Review buku “Mom Stories in Parisˮ

Buku antologi ini merupakan kisah mahasiswi yang merangkap kodrat menjadi seorang ibu. Mereka hidup di luar negeri mengalami orientasi latar belakang budaya yang berbeda.

Paris merupakan kota cinta, membawa mereka menyelam dalam suasana empat musim yang berbeda yang tidak biasa mereka rasakan di tanah kelahiran mereka.

Buku antologi tentang Mahasiswi berkodrat seorang ibu di Paris

Suasana inilah menjadi pengalaman dan mereka tuangkan dalam tulisan-tulisan menghadirkan nilai-nilai keluarga, tanggung jawab, serta keteguhan hati yang kuat dan hebat.

“Bagaimana pengalaman-pengalaman cinta yang mereka dapatkan di kota Paris?ˮ  

1. SARAH ISMI KAMILAH

Kisahnya berawal dari perjalanan datang menuju negara Hexagone dengan lika-liku kejadian yang hampir gagal padahal saat itu sedang menjalani lehidupan baru indahnya perkawinan.

Lalu, berlanjut kisah perjalanan kedatangan sang buah hati mulai proses dari Prancis hingga hubungan terpisah ke negara Indonesia. Keluarga besar pun mendukung datang bersama ke Prancis hingga buah cinta mereka mengalami perjalanan hidup di taman bagaikan surga di negara mode, bahkan saat musim dingin dibaluti dengan salju.

“Dia menjadi jembatan bagiku untuk semakin mengenal Negeri Menara Eiffel ini. Negeri yang sangat asing bagiku, tapi bisa menjadi menyenangkan bersamanya.ˮ hal 189.

2. MARIA ULFA.

Mahasiswi ini mengisahkan ikon Prancis menara Eiffel saat menjadi saksi tentang orang-orang yang berkeyakinan tak tergoyahkan.

Kisah perjalanan studi yang mengalami tekanan-tekanan selama di kampus hingga hampir kalah akibat penyakit yang dialaminya dengan bersikap Syar’i di lingkungan tersebut.

Bahkan dia menjadi sampel bagi muslimah-muslimah dari negara lain. Hingga proses tersebut dapat diraih dengan sempurna, bahkan semakin sempurna dengan hadirnya permata hati yang menyejukkan jiwa.

Pengalaman pun tak kalah indah saat melewati ciptaan Tuhan berbentuk kristal-kristal putih di musim dingin menambah kekuatan iman untuk lebih tetap terus bersyukur.

“Pertemuan kami saat itu membuatku sangat bersyukur bahwa kerudung dan pakaian yang aku kenakan menjadi penyemangat bagi orang lain untuk mengikutinya.ˮ hal 171

3. WILMA VENIA.

Kehidupan di kota Paris yang penuh cahaya tidak selalu menerangi kehidupan semua manusia. Hal itu dialami muslimah ini dalam cerita asa yang terengut dan hilang.

Namun, kebaikan masyarakat kota Paris ter tuang dalam kisah menarik citron vert atau jeruk hijau saat mempersiapkan hidangan makanan sehari-harinya bersama sang suami.

Hikmah beradaptasi  dengan suasana mandiri pun dialami di Rumah Sakit saat menjalani persalinan belahan jiwa yang mereka rindukan dilukiskan dalam kisah Valida.

 “Jawaban bahwa teman sekamar bernama Valida yang sempat tak kusuka adalah yang terbaik untukku sebagai teman pertama setelah selesei melahirkan.ˮ hal 56

4. DENI ENDRIANI.

Penulis satu ini mengawali kesan kisah kebaikan tentang seorang supir yang mengantar perjalanan tujuan perkuliahannya di Prancis ini. Kemudian, cerita pengalaman bersama permata hati saat di dalam janin hingga tumbuh besar di taman kanak-kanak di Prancis ini.

Dan juga, kisah hidup antara kampus dengan rumah. Ada juga kisah memberi kebaikan saat confinement atau berdiam dan beraktifitas di rumah ketika Covid terjadi.  

Cahaya kota Paris yang juga tidak terang benderang juga dialami dirinya, saat mengalami peristiwa kecelakaan kecil yang menyedihkan dari sang permata hati, namun dijalani dengan sabar hingga menjadikan sebuah hikmah.

Sang penulis tidak lupa memberi resep-resep tips-tips apa saja administrasi birokrasi di negara Prancis.

“Nama itu telah ada dipikiranku sejak lahir dari dua puluh tahun yang lalu. Nama yang indah, laksana keindahan pegunungan Alpen yang kulihat pada satu halaman buku harian.ˮ hal 57

“Dimana bumi dipijak, di sana langit dijunjung.” Cerita empat orang muslimah ini sepadan dengan pepatah di atas.  Hal itu tidak hanya memberi penjelasan beraneka ragam tentang kabar negara Prancis, namun memberi hikmah dalam jiwa serta menjadi motivasi serta menatap sisi yang lain tentang ikhtiar dan usaha bagi semangat perantau dalam mengenal lingkungan di negara Prancis.

Kisah mereka cocok bagi kamu yang berjiwa petualang, menyukai kehidupan serta tantangan baru yang ingin lepas dari zona nyaman.

Well, Selamat hunting buku ini di Gramedia atau di pustaka di seluruh nusantara bila tersedia.

Judul Buku : Mom Stories in Paris

Penulis : Sarah Ismi Kamilah, Maria Ulfa, Wilma Venia, Deni Endriani

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Jumlah Halaman : 236 halaman

ISBN : 978 – 602 – 06 – 6534 – 4  

Tenggelam dalam catatan perjalanan ‘Merobek Sumatra’ di Prancis

Catatan perjalanan ‘Merobek Sumatra’ telah menghayutkan diriku ke alam dimensi lain tentang kehidupan salah satu pulau terbesar dari 5 pulau di Indonesia. Seorang lelaki dari bayang, mencurahkan kehidupan eksplorasinya ke dalam aksara sastra tentang misteri dan sejarah akan tempat tersebut.

Fatris MF membawa petualangannya akan Sumatra yang penuh misteri dan tidak semua orang tahu, bahkan aku yang pernah hidup lama di sana, tidak mengetahui ketidakpahaman pulau besar tersebut.

Petualangan pertama menceritakan anak bernama ‘Lepon Salakkirat’ dari suku Mentawai, dengan tidak memilih menjadi Sikerei (dukun) sebagai bagian mempertahankan tradisi dalam kehidupan masyarakat di sana, memilih untuk menjadi guru.

Bahkan, tidak menato tubuhnya sebagai identitas diri bagi orang Mentawai tersebut. Penyebabnya arus modernitas dan perkembangan zaman, meskipun pemerintah masih ingin berusaha mempertahankan kehidupan tradisi sebagai eksploitasi pariwisata agar menarik para wisatawan datang, selain menikmati pemandangan dan pantai tempat berselancar dengan ombak besarnya.

Namun, hasil bumi hutan pulau Siberut dikeruk habis dengan membabat hutan demi kepentingan kebutuhan kertas dan triplek, padahal kehidupan masyarakat tradisi Mentawai adalah hutan yang tidak boleh musnah sebagai Tuhan mereka. Kehidupan ‘Uma’ (rumah adat traditional) telah tergeser akibat arus globalisasi. Lepon Salakkirat ibaratnya pulau Siberut, di wilayah kepulauan Mentawai. Bagaimana nasib si Lepon akan datang ? itulah teka-teki yang disebutkan Fatris MS sang penulis.

‘Lepon Salakkirat’ di depan Menara Eiffel

Perjalanan berikutnya berlokasi di kepulauan Riau. Di balik gemerlap kerlap-kerlip lampu kehidupan di pulau Batam dan Singapura, ada sebuah pulau mengisahkan gelapnya lampu kehidupan di pulau Galang yang bersebelahan dengan pulau-pulau tersebut.

Nguyen yang berasal dari negara Vietnam, menjalani hidup di pulau Galang dalam barak pengungsian yang sekarang menjadi tempat untuk dikunjungi yang bukan eksotis pemandangan alam, melainkan realitas humanis yang menjadi kesan dan melahirkan pesan, agar selalu diingat dan menjadi pembelajaran.

Kisah pahit Nguyen adalah subjek di pulau Galang sebagai pelarian dengan menggunakan perahu lapuk terpampang di depan barak tersebut dari negara asalnya yang berkecamuk perang, berharap mendapat perlindungan hidup dan keselamatan yang lebih layak dari negerinya sendiri. Perjuangan hidup Nguyen di pulau Galang adalah perwakilan dari kehidupan pengungsi-pengungsi lain.

Bagaimana rasanya bila aku adalah Nguyen atau si pengungsi-pengungsi dari Vietnam ini ? itulah ilustrasi catatan perjalanan di pulau Galang yang menjadi destinasi wisata yang di ungkapkan Fatris MS. Berwisata tidak hanya menikmati pemandangan alam, tetapi melahirkan rasa empati dan kepedulian sebagai humanis. Itulah pokok pikiran yang diungkapkan Fatis dalam catatan di pulau Galang ini.

Merobek Sumatra dibaca di perpustakaan Bulac Paris

Sambil minum kopi, menjelajah ke tanah Gayo Nanggroe Aceh Darussalam dengan Arabikanya yang terkenal di dunia. Wilayah dataran tinggi yang dingin dan subur menjadikannya terkenal akan kopi yang kaya raya, dan melahirkan kekayaan budaya dan sosial. Sayangnya, kekayaan tradisi tersebut tidak menarik pelancong bertandang sejak akibat terjadinya peristiwa operasi keamanan di negeri tersebut.

Dituliskan Fatris, kemeriahan festival danau Lut Tawar telah sobek oleh angin, merefleksikan turunnya pariwisata di wilayah Gayo mengakibatkan masyarakat di sana selama delapan bulan seperti kuda di bawah rumpun bambu : duduk, makan, tertawa dan minum kopi, itupun bukan minum kopi Arabika, melainkan minum kopi Robusta.

Padahal, dulunya turis-turis berbondong mengunjungi karena penasaran akan kopi di tanah Gayo ini, meskipun aturan syariah tidak begitu ketat diterapkan di negeri ini. Wilayah Gayo yang kaya akan kopi, saat ini telah ditempatkan pada posisi yang tidak lagi begitu penting.

https://www.tiktok.com/@indr4francdo/photo/7670483944520846624?is_from_webapp=1&sender_device=pc&web_id=7677160954568902166

Catatan berikutnya wilayah danau Maninjau. Sebuah tempat lahir dan tumbuh sang penulis legendaris ‘Buya Hamka’. Tetapi penulis tidak mengisahkan hidup sang legenda ini, melainkan cerita pesta kemenangan pertempuran melawan hawa nafsu di waktu penyambutan sebelum memasuki hari satu syawal pada esok harinya, tepatnya di malam takbiran.

Kisah legenda danau Maninjau tentang cinta gadis Sani dengan lelaki Giran yang tak berkesampaian, disebabkan sifat dengki saudara-saudara Sani, sembilan lelaki di gunung Tinjau. Tetapi bukan legenda ini inti ceritanya. Pelaksanaan perang meriam bambu dan petasan  di pinggiran danau Maninjau di sponsori oleh para pemuda rantau yang datang menyambut satu syawal di kampung mereka.

Di samping itu, di tengah danau dilakukan pelayaran dua rakik ; pertama, rakik adat dengan simbol rakik rumah adat yang mempesona dengan lampu-lampu terang. Berikutnya rakik agama dengan simbol dekorasi mesjid yang indah juga bersinarkan cahaya lampu terang benderang.

Kedua rakik tersebut simbol mengingat kembali peristiwa luka lama di masa lalu mengenai perang dua paham di suku Minangkabau dengan perangnya yang terkenal bernama perang Padri. Dua paham bersiteru tersebut antara kaum adat dan kaum agama. Perang besar itu adalah hawa nafsu di dalam islam yang pada akhirnya perang Padri berakhir saat pemimpin Tuanku Imam Bonjol meredam hawa nafsunya dengan berhenti perang dengan sesama saudara dengan  menyerahkan kepemimpinan suku kembali kepada adat.

Pertemuan dua rakik tersebut cerminan perseteruan dua kaum di suku Minangkabau. Mungkin Buya Hamka di waktu kecil pernah mengikuti pesta bunyi meriam atau petasan hingga menyaksikan pelayaran dua rakik tersebut ? sebuah fantasi dari sang penulis. Adat Minangkabau dengan syariat islam, apakah saling bergantungan dan terealisasikan ? bisa iya, bisa tidak, bahkan diragukan, meski tidak ada lagi perang Padri, Fatris menuliskan.

Merobek Sumatra ketika di Museum Louvre Paris

Catatan berikut menuju daerah Jambi. Wilayah ini terdapat komplek candi-candi Muarojambi yang di bangun oleh sang penguasa bernama ‘Putri Pinang Masak’. Sang pemegang kekuasaan ini beralih keyakinan memeluk islam dikarenakan menikah dengan sang pedagang bernama Ahmad Salim yang berasal dari Turki ( sebagian mengatakan berasal dari Persia ), yang menganut agama islam dan tak sengaja terdampar di negeri Jambi ini.

Perlahan-lahan ajaran Budha meredup di Jambi meninggalkan kenangan komplek candi-candi dan menjadi saksi yang hampir terlupakan akibat tidak adanya catatan resmi hingga hampir tertimbun tanah.

Masih di Jambi, di daerah pedalaman yang hidup sekelompok masyarakat suku anak dalam dengan cara berpindah-pindah atau disebut nomaden di dalam hutan. Hutan ini perlahan-lahan tergusur akibat diganti menjadi perkebunan Sawit. Suku ‘Kubu’ atau anak dalam ini merasa kehidupan tradisi mereka resah dan kekhawatiran musnahnya  rimba tempat tinggal mereka.

Namun, mereka tetap bertahan. Perjalanan sang Penulis tentang cerita kehidupan rimba suku anak dalam dengan ditemani oleh Jana Harustakova dari benua Eropa yang penasaran tentang Indonesia, terutama di Pulau Sumatera ini.

Merobek Sumatra sewaktu perjalanan di kereta TGV

Perjalanan sang maestro Fatris MF terhempas ke gunung Padang. Sebuah Muara yang membatasi gunung tersebut yang sebenarnya bukanlah tinggi, tetapi lebih menyerupai bukit. Entah kenapa orang-orang di sana menyebutnya gunung yang menjadikannya nama gunung Padang, begitu kata Fatris. Untuk sampai ke Gunung padang ini mestilah menyeberang sampan (perahu kecil, kano) di Muara tempat berlabuhnya kapal-kapal ikan dari lautan, hingga berdirinya sebuah pelabuhan Muara.

Bahkan pelabuhan Muara ini menjadi tempat berlabuhnya transportasi kapal laut menuju kepulauan Mentawai. Bila ingin menyeberang lewat darat bisa dilakukan melewati jembatan bernama Siti Nurbaya. ‘Siti Nurbaya ?’, benar sekali, tokoh utama dalam novel karya Marah Rusli. Kisah bertemakan tentang kasih tak sampai, pengorbanan, dan penolakan kawin paksa hingga menjadikan era emansipasi perempuan di jaman itu.

Berlanjut perjalanan menuju sebuah pantai di balik gunung padang. Pantai Air manis yang sebenarnya air pantainya asin sekali karena dari air laut. Dari gunung padang berjalan menyusuri bukit gado-gado yang terdapat perkuburan orang-orang keturunan Tionghoa atau Cina.

Sesampainya di Pantai Air manis terlihat sebuah patung kapal yang terdapat seorang lelaki muda bersujud yang kisah legendanya terkenal ‘Si Malin Kundang anak Durhaka’ bertemakan durhaka kepada orang tua, kesombongan, hingga melupakan asal-usulnya. Itulah catatan perjalanan penulis dalam kisah Muara cinta si anak Durhaka yang merupakan perjalanannya mengunjungi tempat kuburan Siti Nurbaya hingga menuju kapal batu milik si Malin kundang.  

Sawahlunto, wilayah berikutnya di catatan perjalanan Fatris MF. Seperti wilayah suku gayo di Nangroe Aceh Darussalam yang kaya raya, Sawahlunto juga tempat yang dulunya memiliki emas hitam yang berlimpah menjadikan kota yang bernilai tinggi untuk di eksplorasi. Bedanya wilayah gayo emas hitamnya dari biji tumbuh-tumbuhan, sedangkan Sawahlunto emas hitamnya adalah batu.

Terkuak sebuah cerita kota kaya ini akan hasil bumi emas hitam atau bara batu. Berawal sebuah pekerjaan paksa bagi para tahanan yang bekerja ke lubang tambang sewaktu jaman masa kolonial Belanda dari penjara Muara Padang, ditambah lagi dari penjara Cipinang dan Glodok di Batavia demi mencapai banyaknya kebutuhan. Para tahanan bekerja ini dinamakan ‘Urang Rantai’ karena mereka harus di rantai dalam bekerja agar tidak lari. Terceritakan dalam kisah roman ‘Siti Nurbaya’ saat tokoh Samsul Bahri menyaksikan orang rantai yang mati di dalam kapal melompat ke laut dari kapal dan tidak muncul lagi. Bahkan tenaga kerja tidak hanya cukup bagi para tahanan, hingga dibuka lowongan besar-besaran dengan sistem kontrak yang berasal dari Jawa, Bali, Madura, dan Bugis untuk menggali emas hitam itu.

Ditambah lagi pekerja dari Cina dan Eropa. Untuk pekerja merasa betah, didatangkan juga perempuan-perempuan penghibur yang juga bekerja sistem kontrak sebagai ronggeng, penari ataupun pelacur. Dengan beragam pendatang yang multikultur melahirkan sebuah bahasa di Sawahlunto ini dengan sebutan bahasa ‘Tansi’.

Dengan berjalannya waktu, pamor emas hitam itu meredup akibat produksinya yang merosot tajam menyebabkan kota ini sekarang hanya meninggalkan alat-alat besi karatan dan sisa-sisa lobang penggalian tambang yang tak bisa dikembalikan. Bak roda berputar, Sawahlunto yang dulunya mewah dan bersinar, meninggalkan bara batu yang punah dan menjadi kenangan dengan menjadikannya kota wisata oleh pemerintah sekarang.

Untuk mengenang, diakan pula sebuah festival musik agar menarik para pendatang seyogyanya dahulu kota Sawahlunto seperti masa silam.

         Kemudian, penjelajahan sang penulis ke Gunung tertinggi di Sumatera, Kerinci namanya. Gunung ini memiliki danau air tawar dan menjadi danau tertinggi di Asia tenggara yang bernama Danau Gunung Tujuh. Sang penulis melakukan perjalanan ke gunung tersebut mencari suasana lain pergantian tahun baru.

Dalam perjalanan, dia bertemu penjaga gerbang rimba yang bertugas menjaga hutan di gunung itu agar tidak ada yang menebang kayu. Dia mendapat jawaban kenapa para pendaki melakukan kegiatan mendaki ini, menurutnya untuk mendalami kepercayaan mata hati dimana semakin tinggi mereka mendaki, semakin kecil mereka di hadapan sang pemilik alam, dan mereka menjadi sadar memiliki keterbatasan, begitu ungkapan dalam catatannya.

Ketika sampai di puncak, terlihat balasan kelelahan mereka saat berjuang berjalan melakukan pendakian dengan mengabadikan pemandangan ke dalam kamera mereka hingga menimbulkan kekaguman. Di gunung ini, banyak orang mendapat ketenangan dengan sendirinya seperti menyanyi, melihat bintang di langit, menyendiri, dilakukan saat malam pergantian tahun di luar suasana hiruk pikuk kota yang mereka lalui bernama rutinitas.  

Misteri ‘Morebek Sumatra’ di Museum Louvre Paris

Pariaman, wilayah perjalanan berikutnya. Ada sebuah perayaan ritual tradisi dilakukan di tempat ini setiap sepuluh Muharam dalam mengenang kematian Husein, cucu nabi Muhammad SAW di perang Karbala. Mereka menamakan ritual ini dengan sebutan ‘Tabuik’, tapi masyarakat Bengkulu manamainya dengan ‘Tabot’.

Perayaan ini menjadikan kerumunan tak biasanya di kawasan pantai Gondoriah yang biasanya ramai dengan bunyi ombak di pantai, namun, kala itu lautan manusia berkerumun merasakan ketukan ketukan pukulan gendang ‘tassa’ ibaratnya bagaikan ketukan jantung orang-orang di medan perang Karbala saat itu. Ada dua kelompok yang seakan-akan perang antara kubu ‘Tabuik Tassa’ dengan ‘Tabuik Subarang’.

Mereka adalah refleksi tiruan perang. Mungkinkah perang Karbala ?, penulis bertanya-tanya. Kenapa tradisi ‘Tabuik’ seakan ritual syah ini bisa sampai ke Pariaman ? padahal mayoritas masyarakat pariaman penganut mahzab Syafi’i yang jelas bukan syiah. Dijelaskan dahulu beberapa serdadu Tamil yang tergabung dalam infranteri Inggris Raya melarikan diri dari Bengkulu ke Pariaman.

Serdadu yang syiah ini mengembangkan tradisi ini dan diikuti oleh masyarakat Pariaman. Sampai kini perayaan ‘Tabuik’ ini hanya sebagai permainan kesenian anak nagari yang terjadi akibat suatu proses sosial. Apa simbol ‘Tabuik’ dibuang ke pantai laut ? Filosofinya melepas duka, melambangkan buraq, kendaraan yang mengantarkan arwah Husein ke surga hingga akhir dari segala perselisihan terciptanya perdamaian. Itulah misteri ‘Tabuik’ di Pariaman.

Kisah ‘Tabuik’ Pariaman kala di Museum Louvre Paris

Di akhir catatan, penulis kembali berada di wilayah Nangroe Aceh Darusalam. Mingisahkan suasana Provinsi tersebut setelah pasca 10 tahun bencana Tsunami. Sebelum tsunami, peristiwa konflik antara TNI dan TNA berkecamuk. Namun, peristiwa gelombang hitam yang menghantam provinsi itu menghentikan pertikaian mereka.

Di balik perdamaian itu, terlihat jalan-jalan raya besar baru ke arah kota sunyi senyap tak menimbulkan keramaian. Makna peristiwa tsunami menjadi ujung kesengsaraan pertikaian itu, ungkapan penyair Aceh yang terkenal kepada sang penulis. Dulu malam di Aceh dibatasi hanya hingga pukul 8 saat pergolakan, saat ini  bisa keluar malam sesuka hati tanpa batasan duduk menikmati kopi yang terkenal di kafe-kafe sepanjang jalan.

Wilayah ini bangkit dengan penerapan syariah islam yang berbeda dengan islam di Timur tengah seperti wanita-wanita Aceh dengan berpakaian kerudung sesuai syariat mengemudi bak bikers yang andal, bersekolah, berolahraga di tempat keramaian dan melenggak lenggok di atas catwalk dalam acara pegelaran busana yang seluruhnya menutupi bagian tubuh di Hotel Hermes Palace di kota Banda Aceh.

Suasana kota ini juga tidak terlihat sebuah Mal dan bioskop. Dan lagi, seakan-akan wilayah itu tidak ada hiburan. Yang ada hanyalah pekerjaan penambangan emas, pembabatan hutan terjadi dengan diganti pertambangan dan perkebunan dengan terang-terangan menyebabkan populasi Gajah berkurang entah ke hutan mana. Sang penulis seolah-olah terjebak dengan panggilan suara azan di Aceh ; pergi ke kafe menyeruput kopi atau ke mesjid pergi shalat ?

Momen penulis Fatris MF di Paris

Judul Buku : Catatan perjalanan Merobek Sumatra

Penulis : Fatris MF

Penerbit : PT. Serambi Ilmu Semesta

No. ISBN : 978-602-290-038-2

       

Kami (Bukan) Sarjana Kertas

Kami (bukan) Sarjana Kertas di Paris

Kami (Bukan) Sarjana Kertas menceburkanku tenggelam dalam dunia kehidupan Mahasiswa. Awal kenal tentang buku ini, saat iseng-iseng melakukan  skrol-skrol IG dan FB dalam pencaharian buku-buku asyik untuk mengusir waktu percuma dalam perjalanan dan membunuh waktu tak berarti di saat-saat kekosongan hari.

Akhirnya, papan selancar internet berhenti tertuju kepada seorang penulis saat ngonten di IGnya di Terminal Bandara BIM Padang yang baru mendarat nan hendak menghadiri acara diskusi atau apalah bagi orang umum dan bagi Mahasiswa-i Universitas UNP Padang dan Pustakasteva.

Yang bikin tafakur, saat dia berbicara berbahasa daerah…’heee urang Minang abang ko kiro ee, tapi ba a kok Jombang namo abang bang ? itu kamu, hp kamu indak kamu pakai khan ? Campak an, agiah an ka ayam lei’…
‘Karambiah! ongeh gaya abang ko lei !’, dalam hatiku berkata.

Saatku searching lebih dalam di Google tentang si penulis ini, mataku terbelalak-terbelalak membaca biography dan karyanya. Benar-benar ketinggalan aku yang tidak optudet ( Up to date ) saat ini.

Kukirim pesan ke keluargaku di kota Bengkuang, ‘Tolong balian buku karya paja ko di Gramed yo !‘, pintaku mendesaknya untuk dibelikan. Sebulan kemudian, kumpulan hasil tinta ketikan karyanya mendarat di kota PARIaman dan Sekitarnya alias Paris. Pertama,

Aku explore karyanya Kami (Bukan) Sarjana Kertas. Aku penasaran apa maksud paja Jombang ko mendeskripsikan kelompok pelajar yang menjadi Maha ini diceritakan. Kocak, gengsi, egoisme, keseriusan, selow, kecewa, ambisi, motivasi, serta menghasilkan dan tidaknya sebuah kertas berlabel Sarjana.

Detailnya aku tidak berkomentar tentang isi cerita…kalau kamu-kamu mau tau isi ceritanya, ya  beli lah ! sekalian minta tanda tangannya biar bertanda bahwa kamu beli buku yang bukan bajakannya….atau pinjam sono di pustaka-pustaka yang tersedia. Semangat membaca!!…..

Kami (bukan) Sarjana Kertas di Museum Louvre

         Dalam tulisan ini aku flashback dalam memori-memori indah masa-masa perjuangan dan kehidupan dunia kampus yang aku geluti di kota Bengkuang tempatku dulu. Perjuangan untuk meraih kemerdekaan bersama teman-teman seperjuangan dulu maupun yang telah gugur (mudah-mudahan mereka masih ada dan membaca tulisan ini). Merdeka dari apa ? Merdeka mendapatkan sebuah kertas. Kertas apa ? Kertas kebanggaan.

Meskipun jaman sekarang kertas itu tidak lagi di perlukan dalam kehidupan di negeriku, karena akan kalah sama kekuasaan yang berbalut kebohongan bernuansa politik. Kampus biruku terletak di bagian Utara kota Bengkuang.

Kamu tau Bingkuang khan ? trus kamu juga tau kenapa kota ini di sebut kota Bengkuang ? yang kini berubah menjadi kota Kerupuk ? Kamu tanya mbah Google untuk mengetahuinya atau tanya ke si Jombang tentang Bengkuang ini. Kembali ke tulisan, Yah….kampus biruku adalah sebuah kampus swasta di jamannya. Peran tokoh Ogi di dalam novel seperti sedikit refleksi bagiku.

Tokoh yang tak lulus di kampus negeri, berbelok ke kampus swasta keren, beda dengan kampus si Ogi, kampus UDEL, yang existensinya sekarat akibat pemberontakan sang dosen Sugiono (Saya kira si Jombang mungkin terinspirasi seorang tokoh Sugiono dari  sebuah film Jepang).

Awal mula perkuliahan di jamanku, aktifitas kegiatan OSPEK masih terlihat eksis. Terlihat suasana Senioritas dan junioritas, suasana senior yang mencari-cari junior bunga-bunga kampus baru untuk didekati hingga digauli.

Terkadang, dosen-dosen yang baru kami kenal pun memprovokasi agar nilai-nilai Ospek bukan menghasilkan jiwa otoriter sang senior yang memotivasi kami agar melakukan perlawanan.

Hikmah selesei Ospek, selain pengenalan kampus, kami dengan senior menjadi lebih saling mengenal dan bergaul, saling tidak ada batas antara senior dan junior. Hanya di awal-awal kegiatan Ospek strata itu terlaksana. Bahkan, keakraban setelah Ospek melakukan aktifitas KBM (Kemah Bakti Mahasiswa) ke desa-desa terpencil.  

Aku pun juga refleksi dari kisah si Sania, tokoh yang hobi bermain musik dan manggung di kafe-kafe bahkan bercita-cita ingin menjadi pemusik terkenal. Tetapi aku main musik bukan di cafe-cafe, melainkan di acara-acara festival atau acara di gedung melakukan konser hingga aku HAMPIR terkenal bahkan manggung di kota-kota tetangga seperti kota Pekanbaru dan kota Duri.

Beruntungnya, kehidupan menjadi pemain musik tidak menjadi nyata sampai sekarang ini. Ah….Aku ingat sang gitaris teman kampus biruku sesama main musik dan ngeband. Anak asli asal Sawahlunto. Bagiku, mungkin dia Yngwie Malmsten, John Petrucci, Steve Vai, Eddie Van Hallen, Tom morello, Nuno Bettencourt, Paul Gilbert, Wes Borlan, dan banyak lagi.

Bahkan aku dan dia menciptakan beberapa lagu ciptaan sendiri yang kami mainkan di konser Sastrakustik. Meskipun aku membelot darinya beraliran musik lebih keras, dia telah memberi aku kenangan bersama tentang seni dalam melodi melalui petikan jari tangan cepat lewat tali dawai gitar. Bedanya aku dengan Sania, musiknya Rock sedangkan aku lebih keras dari Rock. Kira-kira musik apa tuh ?

Se isap dua isap, kegiatan itu juga nyata dan ada dalam kehidupan di kampus biruku. Apalagi aku punya seorang teman dalam satu kelas bernama Habib ( bukan seorang ulama ) melakukan se isap dua isap, bahkan melakukan transaksi di tempat aku kuliah. Biasa lah ! buka kios kecil-kecilan.

Sampai-sampai dia bilang, BB (barang bukti) di letakkan di bawah batu tersembunyi di dekat kelas belajar. Terkadang dia mengikuti pelajaran di kelas dengan muka bermata merah sambil tersenyum-senyum ramah bercengkerama bersama aku dan teman-teman sekelas mengisi kecerian hari-hari kami.

Kampus biruku berlokasi di daerah yang selalu bernuansa kunjungan angin lautan. Seperti lagunya almarhum Imanez yang populer saat artis ini naik daun. Benar sekali…..Anak Pantai judul lagunya memang gambaran dari identitas kami.

Bila selesei belajar di kelas atau datang lebih awal, kami bisa nongkrong di daerah tersebut sambil merenungi, memandang, menghafal dan mengulang-ulang pelajaran ataupun berinspirasi sambil menatap ombak memecah bebatuan karang saat menghampiri kami. Suasana yang kami hadapi setiap hari memberi semangat dalam beraktifitas bahkan merasa tubuh menjadi malas. Ah….itu suasana yang sangat aku rindukan…..

Tujuh Mahasiswa Kampus Udel di Museum Louvre

Gala, pemuda hobi mendaki gunung untuk meredam kegaulauan dalam kehidupan dengan bapaknya. Karakternya juga tercermin dalam adrenalinku dan juga teman-teman sekelas kampusku, tetapi bukan karakter kegalauannya.

Aku ingat, kuliah di tahun kedua saat teman-teman sekelas sudah mulai dekat dan akrab hingga keakraban kami pun diekspresikan dengan alam menjadi sebuah adventur melakukan pendakian bersama-sama menaklukan sebuah gunung merapi yang saat itu belum memperlihatkan kemarahannya saat sekarang ini.

Marapi, adalah saksi bisu keakraban dan kenangan pertemanan kami yang menyatu dengan alam. Memori inipun menjadi inspirasiku dalam menulis sebuah novel (entah kapan seleseinya…..masih dalam pengerjaan penulisan).

Deskripsi dosen Lira dalam Kami (bukan) Sarjana Kertas diawal cerita membagikan Pizza kepada mahasiswa-i kampus UDEL merupakan suasana kehidupan aku dan teman-teman sperjuangan dalam hidup di dunia kampus biruku. Enak, lezat, praktis, meningkatkan sistem kekebalan tubuh, meskipun tergolong sebagai makanan tidak sehat bila dikonsumsi dalam jumlah banyak.

Enak karena menyukai kegiatan kehidupan kampus yang bebas sesuai keinginan hati, Lezat karena suasana aktifitas belajar yang berdikari sesuai kemauan sendiri, meningkatkan sistem kekebalan tubuh karena bertahan sesuai dengan diri sendiri, namun bila terbuai suasana kebebasan yang tidak di kontrol diri sendiri bisa berakibat kejatuhan di dalam jurang kehidupan yang tersesat. Dosen lira pun juga memberi pesan dalam pelepasan tikus-tikus di dalam koper yang dibuka setelah menikmati makanan pizza yang lezat.

Ah….aku rindu kampus biruku. Kawasan dunia pendidikan teletak di utara kota Bengkuang, banyak dikelilingi rumah-rumah kos-kos an, menjorok ke arah tepi lautan. Kampus I bernamakan seorang tokoh proklamator kemerdekaan yang pernah bersekolahkan di negeri seberang. Saat ini sudah pindah ke kawasan kampus II Aiapacah. Kampus yang lahir dari sebuah Yayasan Pendidikan Wawasan Nusantara. Teruntuk sebuah kenangan…….Universitas Bung Hatta ulak karang !!!!.  

Judul Buku : Kami ( Bukan ) Sarjana Kertas

Penulis : J.S. Khairen

Penerbit : PT. Gramedia Widiasarana

No. ISBN : 978-602-05-3070-3