Tamu Cruise Ajigijaw

Kisah kali ini adalah catatan perjalanan mengguide tamu yang berwisata menggunakan kapal Cruise atau kapal pesiar, yang berlabuh di pelabuhan kota Le Havre, Prancis.

Aku yang seorang guide dikontak partner untuk menemani mereka berwisata mengunjungi kota yang berdekatan dengan kota Le Havre di wilayah Normandy, Prancis Barat.

         Partner kami ‘Cruise Centre’ yang beralamat di Jakarta. Setelah deal dan negosiasi, kerjasama pun dimulai. D-day atau hari-H pelaksanaan tepat dua hari setelah club sepakbola PSG merayakan victory atau kemenangan kedua piala champion 2026 yang ternodai sedikit rusuh oleh fans fanatik mereka di Paris. Kapal penumpang mewah itu bernama Princes Cruise, yang datang dari kota Edinburgh, Skotlandia.

Adapun program list kapal pesiar ‘12 Night British Isles with France Belfast’ dengan menyinggahi beberapa kota antara lain ; Sothampton, Falmouth, Cork, Dublin, Liverpool, Belfast, Greennock, Invergordon, Edinburgh, dan Le Havre. Para tamu terbagi menjadi dua grup di hari yang sama.

Grup pertama berjumlah dua puluh orang, perjalanan wisata mereka mengunjungi dua kota, yaitunya Deauville dan Honfleur. Sedangkan grup kedua berjumlah tiga belas orang, perjalanan mereka mengunjungi tempat wisata Le mont-Saint-Michele.

Aku memutuskan menemani tamu untuk grup pertama, guide wisata ke kota Deauville dan Honfleur, sedangkan grup kedua ditemani guide team dari kami. Perjalanan wisata menggunakan transportasi bus yang telah disediakan oleh partner sendiri.

         Perjalananku mulai menuju kota Le Havre dari stasiun Paris-Saint-Lazare menggunakan kereta, karena aku berdomisili di kota Paris. Jarak tempuh perjalanan memakan waktu dua jam yang aku manfaatkan membunuh waktu dengan membaca ‘Dompet Ayah, Sepatu Ibu’ tulisan tangan si JS Khairen, sang AJIGIJAW yang saat ini sedang GEMPAR MENGGELEGAR.

Kisah yang menghanyutkan aku tenggelam dalam lautan emosi alam sadarku. Aku berangkat pagi-pagi sekali. Jadwal keberangkatan kereta Paris –Le Havre pukul 06.40 – 08.45 dikarenakan harus menjemput tamu pukul 9 tepat. Sesampainya di stasiun kereta Le Havre, aku meluncur ke terminal pelabuhan kapal pesiar menggunakan taksi kisaran memakan waktu tujuh menit, memang terlihat tidak jauh.

Saat tiba, aku langsung menemui supir bus wisata dan berkenalan, sang supir bernama Sylvain, orang Prancis. Setelah bertemu para tamu dan menuntun mereka menuju bus wisata, serta berkenalan dengan sang Tour Leader grup merangkap Direktur Cruise Centre yang bernama Bapak Johny, kemudian adventure pun dimulai.

         Perjalanan pertama menuju kota Deauville, sebuah kota resort tepi laut dengan ikon pantai pasirnya yang panjang dan luas. Memakan waktu perjalanan empat puluh lima menit dari Le Havre. Selama perjalanan di dalam bus, aku celoteh-celoteh menggunakan mikrophone kepada para tamu agar suasana terlihat akrab dan hangat.

Dalam perjalanan, bus kami melewati jembatan Normandy, menjadi ikon wilayah Normandy. Aku pun bercerita tentang wilayah Normandy ini, berawal bercerita kisah Jean D’arc yang merupakan pahlawan wanita dari Prancis. Lalu, menjelaskan daerah ini menjadi terkenal akibat perang dunia ke-dua saat Prancis dikuasai Jerman-Nazi, menyebabkan banyak film-film perang yang mengambil kisah dan cerita di wilayah sepanjang pantai di Normandy ini.

Aku bercerita tentang film perang ‘Saving Private Ryan’, merupakan ikonic war film, sebuah film perang yang kejadiannya berlangsung di Omaha beach.

Kemudian aku menyebutkan film-film perang lainnya seperti The Longest Day, Dunkerque, D-Day, yang kesemuanya itu bersetting di wilayah Normandy. Celoteh yang lain aku bercerita tentang seorang pendiri produk bermerk terkenal bernama Chanel.

         ‘Bapak-ibuk, apakah tahu parfum merk Chanel yang terkenal ?’, aku mengajukan pertanyaan kepada para tamu di dalam bus untuk mencairkan suasana.

         ‘Tahuuuuu ! Chanel nomor 5 !, jawab mereka.

         Dan aku pun menceritakan tentang story sang pendiri produk Chanel tersebut yang bernama Coco Chanel atau Gabriel Chanel, seorang wanita miskin di masa kecil mempunyai keberanian dan kebebasan yang didukung orang-orang seniman dan berpengaruh hingga sukses mendirikan produk elegan bermerk Chanel, diawali dengan karya topi, pakaian, tas hingga merk parfum terkenal.

Ternyata, di kota Deauville terdapat toko penjualan sang foundator ini yang sekarang menjadi monument sejarah, membuat para tamu penasaran datang mengunjungi untuk melihat dan mendokumentasikannya dalam sebuah photo sebagai kenang-kenangan mereka di kota ini.

Sebelumnya aku mengajak mereka berjalan-jalan melihat suasana pantai kota Deauville nan besar dan luas sambil melihat papan nama-nama artis berjejer yang pernah singgah berlibur di kota ini. Sayangnya, cuaca saat itu berangin dan kurang mendukung karena menghadapi masa pancaroba perubahan musim semi ke musim panas.

Aku bertopi merah sebagai Tour Guide

         Selanjutnya, selesei lunch time, pukul dua siang wisata kami berlanjut menuju kota Honfleur, sebuah kota pelabuhan kecil yang ikonik dengan bangunan kayu yang masih berdiri kokoh hingga saat sekarang ini.

         ‘Kota ini masih memiliki bangunan kuno dari kayu karena tidak banyak terkena bombardir saat dikuasai Nazi di World War II, berbeda dengan kota Le havre yang hangus dan rata dengan tanah akibat dijatuhi bom pasukan sekutu untuk mengusir tentara Jerman-Nazi dari Prancis’, coletah aku kepada tamu.

         ‘Adakah bapak-ibuk di sini yang menyukai seni lukis ?, tanyaku lagi.

         ‘Di sinilah sejarah awal terciptanya sebuah karya baru tentang seni lukis yang beraliran Impresionisme yang dipopulerkan oleh pelukis Prancis bernama Cloude Mone’, aku bersuara di ujung mikrophone.

         Aku pun menjelaskan apa itu tentang aliran seni lukis Impresionisme, hingga mereka menjadi tahu sedikit tentang seni lukis. Memang benar, orang Eropa sangat menghargai akan seni. Sesampainya di kota Honfleur, wisata pun berkeliling menyusuri kota tua nan kecil itu selama dua jam.

Akhirnya, pukul 17,00 wisata pun selesei dan tamu harus kembali menuju terminal pelabuhan menuju kapal pesiar Princes Cruise untuk melanjut perjalanan berlayar mereka ke kota-kota lainnya.

         Akhir catatan, aku kembali pulang menuju kota Paris menggunakan kereta pada pukul 20.09. Dalam perjalanan aku kembali Ajigijaw larut dalam dunia Dompet Ayah, Sepatu Ibu.

Saat kisah Asrul menyatakan suara cinta dalam kaset kepada cinta monyetnya hingga dia dan sang adik Irsal berjuang menunggu sang bapak kandung pemilik tiga istri di terminal padang panjang sambil menahan lapar, maka sampailah keretaku di stasiun Paris Saint-Lazare dan mengakhiri kisah catatan perjalanan mengguideku hari ini.

Sesampai aku di rumah, penatku terobati menerima kiriman pesan dari partner di ponselku yang berisi ucapan terima kasih atas service guide yang aku berikan pada hari ini. ‘Mereka puas !’, pesan yang kuterima via Whatsupp. Sekian kisahku…..     

avatar Tidak diketahui

Author: Indra Francdo

Saya hidup dan berdomisili di kota Paris, Prancis sebagai tour guide Independen sejak tahun 2017. Saya menyukai petualang, suka menulis dan membaca baik tentang sejarah maupun cerita-cerita novel ( mudah-mudahan menciptakan novel sendiri ).

Apa komentar anda ?

Eksplorasi konten lain dari Indra Francdo di Prancis

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca