Kami (Bukan) Sarjana Kertas

Kami (bukan) Sarjana Kertas di Paris

Kami (Bukan) Sarjana Kertas menceburkanku tenggelam dalam dunia kehidupan Mahasiswa. Awal kenal tentang buku ini, saat iseng-iseng melakukan  skrol-skrol IG dan FB dalam pencaharian buku-buku asyik untuk mengusir waktu percuma dalam perjalanan dan membunuh waktu tak berarti di saat-saat kekosongan hari.

Akhirnya, papan selancar internet berhenti tertuju kepada seorang penulis saat ngonten di IGnya di Terminal Bandara BIM Padang yang baru mendarat nan hendak menghadiri acara diskusi atau apalah bagi orang umum dan bagi Mahasiswa-i Universitas UNP Padang dan Pustakasteva.

Yang bikin tafakur, saat dia berbicara berbahasa daerah…’heee urang Minang abang ko kiro ee, tapi ba a kok Jombang namo abang bang ? itu kamu, hp kamu indak kamu pakai khan ? Campak an, agiah an ka ayam lei’…
‘Karambiah! ongeh gaya abang ko lei !’, dalam hatiku berkata.

Saatku searching lebih dalam di Google tentang si penulis ini, mataku terbelalak-terbelalak membaca biography dan karyanya. Benar-benar ketinggalan aku yang tidak optudet ( Up to date ) saat ini.

Kukirim pesan ke keluargaku di kota Bengkuang, ‘Tolong balian buku karya paja ko di Gramed yo !‘, pintaku mendesaknya untuk dibelikan. Sebulan kemudian, kumpulan hasil tinta ketikan karyanya mendarat di kota PARIaman dan Sekitarnya alias Paris. Pertama,

Aku explore karyanya Kami (Bukan) Sarjana Kertas. Aku penasaran apa maksud paja Jombang ko mendeskripsikan kelompok pelajar yang menjadi Maha ini diceritakan. Kocak, gengsi, egoisme, keseriusan, selow, kecewa, ambisi, motivasi, serta menghasilkan dan tidaknya sebuah kertas berlabel Sarjana.

Detailnya aku tidak berkomentar tentang isi cerita…kalau kamu-kamu mau tau isi ceritanya, ya  beli lah ! sekalian minta tanda tangannya biar bertanda bahwa kamu beli buku yang bukan bajakannya….atau pinjam sono di pustaka-pustaka yang tersedia. Semangat membaca!!…..

Kami (bukan) Sarjana Kertas di Museum Louvre

         Dalam tulisan ini aku flashback dalam memori-memori indah masa-masa perjuangan dan kehidupan dunia kampus yang aku geluti di kota Bengkuang tempatku dulu. Perjuangan untuk meraih kemerdekaan bersama teman-teman seperjuangan dulu maupun yang telah gugur (mudah-mudahan mereka masih ada dan membaca tulisan ini). Merdeka dari apa ? Merdeka mendapatkan sebuah kertas. Kertas apa ? Kertas kebanggaan.

Meskipun jaman sekarang kertas itu tidak lagi di perlukan dalam kehidupan di negeriku, karena akan kalah sama kekuasaan yang berbalut kebohongan bernuansa politik. Kampus biruku terletak di bagian Utara kota Bengkuang.

Kamu tau Bingkuang khan ? trus kamu juga tau kenapa kota ini di sebut kota Bengkuang ? yang kini berubah menjadi kota Kerupuk ? Kamu tanya mbah Google untuk mengetahuinya atau tanya ke si Jombang tentang Bengkuang ini. Kembali ke tulisan, Yah….kampus biruku adalah sebuah kampus swasta di jamannya. Peran tokoh Ogi di dalam novel seperti sedikit refleksi bagiku.

Tokoh yang tak lulus di kampus negeri, berbelok ke kampus swasta keren, beda dengan kampus si Ogi, kampus UDEL, yang existensinya sekarat akibat pemberontakan sang dosen Sugiono (Saya kira si Jombang mungkin terinspirasi seorang tokoh Sugiono dari  sebuah film Jepang).

Awal mula perkuliahan di jamanku, aktifitas kegiatan OSPEK masih terlihat eksis. Terlihat suasana Senioritas dan junioritas, suasana senior yang mencari-cari junior bunga-bunga kampus baru untuk didekati hingga digauli.

Terkadang, dosen-dosen yang baru kami kenal pun memprovokasi agar nilai-nilai Ospek bukan menghasilkan jiwa otoriter sang senior yang memotivasi kami agar melakukan perlawanan.

Hikmah selesei Ospek, selain pengenalan kampus, kami dengan senior menjadi lebih saling mengenal dan bergaul, saling tidak ada batas antara senior dan junior. Hanya di awal-awal kegiatan Ospek strata itu terlaksana. Bahkan, keakraban setelah Ospek melakukan aktifitas KBM (Kemah Bakti Mahasiswa) ke desa-desa terpencil.  

Aku pun juga refleksi dari kisah si Sania, tokoh yang hobi bermain musik dan manggung di kafe-kafe bahkan bercita-cita ingin menjadi pemusik terkenal. Tetapi aku main musik bukan di cafe-cafe, melainkan di acara-acara festival atau acara di gedung melakukan konser hingga aku HAMPIR terkenal bahkan manggung di kota-kota tetangga seperti kota Pekanbaru dan kota Duri.

Beruntungnya, kehidupan menjadi pemain musik tidak menjadi nyata sampai sekarang ini. Ah….Aku ingat sang gitaris teman kampus biruku sesama main musik dan ngeband. Anak asli asal Sawahlunto. Bagiku, mungkin dia Yngwie Malmsten, John Petrucci, Steve Vai, Eddie Van Hallen, Tom morello, Nuno Bettencourt, Paul Gilbert, Wes Borlan, dan banyak lagi.

Bahkan aku dan dia menciptakan beberapa lagu ciptaan sendiri yang kami mainkan di konser Sastrakustik. Meskipun aku membelot darinya beraliran musik lebih keras, dia telah memberi aku kenangan bersama tentang seni dalam melodi melalui petikan jari tangan cepat lewat tali dawai gitar. Bedanya aku dengan Sania, musiknya Rock sedangkan aku lebih keras dari Rock. Kira-kira musik apa tuh ?

Se isap dua isap, kegiatan itu juga nyata dan ada dalam kehidupan di kampus biruku. Apalagi aku punya seorang teman dalam satu kelas bernama Habib ( bukan seorang ulama ) melakukan se isap dua isap, bahkan melakukan transaksi di tempat aku kuliah. Biasa lah ! buka kios kecil-kecilan.

Sampai-sampai dia bilang, BB (barang bukti) di letakkan di bawah batu tersembunyi di dekat kelas belajar. Terkadang dia mengikuti pelajaran di kelas dengan muka bermata merah sambil tersenyum-senyum ramah bercengkerama bersama aku dan teman-teman sekelas mengisi kecerian hari-hari kami.

Kampus biruku berlokasi di daerah yang selalu bernuansa kunjungan angin lautan. Seperti lagunya almarhum Imanez yang populer saat artis ini naik daun. Benar sekali…..Anak Pantai judul lagunya memang gambaran dari identitas kami.

Bila selesei belajar di kelas atau datang lebih awal, kami bisa nongkrong di daerah tersebut sambil merenungi, memandang, menghafal dan mengulang-ulang pelajaran ataupun berinspirasi sambil menatap ombak memecah bebatuan karang saat menghampiri kami. Suasana yang kami hadapi setiap hari memberi semangat dalam beraktifitas bahkan merasa tubuh menjadi malas. Ah….itu suasana yang sangat aku rindukan…..

Tujuh Mahasiswa Kampus Udel di Museum Louvre

Gala, pemuda hobi mendaki gunung untuk meredam kegaulauan dalam kehidupan dengan bapaknya. Karakternya juga tercermin dalam adrenalinku dan juga teman-teman sekelas kampusku, tetapi bukan karakter kegalauannya.

Aku ingat, kuliah di tahun kedua saat teman-teman sekelas sudah mulai dekat dan akrab hingga keakraban kami pun diekspresikan dengan alam menjadi sebuah adventur melakukan pendakian bersama-sama menaklukan sebuah gunung merapi yang saat itu belum memperlihatkan kemarahannya saat sekarang ini.

Marapi, adalah saksi bisu keakraban dan kenangan pertemanan kami yang menyatu dengan alam. Memori inipun menjadi inspirasiku dalam menulis sebuah novel (entah kapan seleseinya…..masih dalam pengerjaan penulisan).

Deskripsi dosen Lira dalam Kami (bukan) Sarjana Kertas diawal cerita membagikan Pizza kepada mahasiswa-i kampus UDEL merupakan suasana kehidupan aku dan teman-teman sperjuangan dalam hidup di dunia kampus biruku. Enak, lezat, praktis, meningkatkan sistem kekebalan tubuh, meskipun tergolong sebagai makanan tidak sehat bila dikonsumsi dalam jumlah banyak.

Enak karena menyukai kegiatan kehidupan kampus yang bebas sesuai keinginan hati, Lezat karena suasana aktifitas belajar yang berdikari sesuai kemauan sendiri, meningkatkan sistem kekebalan tubuh karena bertahan sesuai dengan diri sendiri, namun bila terbuai suasana kebebasan yang tidak di kontrol diri sendiri bisa berakibat kejatuhan di dalam jurang kehidupan yang tersesat. Dosen lira pun juga memberi pesan dalam pelepasan tikus-tikus di dalam koper yang dibuka setelah menikmati makanan pizza yang lezat.

Ah….aku rindu kampus biruku. Kawasan dunia pendidikan teletak di utara kota Bengkuang, banyak dikelilingi rumah-rumah kos-kos an, menjorok ke arah tepi lautan. Kampus I bernamakan seorang tokoh proklamator kemerdekaan yang pernah bersekolahkan di negeri seberang. Saat ini sudah pindah ke kawasan kampus II Aiapacah. Kampus yang lahir dari sebuah Yayasan Pendidikan Wawasan Nusantara. Teruntuk sebuah kenangan…….Universitas Bung Hatta ulak karang !!!!.  

Judul Buku : Kami ( Bukan ) Sarjana Kertas

Penulis : J.S. Khairen

Penerbit : PT. Gramedia Widiasarana

No. ISBN : 978-602-05-3070-3

Tamu Cruise Ajigijaw

Kisah kali ini adalah catatan perjalanan mengguide tamu yang berwisata menggunakan kapal Cruise atau kapal pesiar, yang berlabuh di pelabuhan kota Le Havre, Prancis.

Aku yang seorang guide dikontak partner untuk menemani mereka berwisata mengunjungi kota yang berdekatan dengan kota Le Havre di wilayah Normandy, Prancis Barat.

         Partner kami ‘Cruise Centre’ yang beralamat di Jakarta. Setelah deal dan negosiasi, kerjasama pun dimulai. D-day atau hari-H pelaksanaan tepat dua hari setelah club sepakbola PSG merayakan victory atau kemenangan kedua piala champion 2026 yang ternodai sedikit rusuh oleh fans fanatik mereka di Paris. Kapal penumpang mewah itu bernama Princes Cruise, yang datang dari kota Edinburgh, Skotlandia.

Adapun program list kapal pesiar ‘12 Night British Isles with France Belfast’ dengan menyinggahi beberapa kota antara lain ; Sothampton, Falmouth, Cork, Dublin, Liverpool, Belfast, Greennock, Invergordon, Edinburgh, dan Le Havre. Para tamu terbagi menjadi dua grup di hari yang sama.

Grup pertama berjumlah dua puluh orang, perjalanan wisata mereka mengunjungi dua kota, yaitunya Deauville dan Honfleur. Sedangkan grup kedua berjumlah tiga belas orang, perjalanan mereka mengunjungi tempat wisata Le mont-Saint-Michele.

Aku memutuskan menemani tamu untuk grup pertama, guide wisata ke kota Deauville dan Honfleur, sedangkan grup kedua ditemani guide team dari kami. Perjalanan wisata menggunakan transportasi bus yang telah disediakan oleh partner sendiri.

         Perjalananku mulai menuju kota Le Havre dari stasiun Paris-Saint-Lazare menggunakan kereta, karena aku berdomisili di kota Paris. Jarak tempuh perjalanan memakan waktu dua jam yang aku manfaatkan membunuh waktu dengan membaca ‘Dompet Ayah, Sepatu Ibu’ tulisan tangan si JS Khairen, sang AJIGIJAW yang saat ini sedang GEMPAR MENGGELEGAR.

Kisah yang menghanyutkan aku tenggelam dalam lautan emosi alam sadarku. Aku berangkat pagi-pagi sekali. Jadwal keberangkatan kereta Paris –Le Havre pukul 06.40 – 08.45 dikarenakan harus menjemput tamu pukul 9 tepat. Sesampainya di stasiun kereta Le Havre, aku meluncur ke terminal pelabuhan kapal pesiar menggunakan taksi kisaran memakan waktu tujuh menit, memang terlihat tidak jauh.

Saat tiba, aku langsung menemui supir bus wisata dan berkenalan, sang supir bernama Sylvain, orang Prancis. Setelah bertemu para tamu dan menuntun mereka menuju bus wisata, serta berkenalan dengan sang Tour Leader grup merangkap Direktur Cruise Centre yang bernama Bapak Johny, kemudian adventure pun dimulai.

         Perjalanan pertama menuju kota Deauville, sebuah kota resort tepi laut dengan ikon pantai pasirnya yang panjang dan luas. Memakan waktu perjalanan empat puluh lima menit dari Le Havre. Selama perjalanan di dalam bus, aku celoteh-celoteh menggunakan mikrophone kepada para tamu agar suasana terlihat akrab dan hangat.

Dalam perjalanan, bus kami melewati jembatan Normandy, menjadi ikon wilayah Normandy. Aku pun bercerita tentang wilayah Normandy ini, berawal bercerita kisah Jean D’arc yang merupakan pahlawan wanita dari Prancis. Lalu, menjelaskan daerah ini menjadi terkenal akibat perang dunia ke-dua saat Prancis dikuasai Jerman-Nazi, menyebabkan banyak film-film perang yang mengambil kisah dan cerita di wilayah sepanjang pantai di Normandy ini.

Aku bercerita tentang film perang ‘Saving Private Ryan’, merupakan ikonic war film, sebuah film perang yang kejadiannya berlangsung di Omaha beach.

Kemudian aku menyebutkan film-film perang lainnya seperti The Longest Day, Dunkerque, D-Day, yang kesemuanya itu bersetting di wilayah Normandy. Celoteh yang lain aku bercerita tentang seorang pendiri produk bermerk terkenal bernama Chanel.

         ‘Bapak-ibuk, apakah tahu parfum merk Chanel yang terkenal ?’, aku mengajukan pertanyaan kepada para tamu di dalam bus untuk mencairkan suasana.

         ‘Tahuuuuu ! Chanel nomor 5 !, jawab mereka.

         Dan aku pun menceritakan tentang story sang pendiri produk Chanel tersebut yang bernama Coco Chanel atau Gabriel Chanel, seorang wanita miskin di masa kecil mempunyai keberanian dan kebebasan yang didukung orang-orang seniman dan berpengaruh hingga sukses mendirikan produk elegan bermerk Chanel, diawali dengan karya topi, pakaian, tas hingga merk parfum terkenal.

Ternyata, di kota Deauville terdapat toko penjualan sang foundator ini yang sekarang menjadi monument sejarah, membuat para tamu penasaran datang mengunjungi untuk melihat dan mendokumentasikannya dalam sebuah photo sebagai kenang-kenangan mereka di kota ini.

Sebelumnya aku mengajak mereka berjalan-jalan melihat suasana pantai kota Deauville nan besar dan luas sambil melihat papan nama-nama artis berjejer yang pernah singgah berlibur di kota ini. Sayangnya, cuaca saat itu berangin dan kurang mendukung karena menghadapi masa pancaroba perubahan musim semi ke musim panas.

Aku bertopi merah sebagai Tour Guide

         Selanjutnya, selesei lunch time, pukul dua siang wisata kami berlanjut menuju kota Honfleur, sebuah kota pelabuhan kecil yang ikonik dengan bangunan kayu yang masih berdiri kokoh hingga saat sekarang ini.

         ‘Kota ini masih memiliki bangunan kuno dari kayu karena tidak banyak terkena bombardir saat dikuasai Nazi di World War II, berbeda dengan kota Le havre yang hangus dan rata dengan tanah akibat dijatuhi bom pasukan sekutu untuk mengusir tentara Jerman-Nazi dari Prancis’, coletah aku kepada tamu.

         ‘Adakah bapak-ibuk di sini yang menyukai seni lukis ?, tanyaku lagi.

         ‘Di sinilah sejarah awal terciptanya sebuah karya baru tentang seni lukis yang beraliran Impresionisme yang dipopulerkan oleh pelukis Prancis bernama Cloude Mone’, aku bersuara di ujung mikrophone.

         Aku pun menjelaskan apa itu tentang aliran seni lukis Impresionisme, hingga mereka menjadi tahu sedikit tentang seni lukis. Memang benar, orang Eropa sangat menghargai akan seni. Sesampainya di kota Honfleur, wisata pun berkeliling menyusuri kota tua nan kecil itu selama dua jam.

Akhirnya, pukul 17,00 wisata pun selesei dan tamu harus kembali menuju terminal pelabuhan menuju kapal pesiar Princes Cruise untuk melanjut perjalanan berlayar mereka ke kota-kota lainnya.

         Akhir catatan, aku kembali pulang menuju kota Paris menggunakan kereta pada pukul 20.09. Dalam perjalanan aku kembali Ajigijaw larut dalam dunia Dompet Ayah, Sepatu Ibu.

Saat kisah Asrul menyatakan suara cinta dalam kaset kepada cinta monyetnya hingga dia dan sang adik Irsal berjuang menunggu sang bapak kandung pemilik tiga istri di terminal padang panjang sambil menahan lapar, maka sampailah keretaku di stasiun Paris Saint-Lazare dan mengakhiri kisah catatan perjalanan mengguideku hari ini.

Sesampai aku di rumah, penatku terobati menerima kiriman pesan dari partner di ponselku yang berisi ucapan terima kasih atas service guide yang aku berikan pada hari ini. ‘Mereka puas !’, pesan yang kuterima via Whatsupp. Sekian kisahku…..     

Tour (Indra) Guide Indonesia di Paris, Prancis & Eropa

Bonjour/Hallo,

         Paris merupakan pusat kota wisata Eropa & dunia yang banyak dikunjungi oleh wisatawan-wisatawan yang datang dari belahan dunia, termasuk wisatawan dari Indonesia. Jalan-jalan atau liburan tidak hanya berkunjung dan menikmati tempat-tempat objek wisata.

Namun, menyelami, eksplorasi serta mengetahui tentang budayanya mengibaratkan kita tidak hanya menjadi tourist, tetapi langsung merasakan bagaimana menjadi bagian penduduk yang mempunyai perbedaan budaya dengan negara kita.

Bersama Indra Syafri

         Saya berpengalaman, bagaimana menjadi guide ketika menemani satu grup / rombongan yang berjumlah banyak 30-40 orang. Saya mennyimpulkan bahwasannya terpakunya kebebasan, kurangnya fleksibilitas, kurangnya eksplorasi mendalam dari invidu dengan program terstruktur dan aturan perjalanan yang di buat oleh agen perjalanan seperti waktu yang terbatas, kurang komunikasi ataupun menginginkan privasi sehingga terjadi sedikit gesekan dengan jadwal yang sudah ditetapkan para penyedia jasa tersebut, hingga perjalanan kurang ternikmati.

Wajar ! hal itu disebabkan salah satunya dengan budget dan anggaran terbatas.

         Oleh karenanya, saya menawarkan menjadi guide dan menemani secara privat ataupun rombongan dalam perjalanan wisata anda selama di kota Romantis ini ataupun negara-negara eropa lainnya. Tidak hanya mengguide, bersama kru assisten saya juga membuat planner work ataupun konsultasi perjalanan special wisata di Paris, Prancis & Eropa.

Bahkan bila diinginkan, langsung terjun menjadi photograper untuk mengabadikan kunjungan atau pun jalan-jalan wisata anda hingga membentuk sebuah kenang-kenangan indah tak terlupakan dalam hidup anda di tempat-tempat spot objek wisata terkenal.

         Terima kasih kepada client atau pun tamu-tamu saya sebelumnya yang menyarankan dan mendorong saya untuk membuat blog website ini sebagai komunikasi yang bisa di tawarkan kepada teman-teman / saudara-i mereka yang mempunyai rencana nantinya berwisata di Paris, Prancis & Eropa. ‘Tak kenal maka tak sayang’, nama saya Indra Francdo.

Biasa di panggil Indra, sedangkan Francdo merupakan initial atau nickname supaya mudah dikenali. Saya bukan keturunan blasteran bule ataupun dari keluarga bule, tetapi Abah abdi berasal dari sunda Tasikmalaya dan Mande awak  berasal dari Minang Padang, jadinya saya blasteran SuMin alias Sunda-Minang……hehehehe.

Saya hidup dan berdomisili di kota Paris, Prancis sebagai tour guide Independen sejak tahun 2017. Saya menyukai petualang, suka menulis dan membaca baik tentang sejarah maupun cerita-cerita novel ( mudah-mudahan menciptakan novel sendiri ).

Segitu dulu presentasi singkat saya, bila ingin lebih kepo tentang saya….yuk saya temani dengan mampir ke kota cahaya romantis ini ataupun negara lainnya di Eropa. Mau lanjut ? Silahkan hubungi saya di kolom kontak.

â très bientôt et sampai ketemu !!!……