Kesuksesan ‘Napoleon’ dalam Arc de Triomphe

             “Para pasukan, aku bangga padamu!….,aku akan membawa dirimu kembali pulang ke Prancis. Engkau akan menjadi pusat perhatian dan kasih sayang yang paling lembut. Cukup engkau berkata, Saya berada di pertempuran ‘Austerlitz’ dimana menjadi sosok pria pemberani!.ˮ
Napoleon Bonaparte berorasi untuk pasukannya bernama ‘La Grande Armée’ di pertempuran ‘Austerlitz’, 8 Desember 1805 saat melawan Kekaisaran Austria, kekaisaran Romawi hingga kekaisaran Russia yang dijuluki pertempuran melawan tiga Kaisar.

Pagi menjelang siang melecut aku untuk bergerak mengunjungi suatu gerbang yang berdiri kokoh menghubungkan titik penting menjadi persimpangan dua belas jalan raya perkotaan Paris yang berjajar pepohonan. ‘Gerbang Kemenangan’ tempat itu bernama, atau dikenal dalam bahasa Prancis ‘Arc de Triomphe’.

Pagi menjelang siang itu merupakan sebuah hari di Prancis yang disebut ‘hari warisan budaya’. “Apa pula budaya ‘Arc de Triomphe’ yang hendak mau diwariskan ?,ˮ sebuah pertanyaan mendarat didalam pikiranku.

Posisi Arc de Triomphe berada di tengah-tengah yang dikelilingi jalur jalan raya. Masuk mendekati monumen ini harus berjalan ke lorong bawah tanah dan dilarang berjalan menyeberanginya. Saat antrian mendekati pintu pemeriksaan, aku menyentuh dan meraba-raba dinding bangunan tersebut sebagai ungkapan rasa penasaranku.

“Apa maksud riwayat bangunan ‘Arc de Triomphe’ ini ? secara seni arsitek bangunan, aku mengaguminya. Tapi, apa pesan-pesan yang disampaikan bangunan berbentuk monumen romawi kuno ini ?,ˮ aku terus bergumam sendiri sambil memandang pelancong-pelancong berselfie ria dalam sebuah photo dengan background monumen ini.

Sejarah mencatat, ‘Arc de Triomphe’ mulai dibangun pada tahun 1806, bertujuan menghormati jasa para pahlawan yang gugur dalam pertempuran demi Prancis, terutama pasukan ‘Grande Armée’.

Kaisar Napoleon Bonaparte ingin rakyatnya mengenang sosok orang-orang pemberani dalam pertempuran demi membela negaranya, maka dari itu terbesit olehnya mendirikan monumen pahlawan ini, bahkan dia sendiri yang mendesigne bangunan ini.

‘Apa Napoleon seorang arsitek atau seorang tentara ?, pertanyaan mengular lagi di kepalaku. Pembangunan ini mengalami hambatan yang cukup lama dan sempat terhenti, namun dilanjutkan kembali pada tahun 1823 hingga selesei tahun 1836.

“Eeeiittss!….Monumen ini bukan di kota Kediri Indonesia yah, tapi berada di kota Paris Prancis.ˮ

Saat berdiri melihat ke atas monumen, terdapat nama-nama pasukan yang gugur terukir di dinding ini, jumlahnya ada 660 nama. Patung-patung di dinding monumen seakan berbicara peristiwa-peristiwa tertentu saat perang, itulah keadaan perang ‘Austerlitz’. “Kenapa perang ‘Austerlitz’?,ˮ aku terus larut dan terseret berada ke dalam sungai riwayat tersebut.

660 nama pasukan yang gugur

Di empat sisi kaki bangunan monumen ini, juga terdapat empat ukiran patung besar yang juga bercerita dan menjawab kenapa pertempuran di Austerlitz terjadi. Aku pun mulai menatap dan membaca pesan simbol dan ekpresi dari empat maha karya ukiran patung tersebut agar menjadi paham.

1. Patung ‘Keberangkatan sukarelawan’ atau ‘La Marseilles’.

Le Départs des Voluntaires ou La Marseilles

Patung disebelah kanan menghadap jalan ‘Champs Elyses’ karya François Rude menggambarkan sejarah peristiwa kemenangan pertama ‘Revolusi Prancis’ terhadap sistim sekutu Monarki Eropa pada tahun 1792 dengan terjadinya pertempuran Valmy, antara revolusioner Prancis melawan kerajaan Austria dan kerajaan Prusia.

Patung ini melambangkan semangat persatuan nasional dan perlawanan rakyat terhadap sistim Monarki. Patung wanita bersayap melukiskan sosok kebebasan menyerukan perlawan bahaya invasi musuh yaitu penentang revolusioner. Menyerukan rakyat bertempur dengan mengacungkan pedangnya, perisainya, bahkan nyawanya sendiri.

Wanita bersayap ibarat simbol kebebasan. Lalu patung-patung dibawahnya merupakan orang-orang dari segala usia dan segala golongan mulai dari pemuda belia hingga para veteran tua bersenjata, ibaratnya seluruh rakyat membela tanah air bergerak maju melawan secara bersama-sama tanpa pengecualian. Patung ‘La Marseilles’ ini bagaikan pintu gerbang memahami sisi Arc de Triomphe.

2. Patung ‘Kemenangan Napoleon’

Le Triomphe de Napoléon

Patung di kaki sebelah kiri ini juga menghadap jalan ikonik ‘Champs Elyses’, sebuah karya pemahat Jean-Pierre Cortot. Patung di tengah merupakan sosok pemimpin Napoleon diberi mahkota diatas kepala oleh sosok wanita bertelanjang dada, mengartikan simbol kemenangan mutlak di medan perang, bertanda tahun kejayaan Napoleon  yang banyak menaklukan dan bertempur dengan mengalami kemenangan.

Disebelah kiri perempuan menunduk dan berlutut dengan tangan terbuka ke atas memberi kiasan sebuah kota tunduk dan berharap perlindungan dengan mengulurkan tangan meminta kepada sang kaisar. Dibelakangnya ibarat seorang wanita sejarah sedang mencatat kemenangan sang kaisar di catatan buku.

Sedangkan disebelah kanan belakang laki-laki berlutut dengan tangan terikat menyatakan kekalahan kepada sang kaisar. Di atas ada patung sosok figur bersayap melambangkan ketenaran yang meniup terompet dan mengacungkan panji dengan latar belakang pohon palem bertanda ekspedisi Napoleon sampai ke Mesir.

3. Patung ‘Perlawanan’atau ‘La Résistance’.

La Résistance

Simbol patung ditengah adalah seorang prajurit bertelanjang dada siap berangkat membela tanah air dengan tangan memegang sebilah pedang pendek. Di sebelah kanan bawah, seorang tua berusaha menahannya, sedangkan di sebelah kiri bawah sang istri menggendong anak juga berusaha mencegahnya pergi.

Tampak di belakang atas, seorang tua penunggang kuda terjatuh seolah-olah tersambar petir, simbol melambangkan pengorbanan seorang patriot bagi negara. Sedangkan di atas, sosok ‘jiwa masa depan’ membentangkan sayap, menyerukan kewajiban prajurit itu melakukan perlawanan.

Saat itu, pertempuran melawan invasi cerminan tema nasional yang hakiki. Semua perpecahan internal dikesampingkan agar persatuan terwujud hingga terjaga keutuhan wilayah. Permasalahannya kaisar Napoleon yang turun tahta.

Karya pemahat ‘Antoine Etex’ menyimbolkan perlawanan bangsa melawan invasi asing yang bersekutu, yaitu pasukan kekaisaran Austria dan kekaisaran Prusia melawan sang Kaisar Napoleon hingga invasi bergerak maju mencapai kota Paris di tahun 1814.

4. Perdamaian atau ‘La Paix’.

La Paix

Patung yang menghadap ke jalan ‘Avenue de la Grande Armée’. Ini karya kedua pemahat ‘Antoine Etex’ yang meriwayatkan perdamaian. Perang telah usai, disimbolkan dalam sosok patung prajurit di tengah sedang menyarungkan pedangnya.

Pertanian mulai maju diperlihatkan dalam patung sosok tua membajak, beternak lembu, hingga berkembang pesat. Sosok ibu dan anak merefleksikan keluarga dan peluang bagi pendidikan, sebuah aktivitas bangsa yang mendasar mewujudkan bangsa yang makmur secara bersama.

Patung di atas merupakan sosok Minerva, mengenakan helm dan memegang tombak sebagai dewi kemenangan sebagai sumber inspirasi bagi pengrajin, seniman, cendikiawan dan upaya-upaya damai.

Setelah memahami refleksi patung di ‘Arc de Triomphe’, aku pun mulai sadar dan berfikir, “Kenapa pasukan koalisi kekaisaran bersatu melawan kepemimpinan Napoleon ?,ˮ Sesungguhnya….kaisar Napoleon berambisi ingin menguasai Eropa dengan menyebar ideologi Revolusi Prancis yang ditakuti oleh kerajaan-kerajaan absolut disekitarnya.

“Apa pula itu Revolusi Prancis ?,ˮ Rupanya sebuah gagasan politik meruntuhkan monarki absolut serta feodalisme (kekuasaan kepada bangsawan dan tuan tanah), hingga melahirkan sistem republik demokratis yang menjunjung tinggi hak asasi manusia. Itulah  negara Prancis menjadi terkenal dan berpengaruh menyebar ke seluruh dunia dari gagasan kepemimpinan sang kaisar Napoleon. 

         Dua puluh menit menunggu yang tidak lama bagiku menuju pemeriksaan barang bawaan demi keamanan, aku mulai menuju ke atas dengan menaiki tangga berbentuk spiral berjumlah 284 anak tangga, menjadikan sensasi tersendiri dalam seni (aku mengabadikannya dalam sebuah photo). Beberapa pengunjung ada memilih istirahat dipertengahan tangga karena nafas sesak terkuras saat menaikinya, sedangkan aku tetap melanjutkannya karena nafasku masih normal bertanda sehat.

“Apakah ini bentuk perjuangan di dalam pertumpuran saat itu?,ˮ entahlah, aku berimajinasi seolah-olah seorang prajurit yang berjuang dalam pertempuran itu. Padahal, hanya berjuang menaiki tangga menuju puncak teras monumen yang ukuran tingginya 49,54 meter itu.

Sampailah aku di sebuah ruangan pertama merupakan museum yang bercerita sebuah layar animasi tempat-tempat monumen gerbang di dunia berdasarkan masing-masing negara seperti bangunan Arc de Triomphe ini. Lalu, ada patung kepala cetakan yang terdapat di karya “La Marseillesˮ mengekspresikan semangat baru dalam perjuangan demi kebebasan.

Lalu aku berlanjut naik menuju ruangan lain yang terdapat butik aksesoris dengan thema “Arc de Trompheˮ sebagai kenang-kenangan. Aku melewati toko itu dan terus melaju ke lantai atas berikutnya, sebuah teras yang merupakan puncak dari bangunan ini.

Di puncak teras bangunan ini terasa sangat menakjubkan. Terlihat sudut-sudut kota Paris dengan bangunan lama yang masih berdiri. Aku mengelilingi teras ini dengan dimulai tepat di depan jalan raya ‘Avenue des Champs Elyses’ yang ikonik tersebut. Sebelah kiri terlihat bukit yang terdapat bangunan ‘Sacre Couer’ di puncaknya, dataran tinggi di kota Paris. Sedangkan di sebelah kanan, sang ikonik Eiffel berdiri tegap pongah dikelilingi bangunan lama. ‘C’est incroyable !’, dalam hati aku berkata.

         Masih di depan jalur jalan raya ‘Champ d’Elyses’, aku mengeluarkan telepon selular ingin membuktikan karya bangunan ini mengarah ke arah kiblat di mekkah yang merupakan arah shalat orang-orang muslim. ‘Surprise!’, panahnya benar mengarah ke kiblat.

Arah kiblat Mekkah di atas ‘Arc de Triomphe’

Sempat viral, isu design monumen ini di depannya mengarah kiblat, seolah-olah klaim sang designernya Napoleon seseorang yang telah memeluk agama islam (sebuah narasi yang digadang-gadang di sebuah novel dan film 99 Cahaya di langit Eropa). Nyatanya, sang Kaisar memang pernah memperluas  wilayah kekuasaannya di Mesir dan memimpin ekspedisi ke negara tersebut serta mengaguminya, tentu bukan berarti dia memeluk islam. Bukan rencana tersembunyi atau pesan teologis dari sang kaisar. Wallahuallam ( hanya Allah yang mengetahui ).

Parade masa lalu Prancis

Masa lalu ? Ah itu hanya sebuah kenangan, yang menjadi sejarah yang tak terlupakan. Namun, memberikan kita sebuah pembelajaran, lebih bijaksana, memahami identitas, menjelma ke dalam sebuah pengalaman.

         Bahkan sebuah negara maju mempunyai sejarah dan hal itu berkreasi dalam sebuah pertunjukan. Saat itu 13 September, Paris di kawasan Monument “Phanteon” hingga ke taman “Luxembourgˮ dikerumuni oleh orang-orang di tepi jalan menyaksikan peristiwa masa lalu Prancis.

Sejarah yang penuh dengan drama politik besar hingga perubahan sosial yang mengubah dunia memberi pengetahuan tentang fakta dan peristiwa. Sejarah ini dirangkai dan ditampilkan dalam bentuk sebuah pawai atau parade kostum mode dan fashion di masa lampau.

Selain itu, acara ini juga ada pameran yang menampilkan keterampilan, kerajinan seni yang artistik di zaman lalu, reka ulang sejarah yang melahirkan kembali sejarah seperti pandai besi, pakaian abad ke lima belas hingga abad ke dua puluh, ilusi, rahasia pembangunan jaman dulu dan restorasi naskah. Semua tentang Prancis di waktu tertentu yang sudah lewat. Bisa dibilang, inilah waktunya Prancis di jaman yang lalu.

Paris kembali ke masa lalu dengan nuansa kota tempo dulu. Aku hadir di tengah kerumunan di tepi jalan tepat di depan gedung phanteon, melihat penonton antusias menunggu parade berlangsung di jalanan tersebut.

Kostum-kostum yang digunakan sesuai dengan zaman dan memerankan tokoh hingga memberi sentuhan keajaiban akan masa lalu hingga menghipnotis hati pengunjung seakan-akan larut dalam suasana masa itu. Dan juga memberikan petualangan lintas waktu tentang Prancis.

Adegan-adegan yang menampilkan bangsa viking berhadapan dengan santa pelindung kota ( Genevieve ), Louis IX dan XIV, Napoleon, Joshepine Barker, Garda Republik seakan mereka hidup kembali di jaman sekarang. Ada juga Philip Augustus, Jenderal leclerc, hingga D-Artagnan yang semua itu tokoh-tokoh besar yang membentuk sejarah Paris hadir bersama dalam pawai ini.  

Acara ini sangat luar biasa, dengan nuansa khas Paris yang memikat serta masa lalu yang bercerita tentang identitas negara Prancis. Hidup Paris, hidup Prancis beserta sejarah dan tradisinya. Aku pun kembali pulang dengan membawa pengetahuan dalam karya lukisan cahaya tentang Prancis di masa lampau.

Review buku “Mom Stories in Parisˮ

Buku antologi ini merupakan kisah mahasiswi yang merangkap kodrat menjadi seorang ibu. Mereka hidup di luar negeri mengalami orientasi latar belakang budaya yang berbeda.

Paris merupakan kota cinta, membawa mereka menyelam dalam suasana empat musim yang berbeda yang tidak biasa mereka rasakan di tanah kelahiran mereka.

Buku antologi tentang Mahasiswi berkodrat seorang ibu di Paris

Suasana inilah menjadi pengalaman dan mereka tuangkan dalam tulisan-tulisan menghadirkan nilai-nilai keluarga, tanggung jawab, serta keteguhan hati yang kuat dan hebat.

“Bagaimana pengalaman-pengalaman cinta yang mereka dapatkan di kota Paris?ˮ  

1. SARAH ISMI KAMILAH

Kisahnya berawal dari perjalanan datang menuju negara Hexagone dengan lika-liku kejadian yang hampir gagal padahal saat itu sedang menjalani lehidupan baru indahnya perkawinan.

Lalu, berlanjut kisah perjalanan kedatangan sang buah hati mulai proses dari Prancis hingga hubungan terpisah ke negara Indonesia. Keluarga besar pun mendukung datang bersama ke Prancis hingga buah cinta mereka mengalami perjalanan hidup di taman bagaikan surga di negara mode, bahkan saat musim dingin dibaluti dengan salju.

“Dia menjadi jembatan bagiku untuk semakin mengenal Negeri Menara Eiffel ini. Negeri yang sangat asing bagiku, tapi bisa menjadi menyenangkan bersamanya.ˮ hal 189.

2. MARIA ULFA.

Mahasiswi ini mengisahkan ikon Prancis menara Eiffel saat menjadi saksi tentang orang-orang yang berkeyakinan tak tergoyahkan.

Kisah perjalanan studi yang mengalami tekanan-tekanan selama di kampus hingga hampir kalah akibat penyakit yang dialaminya dengan bersikap Syar’i di lingkungan tersebut.

Bahkan dia menjadi sampel bagi muslimah-muslimah dari negara lain. Hingga proses tersebut dapat diraih dengan sempurna, bahkan semakin sempurna dengan hadirnya permata hati yang menyejukkan jiwa.

Pengalaman pun tak kalah indah saat melewati ciptaan Tuhan berbentuk kristal-kristal putih di musim dingin menambah kekuatan iman untuk lebih tetap terus bersyukur.

“Pertemuan kami saat itu membuatku sangat bersyukur bahwa kerudung dan pakaian yang aku kenakan menjadi penyemangat bagi orang lain untuk mengikutinya.ˮ hal 171

3. WILMA VENIA.

Kehidupan di kota Paris yang penuh cahaya tidak selalu menerangi kehidupan semua manusia. Hal itu dialami muslimah ini dalam cerita asa yang terengut dan hilang.

Namun, kebaikan masyarakat kota Paris ter tuang dalam kisah menarik citron vert atau jeruk hijau saat mempersiapkan hidangan makanan sehari-harinya bersama sang suami.

Hikmah beradaptasi  dengan suasana mandiri pun dialami di Rumah Sakit saat menjalani persalinan belahan jiwa yang mereka rindukan dilukiskan dalam kisah Valida.

 “Jawaban bahwa teman sekamar bernama Valida yang sempat tak kusuka adalah yang terbaik untukku sebagai teman pertama setelah selesei melahirkan.ˮ hal 56

4. DENI ENDRIANI.

Penulis satu ini mengawali kesan kisah kebaikan tentang seorang supir yang mengantar perjalanan tujuan perkuliahannya di Prancis ini. Kemudian, cerita pengalaman bersama permata hati saat di dalam janin hingga tumbuh besar di taman kanak-kanak di Prancis ini.

Dan juga, kisah hidup antara kampus dengan rumah. Ada juga kisah memberi kebaikan saat confinement atau berdiam dan beraktifitas di rumah ketika Covid terjadi.  

Cahaya kota Paris yang juga tidak terang benderang juga dialami dirinya, saat mengalami peristiwa kecelakaan kecil yang menyedihkan dari sang permata hati, namun dijalani dengan sabar hingga menjadikan sebuah hikmah.

Sang penulis tidak lupa memberi resep-resep tips-tips apa saja administrasi birokrasi di negara Prancis.

“Nama itu telah ada dipikiranku sejak lahir dari dua puluh tahun yang lalu. Nama yang indah, laksana keindahan pegunungan Alpen yang kulihat pada satu halaman buku harian.ˮ hal 57

“Dimana bumi dipijak, di sana langit dijunjung.” Cerita empat orang muslimah ini sepadan dengan pepatah di atas.  Hal itu tidak hanya memberi penjelasan beraneka ragam tentang kabar negara Prancis, namun memberi hikmah dalam jiwa serta menjadi motivasi serta menatap sisi yang lain tentang ikhtiar dan usaha bagi semangat perantau dalam mengenal lingkungan di negara Prancis.

Kisah mereka cocok bagi kamu yang berjiwa petualang, menyukai kehidupan serta tantangan baru yang ingin lepas dari zona nyaman.

Well, Selamat hunting buku ini di Gramedia atau di pustaka di seluruh nusantara bila tersedia.

Judul Buku : Mom Stories in Paris

Penulis : Sarah Ismi Kamilah, Maria Ulfa, Wilma Venia, Deni Endriani

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Jumlah Halaman : 236 halaman

ISBN : 978 – 602 – 06 – 6534 – 4  

Belajar guide dari Tamu

Ting! ting! ting!, bunyi pesan berdering terdengar dari hpku yang dikirim dari partner kerja di Belanda.
         "Salam sehat komandan, apakah tanggal 20 Agustus available mengguide grup di Paris ?", isi pesan partner Eka Serbalanda di negeri Kincir angin sana.
         "Salam sehat juga Jendral. Siap, available tanggal segitu !", balasku di WhatsApp kepadanya. Kami main panggilan Jendral dan komandan biar terlihat seolah-olah di dunia kemeliteran hehehhehehe…..

Saat D-day. Aku bertemu di hotel tempat tamu menginap dengan Mas Diaz Ananda yang merupakan PIC (Person in Charge) berdasarkan kontak yang di share dari partner. Aku pun dikenalkan ke semua tamu lain yang berjumlah 12 orang oleh pak Diaz.

Ternyata mereka merupakan satu keluarga besar terdiri dari Orang tua, 3 orang anak dan 3 menantu beserta cucu-cucunya. Mas Diaz adalah anak laki-laki tertua, sedangkan bapaknya bernama Dendy Muhono. Aku menyebutnya grup keluarga besar bapak Dendy Muhono. Mereka berasal dari Surabaya (Arek-arek Suroboyo guys!).

Menariknya, partnerku memberitahu bahwa dua orang tamu berumur 70 tahunan yang tak lain adalah bapak Dendy dan istrinya. Aku akan menemani mereka sekeluarga explore berkeliling kota Paris memakai transportasi umum ; metro, bus dan tram.

Aku sempat ragu, karena orang tua yang sudah berumur akan mengalami keterbatasan dalam beraktifitas nanti di perjalanan, terutama saat berjalan menuju stasiun kereta atau pun stasiun bus, ditambah lagi perjalanan akan dilalui dengan menuruni hingga menaiki tangga mengingat stasiun-stasiun Metro di Paris tidak banyak memiliki lift dan eskalator.

Dan lagi, pak Dendy mempunyai riwayat penyakit jantung yang sudah melakukan dua kali operasi pemasangan ring, cerita beliau.

Perjalanan pertama menuju tempat ikonik menara Eiffel. Kami naik Metro 6. Awal perjalanan, terlihat semangat. Aku harus mengimbangi perjalanan pak Dendy serta istri yang tidak bisa berjalan cepat dengan anak-anak dan cucu mereka, apalagi naik-turun tangga.

Terkadang aku melihat kebelakang agar mereka tidak ketinggalan. Beruntungnya perjalanan mengguideku ini dilakukan “alon-alon waton kelaton” saja. Di Trocadero, aku bertemu dengan Mukhtar, si penjual souvenir oleh-oleh Paris, pedagang migran lokal yang viral di medsos yang fasih berbahasa Indonesia, pandai mengambil hati tamuku (biasalah, teknik marketingnya), hingga tamu merasa surprise dengan tingkah laku lucunya yang bisa berbahasa Indonesia.

Tak hanya itu, bahkan dia membantu tamuku mengambil photo terbagus dengan bakcground Menara Eiffel di belakang. Untuk kamu yang mau liburan berfoto di Menara Eiffel, gak usah sewa photographer mahal-mahal, cukup belanja souvenir dapat photo keren di Menara Eiffel yang dibantu si Mukhtar. Tamuku pun berbelanja oleh-oleh kepadanya dengan harga “murah-murah”, jargonnya si Mukhtar.

Tamuku bersama Mukhtar, pedagang migran yang viral di Paris

Setelah puas di menara Eiffel, aku mengajak tamu melihat monumen Arc de Triomphe.

“Lah ini khan momunen Simpang Lima Gumul yang ada di kota Kediri ?”, sahut pak Dendy memecah suasana berangin saat itu. “Nah, besok-besok kalau mau ke Paris lagi, jalan-jalan ke kota Kediri aja. Gak jauh toh !”, aku membalas pertanyaan pak Dendy membuat suasana gelak tawa sambil melakukan photo selfie lagi.

Setelah selesei, aku menggiring mereka jalan-jalan ke museum Louvre. Dikarenakan sudah siang, kami pun istirahat sambil makan siang di restoran foodcourt yang berada dekat pintu masuk museum Louvre di bawah. Di sini, pak Dendy dan istri mulai terlihat capek tetapi masih bersemangat.

Selesei makan, eksplore pun kembali berlanjut melihat gedung Museum Louvre dari luar. Aku pun mulai cerita sedikit demi sedikit sejarah tentang Museum ini. Setelah puas berselfie ria, perjalanan berlanjut menuju Sacre Couer di bukit Montmare.

Aktifitas perjalanan pun kembali “alon-alon” dengan naik turun tangga menaiki metro 1 dan metro 2. Sesampainya d Anvers, pak Dendy dan istri suprise karena masih harus berjalan kaki menuju Furniculaire untuk mencapai ke atas. Tak Gentar, beliau dan istri tetap semangat layaknya di hari kemerdekaan 17 Agustus. “lah hari ini masih suasana kemerdekaan toh ?”, aku bergumam dalam hati.

“Luar biasa !”, kataku dalam hati melihat sehatnya pak Dendy beserta istri. Aku terkagum melihat beliau seperti orang-orang tua di Prancis yang masih sehat berjalan kaki di sini. Beruntung Furniculaire membawa kami naik ke atas. Di tangga Sacre Couer baru terlihat pak Dendy dan istri mulai kecapean dan memilih menunggu duduk.

Aku pun menemai anak dan menantu serta cucu beliau melakukan photo selfie lagi sambil memandang pemandangan kota Paris dari atas bukit Montmare ini. Akhirnya, grup memutuskan perjalanan wisata Paris mereka berakhir di tempat ini dan kembali ke hotel untuk beristirahat karena besoknya mereka akan menuju kota Frankfurt di Jerman.

Oh iya, ternyata tujuan mereka tidak hanya jalan-jalan ke Eropa ini, tetapi pak Dendy sekeluarga bertujuan mengunjungi saudaranya yang tinggal dan beristrikan orang Jerman, hidup dan domisili di kota Frankfurt ini. Aku berfikir beliau sekeluarga berwisata sambil bersilahturahmi dengan keluarga.

Sungguh aktifitas mulia yang mempererat kebersamaan dengan bersilahturahmi, terutama keluarga. Akhirnya sampai lah aku mengantar mereka di hotel tempat istirahat mereka di Bercy.

Aku berbaju dan bertopi merah bersama tamu

Dari pengalaman mengguide ini, aku belajar hikmah moral dari grup keluarga besar ini tentang kehidupan, terutama kepada pak Dendy. Sebagai orang tua dan kepala keluarga mampu merangkul kebersamaan yang jarang ditemui.

Di tambah lagi, beliau beserta istri di umur yang senja terlihat sehat, semangat dan bergembira melakukan wisata yang juga bertujuan mulia bersilahturahmi dengan saudara beliau di Jerman. Aku meyakini kehadiran beliau ke tempat saudaranya membawa rahmat dan sumber keberkahan. Bersyukurlah bagi kita yang masih memiliki keluarga.

Sesampainya di rumah sambil istirahat, iseng-iseng aku pun menonton film Indonesia yang berjudul “Tunggu aku sukses nanti” dengan thema filmnya tentang keluarga yang disutradarai dan pemainnya motivator aku yaitu si Naya dan Jebraw yang terkenal dengan video mereka “Jalan-jalan Man”, Namun, film ini bukan cerita keluarga pak Dendy. “Loh koh, malah ngomongin masalah film”.

Ok guys, segitu dulu kisah cerita mengguideku tentang keluarga. Semoga pak Dendy Muhono dan istri serta keluarga besarnya tetap diberi kesehatan, rezeki dan kebahagiaan dunia dan akhirat. Amiiin……

Atraksi Gerhana Matahari di Prancis 2026

Rabu, 12 Agustus 2026 merupakan momen atraktif bagi orang-orang Prancis untuk datang menyaksikan Gerhana Matahari, begitu pula aku. Peristiwa yang aku alami pertama kali dalam hidup dengan melihat langsung dengan mata dengan perlindungan kacamata khusus bernama kacamata gerhana, dan itu terjadi di luar negeri.

Meski pada tahun 2016 sang Gerhana pernah terjadi di Indonesia, namun aku melewatinya karena posisi yang sudah berada di Prancis. Dulu tahun 1999 sang Gerhana juga terjadi di sini. Nah tahun ini, sang Gerhana kembali mampir di Prancis dan umumnya terjadi di Eropa.

Aku yang antusias tidak mau ketinggalan menghadirinya. Aku ingat memori kelam saat terjadi gerhana di jaman Presiden Soeharto menganggap momen itu merupakan hal yang menakutkan. Ada isu yang mengatakan, bila dilihat langsung akan mengalami gangguan mata hingga mengalami kebutaan, bahkan dikeluarkan surat edaran bagi masyarakat, dihimbau untuk tidak keluar dari rumah dan hanya bisa menyaksikan di layar televisi saja.

Ternyata aksi pembodohan….

Berkembangnya waktu, peristiwa itu menjadi momen perayaan wisata saat ini. Masyarakat disini berbondong-bondong menyaksikannya dengan memakai kacamata khusus Gerhana.

Yang menarik adalah, momen perburuan kacamata gerhana ini begitu langka akibat banyaknya permintaan, menandakan orang-orang di sini begitu menggebu-gebu penasaran melihat bagaimana peristiwa ini terjadi, dan lagi saat ini dalam keadaan masih liburan sekolah atau libur musim panas. Akhirnya satu hari sebelum hari H, perburuanku tidak sia-sia menemukan kacamata spesial tersebut.

Aku mendapati kacamata tersebut dengan menempuh antrian begitu panjang di salah satu Pharmacie daerah Montparnasse. Puas dengan perburuan tersebut, sore menjelang malam pencarian posisi untuk melihat Gerhana pun tak kalah seru.

Aku memilih titik di Parc Andre Citroen. Saat berangkat kesana menggunakan bus, lautan manusia keluar dengan menuju ke arah yang sama menyebabkan transportasi bus menjadi padat dan ramai.

Tak lupa aku membawa kain alas untuk duduk di rumput seakan-akan hendak piknik. Sesampainya di taman Andre Citroen tersebut dengan suhu udara diatas 30 derajat, perjuangan mencari tempat duduk pun dapat dengan padat merapat saking padatnya.

Akhirnya, aku bisa mendapat tempat pas banget bertepatan waktu mulainya sang gerhana dari pukul 19.22 hingga pukul 20.48. Di momen ini, aku langsung menyadari bahwa Matahari dan bulan merupakan dua tanda kebesaran yang agung di antara tanda-tanda kekuasaan Allah swt, menjadikan aku beristighfar serta brzikir selama proses gerhana Matahari berlangsung.

Bagaimana nantinya terjadi kiamat ? apakah momen itu manusia akan berbondong-bondong menyaksikannya ? Entahlah, setidaknya peristiwa ini menjadikan diri bahwa tak lain yang mengatur semua kehidupan ini adalah kehendakNya. Wallahuallam…

Tenggelam dalam catatan perjalanan ‘Merobek Sumatra’ di Prancis

Catatan perjalanan ‘Merobek Sumatra’ telah menghayutkan diriku ke alam dimensi lain tentang kehidupan salah satu pulau terbesar dari 5 pulau di Indonesia. Seorang lelaki dari bayang, mencurahkan kehidupan eksplorasinya ke dalam aksara sastra tentang misteri dan sejarah akan tempat tersebut.

Fatris MF membawa petualangannya akan Sumatra yang penuh misteri dan tidak semua orang tahu, bahkan aku yang pernah hidup lama di sana, tidak mengetahui ketidakpahaman pulau besar tersebut.

Petualangan pertama menceritakan anak bernama ‘Lepon Salakkirat’ dari suku Mentawai, dengan tidak memilih menjadi Sikerei (dukun) sebagai bagian mempertahankan tradisi dalam kehidupan masyarakat di sana, memilih untuk menjadi guru.

Bahkan, tidak menato tubuhnya sebagai identitas diri bagi orang Mentawai tersebut. Penyebabnya arus modernitas dan perkembangan zaman, meskipun pemerintah masih ingin berusaha mempertahankan kehidupan tradisi sebagai eksploitasi pariwisata agar menarik para wisatawan datang, selain menikmati pemandangan dan pantai tempat berselancar dengan ombak besarnya.

Namun, hasil bumi hutan pulau Siberut dikeruk habis dengan membabat hutan demi kepentingan kebutuhan kertas dan triplek, padahal kehidupan masyarakat tradisi Mentawai adalah hutan yang tidak boleh musnah sebagai Tuhan mereka. Kehidupan ‘Uma’ (rumah adat traditional) telah tergeser akibat arus globalisasi. Lepon Salakkirat ibaratnya pulau Siberut, di wilayah kepulauan Mentawai. Bagaimana nasib si Lepon akan datang ? itulah teka-teki yang disebutkan Fatris MS sang penulis.

‘Lepon Salakkirat’ di depan Menara Eiffel

Perjalanan berikutnya berlokasi di kepulauan Riau. Di balik gemerlap kerlap-kerlip lampu kehidupan di pulau Batam dan Singapura, ada sebuah pulau mengisahkan gelapnya lampu kehidupan di pulau Galang yang bersebelahan dengan pulau-pulau tersebut.

Nguyen yang berasal dari negara Vietnam, menjalani hidup di pulau Galang dalam barak pengungsian yang sekarang menjadi tempat untuk dikunjungi yang bukan eksotis pemandangan alam, melainkan realitas humanis yang menjadi kesan dan melahirkan pesan, agar selalu diingat dan menjadi pembelajaran.

Kisah pahit Nguyen adalah subjek di pulau Galang sebagai pelarian dengan menggunakan perahu lapuk terpampang di depan barak tersebut dari negara asalnya yang berkecamuk perang, berharap mendapat perlindungan hidup dan keselamatan yang lebih layak dari negerinya sendiri. Perjuangan hidup Nguyen di pulau Galang adalah perwakilan dari kehidupan pengungsi-pengungsi lain.

Bagaimana rasanya bila aku adalah Nguyen atau si pengungsi-pengungsi dari Vietnam ini ? itulah ilustrasi catatan perjalanan di pulau Galang yang menjadi destinasi wisata yang di ungkapkan Fatris MS. Berwisata tidak hanya menikmati pemandangan alam, tetapi melahirkan rasa empati dan kepedulian sebagai humanis. Itulah pokok pikiran yang diungkapkan Fatis dalam catatan di pulau Galang ini.

Merobek Sumatra dibaca di perpustakaan Bulac Paris

Sambil minum kopi, menjelajah ke tanah Gayo Nanggroe Aceh Darussalam dengan Arabikanya yang terkenal di dunia. Wilayah dataran tinggi yang dingin dan subur menjadikannya terkenal akan kopi yang kaya raya, dan melahirkan kekayaan budaya dan sosial. Sayangnya, kekayaan tradisi tersebut tidak menarik pelancong bertandang sejak akibat terjadinya peristiwa operasi keamanan di negeri tersebut.

Dituliskan Fatris, kemeriahan festival danau Lut Tawar telah sobek oleh angin, merefleksikan turunnya pariwisata di wilayah Gayo mengakibatkan masyarakat di sana selama delapan bulan seperti kuda di bawah rumpun bambu : duduk, makan, tertawa dan minum kopi, itupun bukan minum kopi Arabika, melainkan minum kopi Robusta.

Padahal, dulunya turis-turis berbondong mengunjungi karena penasaran akan kopi di tanah Gayo ini, meskipun aturan syariah tidak begitu ketat diterapkan di negeri ini. Wilayah Gayo yang kaya akan kopi, saat ini telah ditempatkan pada posisi yang tidak lagi begitu penting.

https://www.tiktok.com/@indr4francdo/photo/7670483944520846624?is_from_webapp=1&sender_device=pc&web_id=7677160954568902166

Catatan berikutnya wilayah danau Maninjau. Sebuah tempat lahir dan tumbuh sang penulis legendaris ‘Buya Hamka’. Tetapi penulis tidak mengisahkan hidup sang legenda ini, melainkan cerita pesta kemenangan pertempuran melawan hawa nafsu di waktu penyambutan sebelum memasuki hari satu syawal pada esok harinya, tepatnya di malam takbiran.

Kisah legenda danau Maninjau tentang cinta gadis Sani dengan lelaki Giran yang tak berkesampaian, disebabkan sifat dengki saudara-saudara Sani, sembilan lelaki di gunung Tinjau. Tetapi bukan legenda ini inti ceritanya. Pelaksanaan perang meriam bambu dan petasan  di pinggiran danau Maninjau di sponsori oleh para pemuda rantau yang datang menyambut satu syawal di kampung mereka.

Di samping itu, di tengah danau dilakukan pelayaran dua rakik ; pertama, rakik adat dengan simbol rakik rumah adat yang mempesona dengan lampu-lampu terang. Berikutnya rakik agama dengan simbol dekorasi mesjid yang indah juga bersinarkan cahaya lampu terang benderang.

Kedua rakik tersebut simbol mengingat kembali peristiwa luka lama di masa lalu mengenai perang dua paham di suku Minangkabau dengan perangnya yang terkenal bernama perang Padri. Dua paham bersiteru tersebut antara kaum adat dan kaum agama. Perang besar itu adalah hawa nafsu di dalam islam yang pada akhirnya perang Padri berakhir saat pemimpin Tuanku Imam Bonjol meredam hawa nafsunya dengan berhenti perang dengan sesama saudara dengan  menyerahkan kepemimpinan suku kembali kepada adat.

Pertemuan dua rakik tersebut cerminan perseteruan dua kaum di suku Minangkabau. Mungkin Buya Hamka di waktu kecil pernah mengikuti pesta bunyi meriam atau petasan hingga menyaksikan pelayaran dua rakik tersebut ? sebuah fantasi dari sang penulis. Adat Minangkabau dengan syariat islam, apakah saling bergantungan dan terealisasikan ? bisa iya, bisa tidak, bahkan diragukan, meski tidak ada lagi perang Padri, Fatris menuliskan.

Merobek Sumatra ketika di Museum Louvre Paris

Catatan berikut menuju daerah Jambi. Wilayah ini terdapat komplek candi-candi Muarojambi yang di bangun oleh sang penguasa bernama ‘Putri Pinang Masak’. Sang pemegang kekuasaan ini beralih keyakinan memeluk islam dikarenakan menikah dengan sang pedagang bernama Ahmad Salim yang berasal dari Turki ( sebagian mengatakan berasal dari Persia ), yang menganut agama islam dan tak sengaja terdampar di negeri Jambi ini.

Perlahan-lahan ajaran Budha meredup di Jambi meninggalkan kenangan komplek candi-candi dan menjadi saksi yang hampir terlupakan akibat tidak adanya catatan resmi hingga hampir tertimbun tanah.

Masih di Jambi, di daerah pedalaman yang hidup sekelompok masyarakat suku anak dalam dengan cara berpindah-pindah atau disebut nomaden di dalam hutan. Hutan ini perlahan-lahan tergusur akibat diganti menjadi perkebunan Sawit. Suku ‘Kubu’ atau anak dalam ini merasa kehidupan tradisi mereka resah dan kekhawatiran musnahnya  rimba tempat tinggal mereka.

Namun, mereka tetap bertahan. Perjalanan sang Penulis tentang cerita kehidupan rimba suku anak dalam dengan ditemani oleh Jana Harustakova dari benua Eropa yang penasaran tentang Indonesia, terutama di Pulau Sumatera ini.

Merobek Sumatra sewaktu perjalanan di kereta TGV

Perjalanan sang maestro Fatris MF terhempas ke gunung Padang. Sebuah Muara yang membatasi gunung tersebut yang sebenarnya bukanlah tinggi, tetapi lebih menyerupai bukit. Entah kenapa orang-orang di sana menyebutnya gunung yang menjadikannya nama gunung Padang, begitu kata Fatris. Untuk sampai ke Gunung padang ini mestilah menyeberang sampan (perahu kecil, kano) di Muara tempat berlabuhnya kapal-kapal ikan dari lautan, hingga berdirinya sebuah pelabuhan Muara.

Bahkan pelabuhan Muara ini menjadi tempat berlabuhnya transportasi kapal laut menuju kepulauan Mentawai. Bila ingin menyeberang lewat darat bisa dilakukan melewati jembatan bernama Siti Nurbaya. ‘Siti Nurbaya ?’, benar sekali, tokoh utama dalam novel karya Marah Rusli. Kisah bertemakan tentang kasih tak sampai, pengorbanan, dan penolakan kawin paksa hingga menjadikan era emansipasi perempuan di jaman itu.

Berlanjut perjalanan menuju sebuah pantai di balik gunung padang. Pantai Air manis yang sebenarnya air pantainya asin sekali karena dari air laut. Dari gunung padang berjalan menyusuri bukit gado-gado yang terdapat perkuburan orang-orang keturunan Tionghoa atau Cina.

Sesampainya di Pantai Air manis terlihat sebuah patung kapal yang terdapat seorang lelaki muda bersujud yang kisah legendanya terkenal ‘Si Malin Kundang anak Durhaka’ bertemakan durhaka kepada orang tua, kesombongan, hingga melupakan asal-usulnya. Itulah catatan perjalanan penulis dalam kisah Muara cinta si anak Durhaka yang merupakan perjalanannya mengunjungi tempat kuburan Siti Nurbaya hingga menuju kapal batu milik si Malin kundang.  

Sawahlunto, wilayah berikutnya di catatan perjalanan Fatris MF. Seperti wilayah suku gayo di Nangroe Aceh Darussalam yang kaya raya, Sawahlunto juga tempat yang dulunya memiliki emas hitam yang berlimpah menjadikan kota yang bernilai tinggi untuk di eksplorasi. Bedanya wilayah gayo emas hitamnya dari biji tumbuh-tumbuhan, sedangkan Sawahlunto emas hitamnya adalah batu.

Terkuak sebuah cerita kota kaya ini akan hasil bumi emas hitam atau bara batu. Berawal sebuah pekerjaan paksa bagi para tahanan yang bekerja ke lubang tambang sewaktu jaman masa kolonial Belanda dari penjara Muara Padang, ditambah lagi dari penjara Cipinang dan Glodok di Batavia demi mencapai banyaknya kebutuhan. Para tahanan bekerja ini dinamakan ‘Urang Rantai’ karena mereka harus di rantai dalam bekerja agar tidak lari. Terceritakan dalam kisah roman ‘Siti Nurbaya’ saat tokoh Samsul Bahri menyaksikan orang rantai yang mati di dalam kapal melompat ke laut dari kapal dan tidak muncul lagi. Bahkan tenaga kerja tidak hanya cukup bagi para tahanan, hingga dibuka lowongan besar-besaran dengan sistem kontrak yang berasal dari Jawa, Bali, Madura, dan Bugis untuk menggali emas hitam itu.

Ditambah lagi pekerja dari Cina dan Eropa. Untuk pekerja merasa betah, didatangkan juga perempuan-perempuan penghibur yang juga bekerja sistem kontrak sebagai ronggeng, penari ataupun pelacur. Dengan beragam pendatang yang multikultur melahirkan sebuah bahasa di Sawahlunto ini dengan sebutan bahasa ‘Tansi’.

Dengan berjalannya waktu, pamor emas hitam itu meredup akibat produksinya yang merosot tajam menyebabkan kota ini sekarang hanya meninggalkan alat-alat besi karatan dan sisa-sisa lobang penggalian tambang yang tak bisa dikembalikan. Bak roda berputar, Sawahlunto yang dulunya mewah dan bersinar, meninggalkan bara batu yang punah dan menjadi kenangan dengan menjadikannya kota wisata oleh pemerintah sekarang.

Untuk mengenang, diakan pula sebuah festival musik agar menarik para pendatang seyogyanya dahulu kota Sawahlunto seperti masa silam.

         Kemudian, penjelajahan sang penulis ke Gunung tertinggi di Sumatera, Kerinci namanya. Gunung ini memiliki danau air tawar dan menjadi danau tertinggi di Asia tenggara yang bernama Danau Gunung Tujuh. Sang penulis melakukan perjalanan ke gunung tersebut mencari suasana lain pergantian tahun baru.

Dalam perjalanan, dia bertemu penjaga gerbang rimba yang bertugas menjaga hutan di gunung itu agar tidak ada yang menebang kayu. Dia mendapat jawaban kenapa para pendaki melakukan kegiatan mendaki ini, menurutnya untuk mendalami kepercayaan mata hati dimana semakin tinggi mereka mendaki, semakin kecil mereka di hadapan sang pemilik alam, dan mereka menjadi sadar memiliki keterbatasan, begitu ungkapan dalam catatannya.

Ketika sampai di puncak, terlihat balasan kelelahan mereka saat berjuang berjalan melakukan pendakian dengan mengabadikan pemandangan ke dalam kamera mereka hingga menimbulkan kekaguman. Di gunung ini, banyak orang mendapat ketenangan dengan sendirinya seperti menyanyi, melihat bintang di langit, menyendiri, dilakukan saat malam pergantian tahun di luar suasana hiruk pikuk kota yang mereka lalui bernama rutinitas.  

Misteri ‘Morebek Sumatra’ di Museum Louvre Paris

Pariaman, wilayah perjalanan berikutnya. Ada sebuah perayaan ritual tradisi dilakukan di tempat ini setiap sepuluh Muharam dalam mengenang kematian Husein, cucu nabi Muhammad SAW di perang Karbala. Mereka menamakan ritual ini dengan sebutan ‘Tabuik’, tapi masyarakat Bengkulu manamainya dengan ‘Tabot’.

Perayaan ini menjadikan kerumunan tak biasanya di kawasan pantai Gondoriah yang biasanya ramai dengan bunyi ombak di pantai, namun, kala itu lautan manusia berkerumun merasakan ketukan ketukan pukulan gendang ‘tassa’ ibaratnya bagaikan ketukan jantung orang-orang di medan perang Karbala saat itu. Ada dua kelompok yang seakan-akan perang antara kubu ‘Tabuik Tassa’ dengan ‘Tabuik Subarang’.

Mereka adalah refleksi tiruan perang. Mungkinkah perang Karbala ?, penulis bertanya-tanya. Kenapa tradisi ‘Tabuik’ seakan ritual syah ini bisa sampai ke Pariaman ? padahal mayoritas masyarakat pariaman penganut mahzab Syafi’i yang jelas bukan syiah. Dijelaskan dahulu beberapa serdadu Tamil yang tergabung dalam infranteri Inggris Raya melarikan diri dari Bengkulu ke Pariaman.

Serdadu yang syiah ini mengembangkan tradisi ini dan diikuti oleh masyarakat Pariaman. Sampai kini perayaan ‘Tabuik’ ini hanya sebagai permainan kesenian anak nagari yang terjadi akibat suatu proses sosial. Apa simbol ‘Tabuik’ dibuang ke pantai laut ? Filosofinya melepas duka, melambangkan buraq, kendaraan yang mengantarkan arwah Husein ke surga hingga akhir dari segala perselisihan terciptanya perdamaian. Itulah misteri ‘Tabuik’ di Pariaman.

Kisah ‘Tabuik’ Pariaman kala di Museum Louvre Paris

Di akhir catatan, penulis kembali berada di wilayah Nangroe Aceh Darusalam. Mingisahkan suasana Provinsi tersebut setelah pasca 10 tahun bencana Tsunami. Sebelum tsunami, peristiwa konflik antara TNI dan TNA berkecamuk. Namun, peristiwa gelombang hitam yang menghantam provinsi itu menghentikan pertikaian mereka.

Di balik perdamaian itu, terlihat jalan-jalan raya besar baru ke arah kota sunyi senyap tak menimbulkan keramaian. Makna peristiwa tsunami menjadi ujung kesengsaraan pertikaian itu, ungkapan penyair Aceh yang terkenal kepada sang penulis. Dulu malam di Aceh dibatasi hanya hingga pukul 8 saat pergolakan, saat ini  bisa keluar malam sesuka hati tanpa batasan duduk menikmati kopi yang terkenal di kafe-kafe sepanjang jalan.

Wilayah ini bangkit dengan penerapan syariah islam yang berbeda dengan islam di Timur tengah seperti wanita-wanita Aceh dengan berpakaian kerudung sesuai syariat mengemudi bak bikers yang andal, bersekolah, berolahraga di tempat keramaian dan melenggak lenggok di atas catwalk dalam acara pegelaran busana yang seluruhnya menutupi bagian tubuh di Hotel Hermes Palace di kota Banda Aceh.

Suasana kota ini juga tidak terlihat sebuah Mal dan bioskop. Dan lagi, seakan-akan wilayah itu tidak ada hiburan. Yang ada hanyalah pekerjaan penambangan emas, pembabatan hutan terjadi dengan diganti pertambangan dan perkebunan dengan terang-terangan menyebabkan populasi Gajah berkurang entah ke hutan mana. Sang penulis seolah-olah terjebak dengan panggilan suara azan di Aceh ; pergi ke kafe menyeruput kopi atau ke mesjid pergi shalat ?

Momen penulis Fatris MF di Paris

Judul Buku : Catatan perjalanan Merobek Sumatra

Penulis : Fatris MF

Penerbit : PT. Serambi Ilmu Semesta

No. ISBN : 978-602-290-038-2

       

Tamu kepanasan di Paris Heatwave

Heatwave atau Gelombang panas menyerang Prancis dan Eropa di pertengahan bulan juni dengan suhu maximum 38-420 C. Hal ini berlangsung hampir lebih dari dua minggu. Kota Paris tak luput menjadi korban terjadinya peristiwa ini. 

Banyak penduduk memilih berdiam diri di rumah mereka masing-masing, menyebabkan aktifitas di luar menjadi tidak ramai di sepanjang jalan-jalan kota. Beberapa sekolah mempercepat waktu kegiatan aktifitas siswa dan siswi hanya sampai pukul tiga sore.

Beberapa perusahaan berinisiatif kepada karyawan melakukan pekerjaan online di rumah seperti halnya di masa-masa lockdown covid-19 dahulu. Akibat kejadian ini, restoran-restoran atau tempat-tempat nongkrong di sudut-sudut kota menjadi sepi.

Pemerintah kota menyiapkan pancuran-pancuran air serta penyediaan air minum gratis disepanjang sudut-sudut kota maupun di taman-taman menghindari penduduk yang dehidrasi. Toko-toko elektronik pun menjadi sasaran penyerbuan kipas angin elektronik hingga Air Conditioner (AC) untuk kebutuhan mereka hingga sampai barang tersebut menjadi langka.

Malahan peristiwa Heatwave ini berlangsung sebelum peringatan budaya La fete de la musique (pesta musik) di tanggal 21 Juni sebagai tanda permulaan dimulainya musim panas.

Peristiwa Heatwave tahun 2026 ini memberi aku kenangan dalam bekerja. Aku seorang guide indonesia independen yang bekerja di lapangan mengharuskan beraktifitas bersama tamu menemani mereka berkunjung ke daerah-daerah wisata di Paris dalam kondisi yang extreme ini.

Mas Gozali, sang partner pemilik Binali Travel di Indonesia menghubungi aku untuk menemani rombongan berjumlah 12 orang yang akan berkunjung di kota Paris pada Senin, 23 Juni. Beliau langsung terjun menjadi Tour Leader (TL) dalam rombongan tersebut.

Rombongan ini melakukan Tour perjalanan wisata Eropa 5 negara di mulai dari negara Itali, Swiss, Prancis, Belgia dan Belanda selama 8 hari dengan menggunakan transport bus wisata. Perjalanan mereka berlangsung saat suasana peristiwa Heatwave ini. Setelah menjalani perjalanan 2 hari di Eropa (Itali dan Swiss). Rombongan menginap di kota Dijon di malam ketiga.

Esok hari, mereka mengunjungi kota Paris yang sebelumnya menempuh perjalanan selama 3 jam dari kota Dijon. Aku dan rombongan akan bertemu di daerah Avenue de Suffren dekat menara Eiffel atau daerah kisaran hotel Pullman Paris. Mas Gozali meminta saran tempat lunch time yang dekat dengan posisi menara Eiffel, sekalian menjadi titik temu aku bersama mereka.

˝Mas, lunch time di restoran Grand pacific aja ! Restorannya menyediakan service ‘All you can eat it’ !˝, penjelasanku kepada Mas Gozali. Mas Gozali pun mengikuti arahanku hingga aku pun bertemu mereka di sana pukul 1 siang.

Selesei maksi dengan puas versi all you can eat it, aku diperkenalkan dulu sama Mas Gozali kepada tamu. Kemudian, membawa mereka melakukan photo shot di dekat menara Eiffel mulai dari spot viral di ‘Avenue Octave Gréard’.

Di sini, para tamu mulai gerah akibat panas mentari yang menyengat. Aku pun mensiasati melanjutkan explore dengan berjalan menyusuri di bawah pohon-pohon menuju ‘pont d’Iena’ agar mendapat kesejukan.

Sebelumnya di restoran, aku memberitahu mereka tidak lupa menyiapkan botol berisi air minum menghindari dehidrasi cuaca panas siang ini. Sesampainya di spot jembatan ‘pont d’Iena’, para tamu pun melakukan photo selfie dan photo together beberapa menit hingga rombongan berlanjut aku arahkan menuju parkiran Bus yang parkir dekat kisaran hotel Pullman.

Aku bertopi merah

Rute berikutnya mengunjungi monumen ‘Arc de Triomphe’. Sepanjang jalan menuju ke sana, aku bercuap-cuap kepada tamu menggunakan mikrophon di dalam bus tentang cerita sejarah Menara Eiffel dan monumen ‘Arc de Triomphe’.

˝Wah, monumen ini ada kembarannya di kota Kediri Om Indra !˝, salah seorang tamu remaja di dalam rombongan grup ini mengatakan saat aku bercerita di dalam bus sambil menuju rute berikutnya.

˝Kalau begitu, dilain waktu cukup mengunjungi kota Kediri saja bila kangen dan rindu liburan ke kota Paris ya bapak-ibu !˝, kataku kepada mereka yang dibalas dengan penuh tawa tamu mendiginkan suasana gelombang panas ini.     

Tidak berlangsung lama di daerah Arch de Triomphe, para tamu tetap merasa kepanasan akibat derasnya hawa panas yang menyerang. Beruntung bus wisata kami memiliki Air Conditioner yang menyejukkan badan. Selesei mengambil photo sebagai kenang-kenangan, kami pun berlanjut menuju tujuan berikutnya ke arah tempat wisata museum Louvre.

Meskipun tidak ada program masuk ke dalam, aku tetap menjelaskan cerita sejarah berdirinya gedung ini hingga menjadi sebuah museum. Perjalanan melewati jalan Avenue des Champ-Elyses yang ikonik, menuju Place de la Concorde atau tempat alun-alun kota dilakukannya hukuman mati raja Prancis Louis XVI beserta ratu Prancis Marie Antoinette.           

˝We can stop in here!˝, si supir Bus orang Itali ini mengusulkan kepadaku sambil jarinya menunjuk ke arah Place de la Concorde.

˝No, we can’t !˝, balasku sambil menjelaskan kondisi tamu yang berkeringat akibat cuaca yang panas bila turun dari kendaraan. Dan bus pun tetap melaju ke arah Museum melewati gedung Grand Palais dan Petit Palais. Sesampainya di Museum Louvre, para tamu langsung beraksi melakukan photo selfie sebagai kenang-kenangan mereka. Bahkan aku pun membantu beberapa dari mereka mengambil photo dari kamera handphone mereka.

Cuaca panas kembali menyerang mereka hingga waktu dipercepat dan aku langsung mengiringi mereka masuk ke dalam bawah tanah pyramide atau disebut juga Le Carrosel du Louvre untuk melindungi tubuh mereka dari kepanasan sambil bejalan-jalan melalui pusat perbelanjaan dan restoran.

Setelah badan mereka sejuk, aku pun membawa mereka berbelanja ke tempat toko aksesoris oleh-oleh murah meriah sebagai kenang-kenangan mereka di dekat Museum tersebut. Setelah selesei berbelanja, aku mengajak tamu kembali mengademkan suhu badan di pusat gedung perbelanjaan Galery Lafayette Boulevarde Haussmann hingga sampai kunjungan mereka berakhir hingga malam hari.

Akhirnya, aku beserta tamu pun berpisah karena mereka harus istirahat menuju ke hotel. Dan cerita pun berakhir saat aku mengucapkan perpisahan kepada mereka hingga mereka pun berkomentar senang jalan-jalan di Paris ditemani guide seperti aku, meskipun cuaca extreme heatwave melanda Eropa. Tak lupa aku memberi nasehat kepada mereka agar selalu tetap menjaga kesehatan dan tidak lupa selalu menkonsumsi minum air putih sebanyak-banyaknya di suasana saat ini, karena perjalanan mereka berlanjut esok hari mengunjungi Belgia dan Belanda.

Dan aku pun kembali pulang dan pertandingan sepakbola piala dunia 2026 pun berlangsung antara Prancis dan Irak dengan skor 3-0 yang dimenangkan timnas Les Bues Prancis.

Penjelajahan Le Mont-Saint-Michel

“Bisa temani grup berkunjung ke pulau Le Mont-Saint-Michel ?”, sang partner melempar tawaran kepadaku.
“Siap ! “, jawabku dengan mesra.

Partner pun berkomunikasi dan merancang dengan tamu perihal waktu dan persiapan. Grup ini terdiri dari lima orang pengajar hebat dari salah satu Institusi pendidikan Politeknik di Sumatera Barat.

Mereka berkunjung ke Eropa  menghadiri pertemuan the fourth ASIA-EUROPE Conference on AETECH 2026 di Slovakia, dikomandoi oleh bapak Rahmat Hidayat. Sepak terjang mereka melakukan konferensi sudah melalang buana baru-baru ini.

Bapak-bapak ini sangat solid yang berjiwa petualang. Selesei acara pertemuan di Slovakia sana, mereka menyinggahi beberapa hari kota Paris dan juga berkunjung ke tempat wisata yang bernama Le Mont-Saint-Michel. Saat D-day ke Le Mont-Saint-Michel, penjelajahan dengan para bapak-bapak hebat ini dilaksanakan pada hari kamis, 11 Juni 2026.

Le Mont-Saint-Michel merupakan sebuah pulau berbatu yang berada di wilayah Normandi, Prancis. Tempat ini menjadi ikon wilayah Normandi tersebut, juga ikon wisatanya negara Prancis. Struktur pulau yag berbukit ini sangat unik, bila air pasang laut surut, para pengunjung dapat berjalan di jembatan darat yang sudah di bangun.

Tetapi bila air pasang laut naik, jangan berharap bisa berkunjung dengan angkutan darat atau berjalan kaki menuju pulau tersebut. Pulau ini akan tertutup oleh lautan yang berjarak lebih kurang satu kilometer dari arah bibir pantai pesisir utara Prancis dan akan terlihat menjadi sebuah kastil terapung. Pesona kastil inilah menarik orang-orang datang untuk menjawab rasa penasaran mereka, bahkan menjadi inspirasi kastil di cerita animasi dunia Disney. Sebenarnya diatas kastil itu adalah bangunan pertapaan atau Monastik sebuah gereja. Sebelum ada bangunan itu, pulau ini bernama Mont Tombe.

Legenda menyebutkan malaikat Mikael muncul dalam mimpi Santo Aubert, seorang uskup Avranches yang memintanya membuat tempat suci memakai nama malaikat tersebut. Dan komunitas Benediktin pun membangun gereja pertama di pulau ini dan berubah nama menjadi Le Mont-Saint-Michel.  

“Kastil terapung ?”, bapak-bapak itu tambah penasaran.

Penjelajahan aku bersama grup dimulai berangkat dari kota Paris. Tidak susah mengunjunginya. Menaiki transportasi kereta api dengan durasi tempuh empat jam perjalanan dari stasiun Montparnasse menuju stasiun Pontorson Mont St Michel. Lima belas menit transit, dilanjutkan perjalanan menggunakan bus selama dua puluh tujuh menit menuju langsung ke tempat tujuan pulau tersebut. Perjalanan kami lakukan pukul 7.32 hingga kami sampai pukul 12.07.

“Explore pun di mulai !”.

Saat tiba dan menuruni bus, budaya photo selfie langsung bergerak. Tanpa pikir panjang, mereka bergaya bermacam-macam pose di depan kamera dengan background belakangnya pulau kastil tersebut. Baik photo bersama maupun seorang diri. Maklumlah, tindakan ini merupakan bukti kenang-kenangan tanda sudah menginjak tempat di wilayah ini yang harus di abadikan di dalam handphone maupun jejaring media sosial. “Keren bukan ?”.

Aku berpikir perjalanan di hari kamis minim dari keramaian karena waktu hari bekerja. Realitanya, pengunjung datang sangat ramai di musim semi ini akibat banyaknya rombongan anak-anak sekolah yang kebanyakan dari Prancis, bahkan rombongan anak-anak sekolah yang berasal dari negara tetangga Great Britain, melakukan study tour.

Belajar sejarah sambil jalan-jalan, menjadikan anak-anak sekolah ini menambah wawasan dan belajar menciptakan ide-ide dari sejarah pulau kastil ini. Puas dengan selfie ria di depan pulau, aku membawa mereka masuk jalan-jalan mendaki mengelilingi pulau ini yang seperti benteng pertahanan.

Saat masuk ke atas kastil gereja, terlihat antrian keramaian yang panjang akibat jumlah pengunjung yang besar menyebabkan bapak-bapak ini menghentikan niat mereka masuk menuju ke atas kastil ini. Setelah makan siang di pinggang pulau sambil menikmati pemandangan di bawah.

Perasaan kecewa dengan suasana yang ramai tadi terbalaskan, dengan mengajak mereka kembali turun menuju ujung awal jembatan yang dibawahnya terlihat rumput untuk berphoto selfie ria. Terlihat bahwa grup yang aku temani ini lebih menikmati perjalanan dengan berphoto selfie ria dari pada mendalami cerita sejarah di pulau ini.

Luapan Euforia di depan Kastil

Puas dengan pose-pose photo di bawah jembatan yang bertepatan waktu kembali ke Paris, kami pun kembali menuju pemberhentian Bus untuk menunggu sambil berjalan menyusuri jembatan. Air laut yang siang tadi tidak terlihat disekiling pulau, mulai terlihat pasang naik.

Selfie di bawah bendera yang berkibar

Bus pun membawa kami kembali ke tempat stasiun transit Pontorson Mont-Saint-Michel menuju stasiun kereta tujuan Paris. Saat berada di dalam kereta, selesei shalat jamak ta’khir dzuhur dan ashar dengan posisi duduk di dalam kereta, rombongan bapak-bapak ini pun langsung mengusir lelah setelah menjelajah pulau kastil ini dengan terlelap tidur membawa mereka ke alam mimpi seakan menjadi inspirasi.

Saking lelahnya kepuasan menjelajah ini, terlihat cara tidur mereka dengan suasana wajah dengan mulut menganga. Beruntung di dalam kereta ini tidak ada lalat yang akan hinggap ke mulut terbuka itu. Akhirnya, satu jam sebelum tengah malam, kami pun kembali sampai di kota Paris.       

Selfie ria seperti anak band

Tentang Awak

Bonjour/Hallo,

Bienvenue sur Canal IndraFrancdo / Selamat datang di Blog-Awak

‘Tak kenal, maka tak sayang’, selain dari kata pepatah, kata ini juga merupakan judul lagu countrynya ‘Om Iwan Fals’, coba deh baca blog-awak ini sambil mendengarkan lagunya.

‘Ting! ting! ting!’, (suara notification whatsapp Iphoneku), ada yang nge-japri via pesan. ‘Ndra, pengalaman kamu di negeri Hexagon bisa di bukuin tuh’, ucap salah satu tamu yang aku pandu serta bimbing selama perjalanan mengelilingi kota romantis ‘Paris’.

Kebetulan, dia dan keluarganya sedang menunggu di ruang tunggu untuk melanjutkan perjalanan pulang ke tanah air memakai transportasi burung besi di bandara yang bernama Presiden Prancis (Republik kelima),’Charles de Gaule’/Aéroport CDG-étoile’.

‘Siapa tau, di buku nanti ada cerita aku dan keluargaku ketika kamu menemani kami di kota sejarah ini, setidaknya suatu kebanggaan bagi anak dan keturunan kami di kemudian hari nanti. Sampai jumpai lagi !’, tambahan pesan dari si bapak itu.   

Siapa ‘Awak’ ?, awak bernama INDRA FRANCDO. Panggil aku Indra, sedangkan Francdo nama penaku atau initial agar lebih cepat dikenali. Aku bukan keturunan bule, tetapi generasi turunan Indonesia, Abahku orang Sunda Tasikmalaya dan Mandeku orang Minang Padang. yah blasteran SuMin lah, alias (Sunda Minang), hehehehe…….

‘Paris Lumiere de l’Amour’, tulisan ‘Rosita Sihombing’, memotivasiku untuk datang dengan berani hingga berdomisili di negara ini. Aku bertemu dan berkenalan dengan sang hijab traveler ini bersama suami-Prancisnya mualaf ‘bang Patrick’ beserta anaknya si tampan‘Ilhan’, yang pernah menjadi aktor di salah satu film indonesia.

Kemudian, ‘Paris, c’est ma vie’ dan  ‘Voila, La France’ buku karya sang istri mantan diplomat di Paris ‘Lona Hutapea’, menambah pengetahuan aku tentang kehidupan di sini meskipun belum bertemu sang penulis. Ditambah lagi ‘Penumpang gelap’, ‘Paris, je reviendrai’, dan ‘Lurah Paris’ dalam rangkaian hikayat ‘Alijullah Hasan Jusuf’, menyeret aku terus mengenal tentang negara ini dari gaya hidupnya ketika berkenalan langsung dengannya.

Lalu tulisan ‘Ayah’ dari ‘Irfan Hamka’ tentang ayahnya sang sastrawan intelektual organik ‘Buya Hamka’, menjerumuskan aku untuk selanjutnya mengulang-ulang membaca kembali karya-karya bapaknya, ‘Tenggelamnya kapal Van Der Wijck’, ‘Merantau ke Deli’, ‘Terusir’, ‘Di tepi sungai Dajlah’, ’40 hari di Amerika’, dan banyak lagi. Tak hanya itu, aku semakin tergelincir dalam karya si ‘Tere liye’ yang bukan nama asli si penulis. ‘Pulang’, ‘Pergi’, ‘Pulang-Pergi’, ‘Risalah shalat Delisa’, ‘Tentang kamu’, ‘Rembulan tenggelam di wajahmu’, and etc, menemani aku membunuh waktu dalam perjalanan di transportasi kereta TGV, Metro, RER bahkan hanya duduk-duduk di taman-taman kota Paris sambil menikmati sinaran matahari.

Aku pun mencoba bertahan akibat terbawa arus bahkan hilang dalam lautan si ‘JS Khairen’ seperti ‘Rinduku sederas hujan hujan sore itu’, ‘Kami (bukan) sarjana kertas’, ‘Kami (bukan) jongos berdasi’, ‘Melangkah’, ‘Kami (bukan) generasi bacot’, ‘Kami (bukan) fakir asmara’, ‘Kado Terbaik’, ‘Bumkam suara’, ‘Dompet ayah Sepatu Ibu’, yang semua itu belum di tandatangani dia.

Aku pun juga berenang dan menyelam dalam karya Andrea Hirata yang pernah sekolah di Paris, seperti ‘Laskar Pelangi’ dan ‘Sang Pemimpi’, dan banyak lagi karya-karya lainnya membuat isi rak-rak buku di rumahku tersusun berantakan.

Ketika salah seorang founder Stand-Up Comedy berkata, ‘kalau bukan karena Mas ‘Hilman Hariwijaya’, saya tidak akan menjadi seorang penulis’. Aku tahu itu, pasti cerita ‘Lupus’ menjadi inspirasi sang founder Stand-up comedy ini. Aku pun jadi teringat, masa remajaku waktu di Zaman Senior High School juga menyukai buku cerita tentang ‘Lupus’, waktu dulu pada jamannya , selera yang sama dengan Mas Radit yang bergelar penulis, komika, sutradara, bahkan podcaster ini.

‘Halo perempuan bangsawan yang sudah menikah Mas RA ditya, RADITYA, itu orang biasa yang belum menikah’, roastingnya sang kontestan stand up comedy Dodit. ‘Mas Radit, senyum aja gak usah di tahan-tahan’, bulu hidung mu itu loh Mas, bergoyang-goyang’, tambah mas Dodit lagi.  ‘Mas Radit, Salam kenal dari aku’….(berharap sang komika membaca ini, huahahahaha…).

Sebuah kapal pun bersandar milik seorang penulis dan motivator yang kebetulan datang berada di negeri Napoleon. Sosok ‘Benny Arnas’ yang tidak pelit dan sukarela berbagi ilmu mengajak aku berlayar lebih dalam mengenai dunia literasi. Dia pun memberi peluru ‘Bulan madu Matahari’, hingga aku pun mendapat inspirasi dari deskripsi ceritanya tentang perjalaan petualangan menjadi karya ‘Ethile ! Ethile !’.

Bahkan di kota cahaya ini, dia membantu aku membuat kapal mulai dari bahan kayu, design model, hingga mesin-mesin motor nanti di pasang di dalam kapalku untuk aku berlayar di lautan literasi dengan aman.

Di pengajian Paris, aku ingat seorang profesor MIPA dan peneliti yang singgah bersilaturahmi di ‘Paris’ memberi kajian hubungan Al-khaliq dengan struktur dan reaksi kimia.

Hal ini memberi aku kesadaran akan arti hidup. ‘Profesor Witri Wahyu’ yang merupakan fans dari sorang peneliti terkenal di Prancis ‘Marie Currie’ dan menyadari kekurangan dari karya sang peneliti ini bila dihubungkan dalam kehidupan sang peneliti ini.

Aku sendiri menyadari tentang nilai-nilai hidup. Kita tidak hanya hidup untuk bertahan hidup, tetapi berilah nilai dalam arti sebuah hidup. ‘Apa yang engkau bawa mati pada suatu saat nanti ?’, ada tiga perkara, salah satunya ilmu bermanfaat. Nah… tidak ada salahnya berbagi ilmu yang baik dengan meninggalkan aksara di dunia, mudah-mudahan menjadi contoh dalam kebaikan dan maanfaat dalam beribadah.

Manusia diciptakan berbeda-beda, tidak seperti malaikat. Untuk itu, kehidupan manusia berjalan melalui proses. Proses demi proses inilah yang akan menjadi nilai hidup untuk kebaikan dalam beribadah. Mudah-mudahan blog ini menjadi kebaikan dan manfaat bagi kita semua terutama untuk diriku, anak-anakku dan keturunanku…….itulah tujuan blog ini aku tulis, meskipun seorang blogger baru, aku suka belajar dan berbagi.

Saat Eiffel ikut membaca

Mau lebih tahu lagi tentang hidup dan kehidupan di Paris, Prancis dan Eropa….jangan sungkan menghubungi dan mengontak aku bila hendak liburan atau dalam perjalanan mengunjungi kota Romantis ini… Aku siap menjadi guide dan teman dalam menemani bahkan bersedia mendokumetasikannya dalam photo maupun video….ataupun menyusun program perjalanan jalan-jalan di Paris hingga ke Eropa….Tak kenal maka tak sayang !

Ikuti terus membaca blog ini, jangan bosan, silahkan berkomentar dan Aku ucapkan, Selamat membaca !!

SALUT !

Kehidupan Masyarakat Islam Indonesia di Prancis

Hidup di negara minoritas sebagai seorang muslim mengalami banyak tantangan hingga memberi kesan pengalaman tersendiri dalam berinteraksi.

Itulah yang saya alami di negara Prancis dan Eropa, tempat saya berdomisili hingga saat sekarang ini. Semua kesulitan dalam berinteraksi tersebut tidak mempersulit saya dalam menjalankan ibadah di negara yang menganut sistem laïcite mengartikan pemisahan pemerintahan dengan agama atau disebut sekulerisme.

Namun sejatinya bagi Prancis, laïcite itu tidak sama dengan Sekulerisme meskipun sama-sama pemisahan lembaga negara dari lembaga agama. Kenapa laïcite ? Karena negara Prancis dulunya mempunyai sejarah kelam tentang pemisahaan negara dengan gereja. Prancis yang memiliki moto Libérté, égalité, fratérnité ( Kebebasan, keadilan, persaudaraan ), mengartikan negara Prancis menjamin setiap orang memiliki kebebasan termasuk bebas mempunyai hak untuk beragama dengan damai dalam masyarakat yang beragam.

MUSLIM INDONESIA DI PRANCIS

            Melaksanakan shalat jumat di KBRI Paris, saya pun bergabung dan berinteraksi dalam komunitas yang bergerak dalam kegiatan masyarakat bersifat keagamaan bernama Perhimpunan Masyarakat Muslim Indonesia Prancis atau lebih dikenal dengan PERMIIP di bawah naungan KBRI Paris.

PERMIIP yang selalu melakukan acara interaksi mengokohkan muslim Indonesia-Prancis sebagai momen silahturahmi serta memperkuat ukhuwah islami sesama muslim indonesia di negara minoritas ini, baik antar sesama diaspora, pelajar, ataupun orang-orang muslim Prancis yang berhubungan dengan orang-orang indonesia sendiri.

Adapun kegiatan PERMIIP seperti dakwah pengajian setiap bulan dengan Ustad baik dari pelajar yang sekolah di Prancis maupun ustad yang datang dari  Indonesia. Pada tahun 2014 kala itu banyak Ekspatriat Indonesia yang masa kontrak kerja mereka selesei terutama di perusahaan TOTAL Prancis.

Mereka memberikan sumbangan besar berupa dana kepada PERMIIP dalam rangka pengharapan didirikannya mesjid Indonesia di Prancis. Sumbangan yang kala itu diterima oleh ketua PERMIIP bapak Arifi yang merupakan diplomat KBRI masih belum terlaksana hingga saat ini dikarenakan tidak mudahnya perizinan pembangunan mesjid di negara Prancis.

Saya pun ingat orang-orang diplomat KBRI yang telah sukarela dan ikhlas mengkordinir kegiatan-kegitan PERMIIP dari tahun ke tahun diantaranya ; Bpk. Arifi, Novic, Rudjimin, Warsito, Ihsan, Alimi, Aries serta Dimas.

PENGAJIAN AR-RAUDAH PARIS

            Pada tahun 2015, istri DCM KBRI Prancis kala itu bernama Ibu Wati membentuk perkumpulan pengajian Ibu-ibu yang awal anggotanya istri-istri para ekspatriat yang suami-suami mereka bekerja di perusahaan TOTAL Prancis.

Pengajian ini khusus hanya untuk perempuan atau istri-istri yang tinggal di kota Paris, bertujuan mengisi kekosongan waktu kegiatan mereka dengan kegiatan positif.

Berjalannya waktu, AR-Raudah menambah keanggotaan mereka dari perempuan masyarakat umum dan ibu-ibu diaspora lainnya dimana para istri yang suami mereka bekerja di perusahaan TOTAL mengharuskan mereka kembali ke tanah air dikarenakan masa kontrak kerja sudah berakhir. Kemudian, ditambah lagi beranggotakan pelajar-pelajar muslimah di Paris sehingga berjumlah lebih luas.

Aktifitas Ar-raudah tidak hanya berfokus kepada pengajian ibu-ibu setiap bulan, tetapi ikut berpartisipasi bersama PERMIIP, berkolaborasi mengadakan pengajian offline untuk anak-anak Indonesia di Paris maupun keluarga campuran Indonesia-Prancis. Saat ini , Ar-raudah diketuai oleh ibu Yenyen yang secara tulus mengkordinir acara pengajian setiap bulannya baik secara daring maupun offline memberikan semangat antusias perempuan muslimah indonesia di kota Paris dan sekitarnya.

MAJELIS PENGAJIAN AL HIJRAH DI LYON

Prancis sebelah timur terdapat kota Lyon yang merupakan kota besar ketiga setelah kota Paris dan Marseille. Kota ini terkenal dengan kota tuanya yang terdaftar di UNESCO, Vieux Lyon.

Kota ini menarik saya untuk explore berkunjung jalan-jalan sambil bersilaturahmi dengan orang muslim Indonesia di kota ini. Hingga saya menemukan Majelis pengajian Al-Hijrah Lyon. Singkat sejarah, komunitas pengajian ini awalnya didirikan seorang Dr. Arie Fitria yang sebelumnya seorang mahasiswi indonesia di Universitas Lumiére Lyon 2.

Setelah tamat dan harus kembali ke Indonesia mengajar di UNILA Lampung, pengajian ini berlanjut yang di ketuai oleh Mpok Poppy seorang Diaspora Indonesia bersuamikan orang Prancis keturunan Aljazair. Nama Al Hijrah sendiri diberi nama oleh sang ketua karena beliau berhijrah hingga memakai hijab sampai sekarang dari tahun 2015, dan komunitas pengajian ini pun resmi diberi nama Al Hijrah dari tahun 2016.

Komunitas yang sebulan sekali mengadakan silahturami pengajian, saat ini diketuai mbak Eka bersama mpok Poppy sendiri. Bila ada waktu luang dan sesuai jadwal, sesekali saya ikut dalam pengajian mereka sambil jalan-jalan dan explore di kota Lyon atau pun kota-kota terdekat untuk mengikat silahturahmi persaudaraan senasib di daerah perantauan.

MAJELIS PENGAJIAN PRANCIS ( MPP ) DI MONTPELIER

            Prancis bagian selatan terdapat kota Montpellier. Di kota ini, seorang Diaspora Indonesia bernama Dini Kusmana Massabuau mendirikan komunitas Majelis Pengajian Pancis ( MPP ). Teh Dini Sang foundateur situs Suratdunia.com mendirikan komunitas ini bertujuan merangkul para diaspora muslimah yang rindu akan perkumpulan dalam grup pengajian.

Meskipun komunitas ini banyak beraktifitas daring dan sesekali berkumpul secara Offline setahun sekali, terutama di pertemuan berbuka bersama setiap bulan ramadhan.

Adapun aktifitas mereka sejak berdiri Maret 2018, belajar membaca Al quran bersama diiringi pengajian yang banyak diisi oleh Ustadz Aep Saepudin pimpinan pesantren MD Fadhillah. Karena pengajian ini banyak dilakukan secara daring atau online, maka tidak hanya orang-orang Indonesia di kota Montpelier saja yang berpartisipasi, tetapi di seluruh kota di Prancis bahkan ada yang berasal di negara lain di Eropa.

PIMPINAN CABANG ISTIMEWA MUHAMMADIYAH ( PCIM ) PRANCIS

            Komunitas pengajian kader Muhammadiyah pun berdiri di Prancis berkontribusi dalam kajian dakwah dan komunikasi. Komunitas yang sempat vakum dan kembali lahir di tahun 2019 berfokus pada penguatan eksistensi dari organisasi ini.

Komunitas ini juga melakukan pengajian pertemuan sebulan sekali yang sering dilaksanakan di kota Paris, dikarenakan keanggotaan yang banyak berdomisili di kota ini. Pengajian PCIM yang diketuai oleh Diaspora muslim Fakhrudin Arozzi S.H.I, M.S. yang saat ini menempuh kuliah doktoralnya, terlihat beraktifitas dalam kolaborasi terhadap komunitas dan organisasi lain dalam memperluas dakwah yang efektif.  

            PERMIIP yang didukung KBRI bersama pengajian Ar raudah, Al hijrah, MPP dan PCIM serta masyarakat muslim indonesia lainnya baik diaspora dan pelajar Indonesia selalu berkolaborasi dalam mewujudkan kegiatan masyarakat dalam hal keagamaan, kesenian, olahraga dsb.

Masyarakat muslim Indonesia di Prancis yang haus akan dakwah dan ilmu agama sesekali melakukan pengajian mengundang para ustadz yang datang dari Indonesia seperti Ustadz Adi Hidayat pada tahun 2019, Ustadz Firanda Andirja Abidin pada tahun 2018, Ustad Khalid Basalamah pada tahun 2018 dan 2025.

Bahkan PERMIIP setiap bulan ramadhan selalu aktif mengundang para ustadz selama sebulan sebagai bagian perwujudan kerinduan diaspora Indonesia di Prancis terhadap ilmu agama, diantaranya :

  • Ustadz Arrazy Hasyim ( tahun 2016, kolaborasi dompet dhuafa )
  • Ustadz Arrazy Hasyim ( tahun 2017, kolaborasi dompet dhuafa )
  • Ustadz Jauhar Ridloni Marzuq ( tahun 2018, kolaborasi dompet dhuafa )
  • Ustadz Muhamad Zen ( tahun 2019, kolaborasi dompet dhuafa )
  • Ustadz Yendri Junaedi LC ( tahun 2020 versi online karena Covid )
  • Tahun 2021 hingga 2022 masih suasan covid ( banyak beraktifitas daring atau online )
  • Ustadz M. Abdul Kholiq Hasan ( tahun 2023, kolaborasi dompet dhuafa )
  • Ustadz Dr. Akhmad Ikhwani  ( tahun 2024, kolaborasi UIN Lampung )
  • Ustadz Ahmad Zulfikar ( tahun 2025, kolaborasi dompet dhuafa )
  • Ustadz Rizki Hegia Sampurna ( tahun 2026, kolaborasi dompet dhuafa )