air pantainya asin sekali karena dari air laut. Dari gunung padang berjalan menyusuri bukit gado-gado yang terdapat perkuburan orang-orang keturunan Tionghoa atau Cina.

Sesampainya di Pantai Air manis terlihat sebuah patung kapal yang terdapat seorang lelaki muda bersujud yang kisah legendanya terkenal ‘Si Malin Kundang anak Durhaka’ bertemakan durhaka kepada orang tua, kesombongan, hingga melupakan asal-usulnya. Itulah catatan perjalanan penulis dalam kisah Muara cinta si anak Durhaka yang merupakan perjalanannya mengunjungi tempat kuburan Siti Nurbaya hingga menuju kapal batu milik si Malin kundang.  

Sawahlunto, wilayah berikutnya di catatan perjalanan Fatris MF. Seperti wilayah suku gayo di Nangroe Aceh Darussalam yang kaya raya, Sawahlunto juga tempat yang dulunya memiliki emas hitam yang berlimpah menjadikan kota yang bernilai tinggi untuk di eksplorasi. Bedanya wilayah gayo emas hitamnya dari biji tumbuh-tumbuhan, sedangkan Sawahlunto emas hitamnya adalah batu.

Terkuak sebuah cerita kota kaya ini akan hasil bumi emas hitam atau bara batu. Berawal sebuah pekerjaan paksa bagi para tahanan yang bekerja ke lubang tambang sewaktu jaman masa kolonial Belanda dari penjara Muara Padang, ditambah lagi dari penjara Cipinang dan Glodok di Batavia demi mencapai banyaknya kebutuhan. Para tahanan bekerja ini dinamakan ‘Urang Rantai’ karena mereka harus di rantai dalam bekerja agar tidak lari. Terceritakan dalam kisah roman ‘Siti Nurbaya’ saat tokoh Samsul Bahri menyaksikan orang rantai yang mati di dalam kapal melompat ke laut dari kapal dan tidak muncul lagi. Bahkan tenaga kerja tidak hanya cukup bagi para tahanan, hingga dibuka lowongan besar-besaran dengan sistem kontrak yang berasal dari Jawa, Bali, Madura, dan Bugis untuk menggali emas hitam itu.

Ditambah lagi pekerja dari Cina dan Eropa. Untuk pekerja merasa betah, didatangkan juga perempuan-perempuan penghibur yang juga bekerja sistem kontrak sebagai ronggeng, penari ataupun pelacur. Dengan beragam pendatang yang multikultur melahirkan sebuah bahasa di Sawahlunto ini dengan sebutan bahasa ‘Tansi’.

Dengan berjalannya waktu, pamor emas hitam itu meredup akibat produksinya yang merosot tajam menyebabkan kota ini sekarang hanya meninggalkan alat-alat besi karatan dan sisa-sisa lobang penggalian tambang yang tak bisa dikembalikan. Bak roda berputar, Sawahlunto yang dulunya mewah dan bersinar, meninggalkan bara batu yang punah dan menjadi kenangan dengan menjadikannya kota wisata oleh pemerintah sekarang.

Untuk mengenang, diakan pula sebuah festival musik agar menarik para pendatang seyogyanya dahulu kota Sawahlunto seperti masa silam.

         Kemudian, penjelajahan sang penulis ke Gunung tertinggi di Sumatera, Kerinci namanya. Gunung ini memiliki danau air tawar dan menjadi danau tertinggi di Asia tenggara yang bernama Danau Gunung Tujuh. Sang penulis melakukan perjalanan ke gunung tersebut mencari suasana lain pergantian tahun baru.

Dalam perjalanan, dia bertemu penjaga gerbang rimba yang bertugas menjaga hutan di gunung itu agar tidak ada yang menebang kayu. Dia mendapat jawaban kenapa para pendaki melakukan kegiatan mendaki ini, menurutnya untuk mendalami kepercayaan mata hati dimana semakin tinggi mereka mendaki, semakin kecil mereka di hadapan sang pemilik alam, dan mereka menjadi sadar memiliki keterbatasan, begitu ungkapan dalam catatannya.

Ketika sampai di puncak, terlihat balasan kelelahan mereka saat berjuang berjalan melakukan pendakian dengan mengabadikan pemandangan ke dalam kamera mereka hingga menimbulkan kekaguman. Di gunung ini, banyak orang mendapat ketenangan dengan sendirinya seperti menyanyi, melihat bintang di langit, menyendiri, dilakukan saat malam pergantian tahun di luar suasana hiruk pikuk kota yang mereka lalui bernama rutinitas.  

Misteri ‘Morebek Sumatra’ di Museum Louvre Paris

Pariaman, wilayah perjalanan berikutnya. Ada sebuah perayaan ritual tradisi dilakukan di tempat ini setiap sepuluh Muharam dalam mengenang kematian Husein, cucu nabi Muhammad SAW di perang Karbala. Mereka menamakan ritual ini dengan sebutan ‘Tabuik’, tapi masyarakat Bengkulu manamainya dengan ‘Tabot’.

Perayaan ini menjadikan kerumunan tak biasanya di kawasan pantai Gondoriah yang biasanya ramai dengan bunyi ombak di pantai, namun, kala itu lautan manusia berkerumun merasakan ketukan ketukan pukulan gendang ‘tassa’ ibaratnya bagaikan ketukan jantung orang-orang di medan perang Karbala saat itu. Ada dua kelompok yang seakan-akan perang antara kubu ‘Tabuik Tassa’ dengan ‘Tabuik Subarang’.

Mereka adalah refleksi tiruan perang. Mungkinkah perang Karbala ?, penulis bertanya-tanya. Kenapa tradisi ‘Tabuik’ seakan ritual syah ini bisa sampai ke Pariaman ? padahal mayoritas masyarakat pariaman penganut mahzab Syafi’i yang jelas bukan syiah. Dijelaskan dahulu beberapa serdadu Tamil yang tergabung dalam infranteri Inggris Raya melarikan diri dari Bengkulu ke Pariaman.

Serdadu yang syiah ini mengembangkan tradisi ini dan diikuti oleh masyarakat Pariaman. Sampai kini perayaan ‘Tabuik’ ini hanya sebagai permainan kesenian anak nagari yang terjadi akibat suatu proses sosial. Apa simbol ‘Tabuik’ dibuang ke pantai laut ? Filosofinya melepas duka, melambangkan buraq, kendaraan yang mengantarkan arwah Husein ke surga hingga akhir dari segala perselisihan terciptanya perdamaian. Itulah misteri ‘Tabuik’ di Pariaman.

Kisah ‘Tabuik’ Pariaman kala di Museum Louvre Paris

Di akhir catatan, penulis kembali berada di wilayah Nangroe Aceh Darusalam. Mingisahkan suasana Provinsi tersebut setelah pasca 10 tahun bencana Tsunami. Sebelum tsunami, peristiwa konflik antara TNI dan TNA berkecamuk. Namun, peristiwa gelombang hitam yang menghantam provinsi itu menghentikan pertikaian mereka.

Di balik perdamaian itu, terlihat jalan-jalan raya besar baru ke arah kota sunyi senyap tak menimbulkan keramaian. Makna peristiwa tsunami menjadi ujung kesengsaraan pertikaian itu, ungkapan penyair Aceh yang terkenal kepada sang penulis. Dulu malam di Aceh dibatasi hanya hingga pukul 8 saat pergolakan, saat ini  bisa keluar malam sesuka hati tanpa batasan duduk menikmati kopi yang terkenal di kafe-kafe sepanjang jalan.

Wilayah ini bangkit dengan penerapan syariah islam yang berbeda dengan islam di Timur tengah seperti wanita-wanita Aceh dengan berpakaian kerudung sesuai syariat mengemudi bak bikers yang andal, bersekolah, berolahraga di tempat keramaian dan melenggak lenggok di atas catwalk dalam acara pegelaran busana yang seluruhnya menutupi bagian tubuh di Hotel Hermes Palace di kota Banda Aceh.

Suasana kota ini juga tidak terlihat sebuah Mal dan bioskop. Dan lagi, seakan-akan wilayah itu tidak ada hiburan. Yang ada hanyalah pekerjaan penambangan emas, pembabatan hutan terjadi dengan diganti pertambangan dan perkebunan dengan terang-terangan menyebabkan populasi Gajah berkurang entah ke hutan mana. Sang penulis seolah-olah terjebak dengan panggilan suara azan di Aceh ; pergi ke kafe menyeruput kopi atau ke mesjid pergi shalat ?

Momen penulis Fatris MF di Paris

Judul Buku : Catatan perjalanan Merobek Sumatra

Penulis : Fatris MF

Penerbit : PT. Serambi Ilmu Semesta

No. ISBN : 978-602-290-038-2

       

avatar Tidak diketahui

Author: Indra Francdo

Saya hidup dan berdomisili di kota Paris, Prancis sebagai tour guide Independen sejak tahun 2017. Saya menyukai petualang, suka menulis dan membaca baik tentang sejarah maupun cerita-cerita novel ( mudah-mudahan menciptakan novel sendiri ).

Apa komentar anda ?

Eksplorasi konten lain dari Indra Francdo di Prancis

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca