Kesuksesan ‘Napoleon’ dalam Arc de Triomphe

             “Para pasukan, aku bangga padamu!….,aku akan membawa dirimu kembali pulang ke Prancis. Engkau akan menjadi pusat perhatian dan kasih sayang yang paling lembut. Cukup engkau berkata, Saya berada di pertempuran ‘Austerlitz’ dimana menjadi sosok pria pemberani!.ˮ
Napoleon Bonaparte berorasi untuk pasukannya bernama ‘La Grande Armée’ di pertempuran ‘Austerlitz’, 8 Desember 1805 saat melawan Kekaisaran Austria, kekaisaran Romawi hingga kekaisaran Russia yang dijuluki pertempuran melawan tiga Kaisar.

Pagi menjelang siang melecut aku untuk bergerak mengunjungi suatu gerbang yang berdiri kokoh menghubungkan titik penting menjadi persimpangan dua belas jalan raya perkotaan Paris yang berjajar pepohonan. ‘Gerbang Kemenangan’ tempat itu bernama, atau dikenal dalam bahasa Prancis ‘Arc de Triomphe’.

Pagi menjelang siang itu merupakan sebuah hari di Prancis yang disebut ‘hari warisan budaya’. “Apa pula budaya ‘Arc de Triomphe’ yang hendak mau diwariskan ?,ˮ sebuah pertanyaan mendarat didalam pikiranku.

Posisi Arc de Triomphe berada di tengah-tengah yang dikelilingi jalur jalan raya. Masuk mendekati monumen ini harus berjalan ke lorong bawah tanah dan dilarang berjalan menyeberanginya. Saat antrian mendekati pintu pemeriksaan, aku menyentuh dan meraba-raba dinding bangunan tersebut sebagai ungkapan rasa penasaranku.

“Apa maksud riwayat bangunan ‘Arc de Triomphe’ ini ? secara seni arsitek bangunan, aku mengaguminya. Tapi, apa pesan-pesan yang disampaikan bangunan berbentuk monumen romawi kuno ini ?,ˮ aku terus bergumam sendiri sambil memandang pelancong-pelancong berselfie ria dalam sebuah photo dengan background monumen ini.

Sejarah mencatat, ‘Arc de Triomphe’ mulai dibangun pada tahun 1806, bertujuan menghormati jasa para pahlawan yang gugur dalam pertempuran demi Prancis, terutama pasukan ‘Grande Armée’.

Kaisar Napoleon Bonaparte ingin rakyatnya mengenang sosok orang-orang pemberani dalam pertempuran demi membela negaranya, maka dari itu terbesit olehnya mendirikan monumen pahlawan ini, bahkan dia sendiri yang mendesigne bangunan ini.

‘Apa Napoleon seorang arsitek atau seorang tentara ?, pertanyaan mengular lagi di kepalaku. Pembangunan ini mengalami hambatan yang cukup lama dan sempat terhenti, namun dilanjutkan kembali pada tahun 1823 hingga selesei tahun 1836.

“Eeeiittss!….Monumen ini bukan di kota Kediri Indonesia yah, tapi berada di kota Paris Prancis.ˮ

Saat berdiri melihat ke atas monumen, terdapat nama-nama pasukan yang gugur terukir di dinding ini, jumlahnya ada 660 nama. Patung-patung di dinding monumen seakan berbicara peristiwa-peristiwa tertentu saat perang, itulah keadaan perang ‘Austerlitz’. “Kenapa perang ‘Austerlitz’?,ˮ aku terus larut dan terseret berada ke dalam sungai riwayat tersebut.

660 nama pasukan yang gugur

Di empat sisi kaki bangunan monumen ini, juga terdapat empat ukiran patung besar yang juga bercerita dan menjawab kenapa pertempuran di Austerlitz terjadi. Aku pun mulai menatap dan membaca pesan simbol dan ekpresi dari empat maha karya ukiran patung tersebut agar menjadi paham.

1. Patung ‘Keberangkatan sukarelawan’ atau ‘La Marseilles’.

Le Départs des Voluntaires ou La Marseilles

Patung disebelah kanan menghadap jalan ‘Champs Elyses’ karya François Rude menggambarkan sejarah peristiwa kemenangan pertama ‘Revolusi Prancis’ terhadap sistim sekutu Monarki Eropa pada tahun 1792 dengan terjadinya pertempuran Valmy, antara revolusioner Prancis melawan kerajaan Austria dan kerajaan Prusia.

Patung ini melambangkan semangat persatuan nasional dan perlawanan rakyat terhadap sistim Monarki. Patung wanita bersayap melukiskan sosok kebebasan menyerukan perlawan bahaya invasi musuh yaitu penentang revolusioner. Menyerukan rakyat bertempur dengan mengacungkan pedangnya, perisainya, bahkan nyawanya sendiri.

Wanita bersayap ibarat simbol kebebasan. Lalu patung-patung dibawahnya merupakan orang-orang dari segala usia dan segala golongan mulai dari pemuda belia hingga para veteran tua bersenjata, ibaratnya seluruh rakyat membela tanah air bergerak maju melawan secara bersama-sama tanpa pengecualian. Patung ‘La Marseilles’ ini bagaikan pintu gerbang memahami sisi Arc de Triomphe.

2. Patung ‘Kemenangan Napoleon’

Le Triomphe de Napoléon

Patung di kaki sebelah kiri ini juga menghadap jalan ikonik ‘Champs Elyses’, sebuah karya pemahat Jean-Pierre Cortot. Patung di tengah merupakan sosok pemimpin Napoleon diberi mahkota diatas kepala oleh sosok wanita bertelanjang dada, mengartikan simbol kemenangan mutlak di medan perang, bertanda tahun kejayaan Napoleon  yang banyak menaklukan dan bertempur dengan mengalami kemenangan.

Disebelah kiri perempuan menunduk dan berlutut dengan tangan terbuka ke atas memberi kiasan sebuah kota tunduk dan berharap perlindungan dengan mengulurkan tangan meminta kepada sang kaisar. Dibelakangnya ibarat seorang wanita sejarah sedang mencatat kemenangan sang kaisar di catatan buku.

Sedangkan disebelah kanan belakang laki-laki berlutut dengan tangan terikat menyatakan kekalahan kepada sang kaisar. Di atas ada patung sosok figur bersayap melambangkan ketenaran yang meniup terompet dan mengacungkan panji dengan latar belakang pohon palem bertanda ekspedisi Napoleon sampai ke Mesir.

3. Patung ‘Perlawanan’atau ‘La Résistance’.

La Résistance

Simbol patung ditengah adalah seorang prajurit bertelanjang dada siap berangkat membela tanah air dengan tangan memegang sebilah pedang pendek. Di sebelah kanan bawah, seorang tua berusaha menahannya, sedangkan di sebelah kiri bawah sang istri menggendong anak juga berusaha mencegahnya pergi.

Tampak di belakang atas, seorang tua penunggang kuda terjatuh seolah-olah tersambar petir, simbol melambangkan pengorbanan seorang patriot bagi negara. Sedangkan di atas, sosok ‘jiwa masa depan’ membentangkan sayap, menyerukan kewajiban prajurit itu melakukan perlawanan.

Saat itu, pertempuran melawan invasi cerminan tema nasional yang hakiki. Semua perpecahan internal dikesampingkan agar persatuan terwujud hingga terjaga keutuhan wilayah. Permasalahannya kaisar Napoleon yang turun tahta.

Karya pemahat ‘Antoine Etex’ menyimbolkan perlawanan bangsa melawan invasi asing yang bersekutu, yaitu pasukan kekaisaran Austria dan kekaisaran Prusia melawan sang Kaisar Napoleon hingga invasi bergerak maju mencapai kota Paris di tahun 1814.

4. Perdamaian atau ‘La Paix’.

La Paix

Patung yang menghadap ke jalan ‘Avenue de la Grande Armée’. Ini karya kedua pemahat ‘Antoine Etex’ yang meriwayatkan perdamaian. Perang telah usai, disimbolkan dalam sosok patung prajurit di tengah sedang menyarungkan pedangnya.

Pertanian mulai maju diperlihatkan dalam patung sosok tua membajak, beternak lembu, hingga berkembang pesat. Sosok ibu dan anak merefleksikan keluarga dan peluang bagi pendidikan, sebuah aktivitas bangsa yang mendasar mewujudkan bangsa yang makmur secara bersama.

Patung di atas merupakan sosok Minerva, mengenakan helm dan memegang tombak sebagai dewi kemenangan sebagai sumber inspirasi bagi pengrajin, seniman, cendikiawan dan upaya-upaya damai.

Setelah memahami refleksi patung di ‘Arc de Triomphe’, aku pun mulai sadar dan berfikir, “Kenapa pasukan koalisi kekaisaran bersatu melawan kepemimpinan Napoleon ?,ˮ Sesungguhnya….kaisar Napoleon berambisi ingin menguasai Eropa dengan menyebar ideologi Revolusi Prancis yang ditakuti oleh kerajaan-kerajaan absolut disekitarnya.

“Apa pula itu Revolusi Prancis ?,ˮ Rupanya sebuah gagasan politik meruntuhkan monarki absolut serta feodalisme (kekuasaan kepada bangsawan dan tuan tanah), hingga melahirkan sistem republik demokratis yang menjunjung tinggi hak asasi manusia. Itulah  negara Prancis menjadi terkenal dan berpengaruh menyebar ke seluruh dunia dari gagasan kepemimpinan sang kaisar Napoleon. 

         Dua puluh menit menunggu yang tidak lama bagiku menuju pemeriksaan barang bawaan demi keamanan, aku mulai menuju ke atas dengan menaiki tangga berbentuk spiral berjumlah 284 anak tangga, menjadikan sensasi tersendiri dalam seni (aku mengabadikannya dalam sebuah photo). Beberapa pengunjung ada memilih istirahat dipertengahan tangga karena nafas sesak terkuras saat menaikinya, sedangkan aku tetap melanjutkannya karena nafasku masih normal bertanda sehat.

“Apakah ini bentuk perjuangan di dalam pertumpuran saat itu?,ˮ entahlah, aku berimajinasi seolah-olah seorang prajurit yang berjuang dalam pertempuran itu. Padahal, hanya berjuang menaiki tangga menuju puncak teras monumen yang ukuran tingginya 49,54 meter itu.

Sampailah aku di sebuah ruangan pertama merupakan museum yang bercerita sebuah layar animasi tempat-tempat monumen gerbang di dunia berdasarkan masing-masing negara seperti bangunan Arc de Triomphe ini. Lalu, ada patung kepala cetakan yang terdapat di karya “La Marseillesˮ mengekspresikan semangat baru dalam perjuangan demi kebebasan.

Lalu aku berlanjut naik menuju ruangan lain yang terdapat butik aksesoris dengan thema “Arc de Trompheˮ sebagai kenang-kenangan. Aku melewati toko itu dan terus melaju ke lantai atas berikutnya, sebuah teras yang merupakan puncak dari bangunan ini.

Di puncak teras bangunan ini terasa sangat menakjubkan. Terlihat sudut-sudut kota Paris dengan bangunan lama yang masih berdiri. Aku mengelilingi teras ini dengan dimulai tepat di depan jalan raya ‘Avenue des Champs Elyses’ yang ikonik tersebut. Sebelah kiri terlihat bukit yang terdapat bangunan ‘Sacre Couer’ di puncaknya, dataran tinggi di kota Paris. Sedangkan di sebelah kanan, sang ikonik Eiffel berdiri tegap pongah dikelilingi bangunan lama. ‘C’est incroyable !’, dalam hati aku berkata.

         Masih di depan jalur jalan raya ‘Champ d’Elyses’, aku mengeluarkan telepon selular ingin membuktikan karya bangunan ini mengarah ke arah kiblat di mekkah yang merupakan arah shalat orang-orang muslim. ‘Surprise!’, panahnya benar mengarah ke kiblat.

Arah kiblat Mekkah di atas ‘Arc de Triomphe’

Sempat viral, isu design monumen ini di depannya mengarah kiblat, seolah-olah klaim sang designernya Napoleon seseorang yang telah memeluk agama islam (sebuah narasi yang digadang-gadang di sebuah novel dan film 99 Cahaya di langit Eropa). Nyatanya, sang Kaisar memang pernah memperluas  wilayah kekuasaannya di Mesir dan memimpin ekspedisi ke negara tersebut serta mengaguminya, tentu bukan berarti dia memeluk islam. Bukan rencana tersembunyi atau pesan teologis dari sang kaisar. Wallahuallam ( hanya Allah yang mengetahui ).

Parade masa lalu Prancis

Masa lalu ? Ah itu hanya sebuah kenangan, yang menjadi sejarah yang tak terlupakan. Namun, memberikan kita sebuah pembelajaran, lebih bijaksana, memahami identitas, menjelma ke dalam sebuah pengalaman.

         Bahkan sebuah negara maju mempunyai sejarah dan hal itu berkreasi dalam sebuah pertunjukan. Saat itu 13 September, Paris di kawasan Monument “Phanteon” hingga ke taman “Luxembourgˮ dikerumuni oleh orang-orang di tepi jalan menyaksikan peristiwa masa lalu Prancis.

Sejarah yang penuh dengan drama politik besar hingga perubahan sosial yang mengubah dunia memberi pengetahuan tentang fakta dan peristiwa. Sejarah ini dirangkai dan ditampilkan dalam bentuk sebuah pawai atau parade kostum mode dan fashion di masa lampau.

Selain itu, acara ini juga ada pameran yang menampilkan keterampilan, kerajinan seni yang artistik di zaman lalu, reka ulang sejarah yang melahirkan kembali sejarah seperti pandai besi, pakaian abad ke lima belas hingga abad ke dua puluh, ilusi, rahasia pembangunan jaman dulu dan restorasi naskah. Semua tentang Prancis di waktu tertentu yang sudah lewat. Bisa dibilang, inilah waktunya Prancis di jaman yang lalu.

Paris kembali ke masa lalu dengan nuansa kota tempo dulu. Aku hadir di tengah kerumunan di tepi jalan tepat di depan gedung phanteon, melihat penonton antusias menunggu parade berlangsung di jalanan tersebut.

Kostum-kostum yang digunakan sesuai dengan zaman dan memerankan tokoh hingga memberi sentuhan keajaiban akan masa lalu hingga menghipnotis hati pengunjung seakan-akan larut dalam suasana masa itu. Dan juga memberikan petualangan lintas waktu tentang Prancis.

Adegan-adegan yang menampilkan bangsa viking berhadapan dengan santa pelindung kota ( Genevieve ), Louis IX dan XIV, Napoleon, Joshepine Barker, Garda Republik seakan mereka hidup kembali di jaman sekarang. Ada juga Philip Augustus, Jenderal leclerc, hingga D-Artagnan yang semua itu tokoh-tokoh besar yang membentuk sejarah Paris hadir bersama dalam pawai ini.  

Acara ini sangat luar biasa, dengan nuansa khas Paris yang memikat serta masa lalu yang bercerita tentang identitas negara Prancis. Hidup Paris, hidup Prancis beserta sejarah dan tradisinya. Aku pun kembali pulang dengan membawa pengetahuan dalam karya lukisan cahaya tentang Prancis di masa lampau.